Sukses

Operasi Pengecilan Payudara Tren di Kalangan Pria Berdada Besar

Liputan6.com, Melbourne - Selama ini payudara memang identik dengan perempuan. Salah satu hal yang sering dibahas dari bagian tubuh yang terbentuk dari lemak dan jaringan ikat itu adalah soal ukurannya.

Namun, persoalan ukuran payudara tak melulu soal perempuan. Kaum Adam yang berpayudara besar tak jarang menjadi tidak percaya diri dan jadi sasaran cemooh.

Dalam dunia medis, kondisi payudara laki-laki yang berukuran besar disebut gynescomastia. Hal tersebut disebabkan kelainan hormon estrogen dan testosteron, sehingga jaringannya tumbuh secara berlebihan.

Untuk menambah rasa percaya diri, sejumlah penderita gynescomastia ada yang menjalani pengecilan payudara. Namun, akhir-akhir ini prosedur itu pun marak dilakukan.

Dikutip dari News.com.au, Kamis (15/2/2018), pengecilan payudara dapat dilakukan dengan prosedur sedot lemak atau pengirisan pada kulit, tergantung pada pasien.

Ahli dermatologis Melbourne, Dr Daniel Lanzer, pernah melakukan prosedur pengecilan payudara hingga lima kali dalam sehari di kliniknya. Total, ia menjalani 700 prosedur sepanjang 2017.

"Orang-orang tak meyakini bagaimana prosedur itu menjadi hal umum sekarang," kata Dr Lanzer.

"Saya melakukan berbagai prosedur dan pengecilan payudara laki-laki menjadi prosedur paling populer yang saya tangani," ucap dia.

 

1 dari 2 halaman

Kepercayaan Diri Meningkat Drastis

Lanzer melakukan prosedur itu kepada laki-laki dari berbagai kalangan umur. Ia mengatakan, pasiennya mengaku tidak percaya diri dengan kondisi mereka.

"Mereka sering diolok-olok oleh teman-temannya. Mereka malu membuka kemejanya. Saya memiliki pasien yang tak pernah membuka kemejanya di depan umum selama 35 tahun," ujar Lanzer.

"Beberapa dari mereka ada yang tidak pernah berkunjung ke pantai selama bertahun-tahun. Mereka adalah pekerja Australia biasa, polisi, guru, bankir, dan salesman," ucap dia.

Lanzer mengatakan, ia melihat perubahan besar pada rasa percaya diri pasiennya setelah menjalani prosedur yang memakan biaya sekitar 4.500 dolar Australia atau Rp 45 juta itu.

"Mereka semua berpikir mengapa harus menunggu lama untuk menjalani prosedur ini dan kualitas hidup mereka meningkat secara drastis," ujar Lanzer.

Meski demikian, Lanzer memeringatkan bahwa prosedur tersebut juga memiliki risiko.

"Meski ada banyak terobosan dalam prosedur semacam ini, saya memeringatkan para pria bahwa semua operasi memiliki risiko dan merupakan ide bagus untuk mencari pendapat kedua dari seorang spesialis," kata Lanzer.

Artikel Selanjutnya
Memutihkan Vagina Mulai Populer, Biayanya Rp 13 juta
Artikel Selanjutnya
Apa yang Terjadi pada Vagina Bila Wanita Berhenti Bercinta?