Sukses

Status Perang Lawan Korsel, Korut Kembali Hidupkan Reaktor Nuklir

Situasi di Semenanjung Korea semakin memanas. Setelah mengumumkan status perang melawan Korea Selatan (Korsel), Korea Utara (Korut) akan menghidupkan kembali reaktor nuklir di Kompleks Yongbyon.

Menurut laman RIA Novosti, Selasa (2/4/2013), yang mengutip Juru Bicara Jenderal Departemen Energi Atom Korut dari kantor berita KNCA, negara pimpinan Kim Jong-un itu tidak akan menunda-nunda rencana ini. Korut bahkan juga akan meningkatkan kualitas dan jumlah senjata nuklirnya.

Keputusan ini diambil setelah Kim Jong-un menyatakan pengembangan senjata nuklir negaranya menjadi prioritas utama. Putra Kim Jong-il itu beralasan, penguatan senjata nuklir diperlukan untuk menjaga perdamaian yang rapuh di Semenanjung Korea.

Reaktor di Yongbyon menjadi penyuplai plutonium untuk program senjata nuklir Korut. Namun, reaktor itu telah ditutup pada Juli 2007, sebagai bagian dari kesepakatan pelucutan senjata internasional.

Para analis menduga, reaktor tersebut bisa menghasilkan 7 kilogram plutonium per tahun. Dengan kemampuan itu, Korut diprediksi bisa menciptakan sebuah bom atom setiap 12 bulan.

Tensi di Semenanjung Korea mulai meningkat setelah penjatuhan sanksi internasional terhadap Korut yang melakukan uji coba peluncuran rudal antar-benua pada Desember 2012. Korut merespons sanksi itu dengan melakukan uji coba nuklir pada Februari. Tindakan bandel Korut ini menambah sanksi dari dunia internasional yang dipelopori Amerika Serikat (AS).

Korut kemudian mengancam akan menyerang AS dengan rudal nuklirnya pada bulan lalu. Ancaman ini dikeluarkan karena angkatan perang AS dan Korsel  melakukan latihan bersama, termasuk di dekat perbatasan laut kedua Korea. AS merespons ancaman itu dengan menirimkan jet tempur F-22 Raptor ke Semenanjung Korea. (Eks)