Sukses

Pro-Kontra Reaktor Nuklir

Liputan6.com, Colorado: Kehadiran pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) hingga kini masih kontroversial. Banyak yang pro, tak sedikit pula yang kontra. Namun, penggunaan energi nuklir tetap dipandang sebagai salah satu alternatif untuk menggantikan pembangkit listrik berbahan bakar konvensional.

Saat baru muncul, PLTN dipandang sebagai jalan ke masa depan. Tenaga nuklir disebut-sebut menjanjikan pasokan energi berlimpah dan murah. Pada 1957, Amerika Serikat mulai membangun PLTN, Fort Saint Vrain. Pembangunan proyek ini dikenal sebagai pembangkit listrik komersial berbahan bakar nuklir pertama di negeri itu.

Setelah berjalan satu dekade, sejumlah masalah mulai muncul sehingga Fort Saint Vrain harus dinonaktifkan. Biasanya, penonaktifan instalasi nuklir tak terbatas pada penghentian kegiatan operasi saja. Tapi juga menghilangkan ancaman bahaya radioaktif. Usaha itu jauh lebih sulit dibanding pembangunan PLTN.

Hal itu dilakukan dengan membuka selubung beton. Kemudian untuk meredam radiasi, reaktor harus direndam dengan air. Sambil menggunakan pakaian selam, para pekerja menyelam ke dasar reaktor dan mulai melepas komponen-komponen reaktor. Berbagai material yang mengandung radioaktif itu lalu dipindahkan ke tempat penampungan sementara.

Tak dapat dipungkiri, dampak Tragedi Chernobyl, Ukraina (dulu negara bagian Uni Soviet), sekarang masih membekas. Dalam 20 tahun terakhir, para pakar terus berupaya menemukan solusi yang tepat untuk diterapkan pada instalasi nuklir Rusia yang mengalami kebocoran itu.

Kota-kota dan tanah ladang di sekitar Chernobyl kini masih terkontaminasi radiasi. Bahkan, reaktor inti Chernobyl juga masih ditutup dengan kubah besi. Penutupan dilakukan hingga ditemukan cara untuk membuang ratusan ton uranium dan plutonium yang masih ada di dalam reaktor.

Masalah serupa muncul pada fasilitas pembuatan senjata nuklir, seperti di pabrik senjata nuklir Rocky Flats, Colorado, AS. Pabrik militer yang terletak hanya 16 mil dari permukiman itu sedang dibersihkan. Tapi, proses itu diduga memakan waktu yang lama.

Sementara itu pembangkit listrik berbahan bakar konvensional memang mampu memproduksi listrik lebih besar. Namun, juga menyebarkan polusi yang membuat efek rumah kaca. Para pakar memperkirakan, suatu saat nanti dampak yang ditimbulkan polusi akan jauh lebih besar daripada bahaya limbah nuklir. Bahkan, bila itu terjadi, nuklir mungkin akan muncul kembali sebagai solusi teknologi yang ramah lingkungan.(MAK/Indrasto Indrajaya)
    Artikel Selanjutnya
    AS dan Rusia Beda Pendapat Soal Sanksi Kepada Korea Utara
    Artikel Selanjutnya
    Pasca-Uji Coba Nuklir Korut, Trump Setuju Jual Senjata ke Korsel