Sukses

Kisah Pilu Wanita yang Dipaksa Nikah Usia 10 Tahun

Menikah pada usia muda sama sekali tak pernah dibayangkan oleh perempuan bernama Alemtsahye Gebrekidan. Bayangkan, pada usianya yang baru berumur 10 tahun, ia dipaksa menikah oleh orangtuanya dengan anak laki-laki berusia 16 tahun dari desanya di Provinsi Tigris, Ethiopia Utara, Afrika.

"Ibuku bilang kamu harus menikah. Aku terkejut dan langsung menangis, tetapi aku tidak memberi tahu orangtuaku," ungkap Ameltsahye mengenang masa kecilnya, seperti dikutip Liputan6.com dari Daily Mail, Rabu (22/1/2014). Kini Ameltshaye berusia 38 tahun.

Kala itu, Ameltsahye sedang bermain bersama teman-temannya. Kemudian sang ibu memanggil dan mengatakan bahwa dirinya segera menikah. Bak disambar petir siang bolong, Ameltsahye pun langsung sedih bukan main.

Masa kecil Ameltsahye yang membahagiakan pun hancur. Alemtsahye kecil yang awalnya menghabiskan waktu untuk bermain bersama teman-teman. Setelah menikah, ia harus meninggalkan rumah orangtuanya, berhenti sekolah dan mulai menjalani hidup sebagai seorang istri. Setiap hari, ia harus mengambil air, mengumpulkan kayu, dan memasak untuk suaminya.

"Letak sumber airnya sangat jauh dari rumah. Aku harus berjalan jauh, lalu kembali ke rumah. Kemudian aku memasak untuk suamiku," urainya.

Sekitar 3 tahun kemudian, Alemtsahye yang masih bocah melahirkan anak laki-laki. Ia mengingat saat-saat kehamilan dan melahirkan sebagai saat yang paling menyakitkan. Hal itu diperburuk dengan kondisi fisiknya yang tak kuat membawa beban si jabang bayi.

"Saat aku hamil, itu sangat menyakitkan dan aku menangis. Saat melahirkan pun begitu menyakitkan karena aku juga masih anak-anak," tutur Alemtsahye yang sewaktu melahirkan berusia 13 tahun.

Menjadi seorang ibu pada usia yang begitu muda ternyata lebih sulit dibanding saat mengandung. Begitulah setidaknya menurut Alemtsahye. Apalagi suaminya yang saat itu berusia 19 tahun, dipaksa ikut berperang bersama para pemberontak Ethiopia untuk melawan kediktatoran pemimpin Ethiopia kala itu, Mengistu Haile Mariam. Nahasnya, sang suami tewas.

"Aku menjadi seorang janda pada usia 13 tahun. Dia meninggalkanku untuk berperang dengan anak yang baru berusia 1 tahun. Itu sangat berat. Sangat sulit untukku ditinggal sendiri dengan seorang anak, padahal aku juga masih anak-anak," keluhnya.

Hidup hanya berdua dengan putranya yang masih kecil, membuat Alemtsahye rapuh. Ia terjerat 'jaring' para pelaku perdagangan manusia. Ia diiming-imingi dengan kehidupan di luar negeri yang jauh lebih baik. Tak memakan waktu lama, Alemtsahye pun segera menitipkan anaknya, Tefsalen kepada orangtuanya untuk pergi ke Mesir.

Alih-alih mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, Alemtsahye malah dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Malah, gajinya tak dibayar selama 2 bulan.

Setelah merasakan sulitnya hidup bekerja sebagai PRT, Alemtsahye pun berniat melakukan pekerjaan lainnya. Ternyata di Mesir banyak aksi perdagangan manusia. Ia pun kembali tergiur dengan tawaran untuk memulai hidup baru dengan bekerja di Inggris.

"Mereka bilang 'kamu akan bekerja dengan kami di Inggris', tetapi mereka malah meninggalkanku," cerita Alemtsahye sembari mengingat dirinya diajak orang Arab ke Inggris ketika itu.

