Sukses

Pemanasan Global Lebih Bahaya dari Terorisme

Liputan6.com, Toronto: Cuaca panas, hujan, angin, dan badai, yang terjadi di Tanah Air merupakan bagian dari perubahan peta iklim di muka bumi. Perubahan ini menyebabkan batas waktu pergantian musim telah bergeser baik di wilayah empat musim maupun negara tropis. Dalam satu abad terakhir suhu udara di permukaan bumi meningkat satu derajat Fahrenheit atau bertambah sekitar 0,03 derajat Celcius. Kondisi iklim itu mendorong Menteri Lingkungan Hidup Kanada David Anderson di Toronto, baru-baru ini, menyatakan, pemanasan global lebih berbahaya daripada terorisme.

Dampak peningkatan suhu terlihat di berbagai wilayah. Hawa dingin dari Kutub Utara berembus ke arah selatan menerpa Amerika Utara dan Eropa [baca: Hawa Beku di AS Menewaskan Enam Warga]. Musim dingin dari tahun ke tahun semakin tidak nyaman. Bahkan menyengsarakan. Pada musim dingin kali ini, suhu udara di berbagai wilayah Kanada dan Amerika Serikat turun sampai minus 30 derajat Celcius. Korban pun berjatuhan.

Beberapa bulan sebelumnya, gelombang udara panas melanda Eropa [baca: Puluhan Warga Prancis Tewas Akibat Gelombang Panas]. Puluhan korban tewas akibat dehidrasi dan berbagai penyakit dalam suhu udara yang terlalu tinggi. Ada bukti baru dan kuat, pemanasan global dalam lebih dari lima dasawarsa silam diakibatkan ulah manusia. Pemanasan global mengubah komposisi kimia atmosfer melalui penumpukan gas karbondioksida, metan, dan oksida nitrat, sehingga timbul efek rumah kaca.

Akibat selanjutnya, luas lapisan salju di Kutub Utara dan Kutub Selatan berkurang dan permukaan air laut meningkat. Dalam satu abad terakhir, permukaan air laut di muka bumi meningkat 10 sampai 20 sentimeter. Curah hujan pun semakin tinggi. Akibatnya hujan deras kian sering terjadi dan muncullah banjir seperti yang sedang terjadi di Inggris [baca: Inggris Memberlakukan Waspada Banjir].

Sementara di belahan selatan, beberapa bulan yang lalu Australia dilanda banjir [baca: Kota Melbourne Dilanda Banjir]. Bencana itu disebut-sebut sebagai banjir terbesar di Benua Kanguru dalam abad ini.(ZAQ/Nlg)
    Artikel Selanjutnya
    Konflik Korut dan AS Belum Ganggu Ekonomi RI
    Artikel Selanjutnya
    Upaya Negara Maju Menanggulangi Krisis Ekonomi Mulai Berhasil