Sukses

Perubahan Cuaca Mendadak Mengancam Kehidupan di Bumi

Liputan6.com, Buenos Aires: Bersamaan dengan konvensi internasional mengenai pemanasan global di Buenos Aires, Argentina, para aktivis pencinta lingkungan berunjuk rasa, baru-baru ini. Demontrasi digagas organisasi lingkungan hidup terkemuka dunia Greenpeace, World Wildlife Fund, dan sejumlah organisasi pecinta lingkungan lainnya. Unjuk rasa digelar untuk menyadarkan masyarakat dunia tentang ancaman serius efek rumah kaca terhadap bumi. Dalam aksinya, mereka berjalan kaki sejauh sepuluh kilometer yang berangkat dari Gedung Konvensi Iklim menuju kawasan wisata Puerto Madero.

Sementara konvensi internasional mengenai pemanasan global didominasi pembahasan tentang laporan baru mengenai kerusakan ekologi akibat efek rumah kaca, Sabtu silam. Pekan depan, peserta konferensi akan bersidang untuk meluncurkan Protokol Kyoto. Kesepakatan yang mulai efektif diberlakukan Februari mendatang, mewajibkan negara-negara industri mengurangi emisi gas buang dari pabrik-pabrik, kendaraan, dan pembangkit listrik batu bara. Sebab, gas itu diyakini berdampak pada memanasnya suhu di atmosfir [baca: AS Menolak Protokol Kyoto].

Menyikapi hal ini, para pakar mengingatkan Amerika Latin akan terkena dampak efek rumah kaca. Meski hanya menyumbang 4,3 persen emisi gas rumah kaca dunia, wilayah di sana sudah menunjukkan tanda-tanda perubahan cuaca yang tidak normal. Contohnya banjir dan kekeringan di Amerika bagian tengah dan Selatan.

Salah satu bukti nyata dampak pemanasan global adalah seperti yang dialami Desa Satava, Orissa, India, yang tenggelam belum lama berselang. Daerah yang semula merupakan kawasan pertanian subur, sebagian besar daratannya berubah menjadi lautan. Pompa air yang menjadi sumber utama air bersih juga tenggelam [baca: Pemanasan Global Menenggelamkan Desa Satava di India].(AIS/Rcm)
    Artikel Selanjutnya
    Manfaat Panas Bumi untuk Mengatur Suhu Ruangan
    Artikel Selanjutnya
    Australia Bersiap Hadapi Musim Dingin 'Terganas'