Sesampainya di London, Alemtsahye kebingungan. Ia tak mengenal siapapun di negeri itu. Namun akhirnya ia diangkat oleh sebuah keluarga yang baik hati. Semenjak itu, janda muda berusia 16 tahun itu menjadi pencari suaka. Ia lalu kembali bersekolah dan belajar bahasa Inggris.

Sekarang, pada usianya yang ke-38 tahun, Alemtsahye tinggal di London dan bekerja di sebuah badan amal Girls Not Brides. Sebuah lembaga yang bertujuan membantu janda-janda muda dari Ehiopia seperti dirinya.

Meski sudah hidup lebih baik, Alemtsahye mengaku masih menyimpan luka mendalam atas perlakuan kedua orangtuanya. Ia menganggap orangtuanya telah menghancurkan hidupnya.

Berbekal pengalaman pahit itu, Alemtsahye pun menasihati anaknya yang sekarang berusia 25 tahun agar tak jatuh di lubang yang sama dengan dirinya. Wanita itu sesekali ke kampung halamannya, Addis Ababa, Ethiopia, untuk menemui putranya yang tinggal bersama kakek dan neneknya.

"Aku bilang padanya 'jangan pernah berpikir untuk menikah muda'. Aku ingin anakku menjadi orang yang berpendidikan. Aku juga bilang 'lihatlah aku, ibumu, lihatlah segala hal yang menghancurkanku'. Sekarang dia bekerja sebagai tukang kayu. Aku sangat bangga padanya," tuturnya.

"Aku sedang berpikir bagaimana cara membawanya untuk hidup denganku (di London), tapi aku tidak bisa mengajaknya. Karena dia sudah berumur 20-an. Aku telah mencobanya 2013 lalu, dan mereka (orangtuaku) tak memperbolehkannya," tutur Alemtsahye.

Rasa khawatir atas perkawinan dini yang bisa menimpa sang putra juga sempat mengganggu pikiran Alemtsahye. Namun jika itu terjadi, dia akan melakukan segala cara untuk menghentikan pernikahan itu.

Meski tak senang dinikahkan, Alemtsahye mengaku sedih kehilangan suaminya. "Aku sedih karena dia tak bisa menikmati hidup. Hidupnya hanya sebentar, berakhir di medan perang. Aku menangis setiap kali melihat putraku," ucap Alemtsahye.

Berdasarkan data World Health Organisation (WHO), setiap tahun, ada 14,2 juta anak perempuan di bawah 15 tahun yang dipaksa menikah. Kebanyakan dari mereka berasal dari India, Timur Tengah, Nigeria, Chad, Republik Afrika Tengah.

Akibat yang ditimbulkan dari pernikahan tersebut sangatlah buruk. Tak hanya kehilangan pendidikan dan masa kecil, anak-anak perempuan juga mengalami trauma dan terancam menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Kesempatan mereka untuk berkarir dan memiliki kehidupan yang lebih baik pun terenggut.

Yang lebih buruk, banyak dari anak-anak berusia di antara 15-19 tahun meninggal saat melahirkan atau akibat dari komplikasi yang diderita saat hamil.

"Pernikahan bagi anak adalah pelanggaran berat hak asasi manusia. Itu juga merampas pendidikan, kesehatan, dan masa depan para gadis," ujar Babatunde Osotimehin, Direktur Eksekutif United Nation Population Fund (UNFPA). (Ega/Tnt)


Baca juga:

Janda Bung Karno Dilaporkan ke Polisi Karena Dituduh Menampar
Kabar Gadis 8 Tahun Tewas saat Malam Pertama Hoax?
Hebat! Mahasiswa China Rawat Ayah Lumpuh Sembari Kuliah

Artikel Selanjutnya
Ribuan Orang Hadiri Pemakaman Mahasiswa AS Eks Tahanan Korut
Artikel Selanjutnya
Nikmatnya Berhijab dan Berpuasa Ramadan di Amerika Serikat