Sukses

15-2-1950: Uni Soviet dan China Teken Kerja Sama Pertahanan

Liputan6.com, Moskow - Uni Soviet dan Republik Rakyat China, dua negara berpaham komunis terbesar di dunia, mengumumkan penandatanganan kerjasama pertahanan dan beberapa isu strategis lainnya pada 15 Februari 1950.

Mengutip dari laman History pada Rabu (13/2/2018), negosiasi di antara kedua negara dilakukan di kota Moskow sejak awal Februari. Negosiasi tersebut dihadiri oleh duet pemimpin China kala itu, Mao Tse Dong dan Zhou En-Lai, bersama pemimpin Uni Soviet Joseph Stalin, yang ditemani oleh Menteri Luar Negeri Andrei Vishinsky.

Salah satu poin utama kerjasama tersebut adalah pemberian kucuran dana bantuan dari Rusia kepada China senilai lebih dari Rp 4 triliun.

Sebagai imbal balik, Rusia meminta China memberikan konsensi khusus untuk kembali membangun jaringan rel kereta api di kawasan Manchuria, yakni menghubungkan antara kota Dairen dan kota Port Arhur di pesisir Selat Bering, demikian dalam Today In History.

Selebihnya, kesepakatan di antara kedua negara itu adalah penguatan kerja sama pertahanan, guna bersiap menghadapi kemungkinan agresi Jepang di kemudian hari. Kala itu, Rusia dan China masih belum yakin bahwa Jepang benar-benar menyingkir keluar dari pusaran perang global.

Zhou En-Lai bahkan sesumbar menyebut gabungan kekuatan militer Uni Soviet dan China akan mustahil dikalahkan oleh kekuatan besar lainnya di dunia.

 

Simak video menarik tentang seorang mahasiswa tertua berusia 90 tahun di Rusia berikut: 

1 dari 2 halaman

Hubungan Tidak Lagi Harmonis

Sementara itu, Amerika Serikat (AS) melihat kerjasama di atas sebagai bukti nyata bahwa komunisme adalah sebuah gerakan monolitis, di mana dikendalikan langsung dari pusat pemerintahan Kremlin di Moskow.

Sebuah artikel yang pernah dimuat di surat kabar New York Times, menyebut China sebagai ‘satelit’ bagi pemerintah Uni Soviet.

Mesk begitu, nota kesepahaman kedua negara tidaklah benar-benaer konkret dalam pelaksanaannya. Menjelang akhir dekade 1950-an, muncul beberapa keretakan yang menghinggapi hubungan kerjasama antara Uni Soviet dan China.

Secara terbuka, China menuduh Uni Soviet menyalahi prinsip Marxisme-Leninisme, yakni ketika sedikit melunak dan mau berkompromi dengan beberapa negara kapitalis di Barat.

Pada awal 1960-an, Ketua Mao menyampaikan tudingan langsung kepada Uni Soviet, yang disebutnya,  telah lama bersekutu secara diam-diam dengan AS untuk melawan revolusi rakyat pemerintah China.

Artikel Selanjutnya
Jokowi: ASEAN-India Bakal Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Regional
Artikel Selanjutnya
Bertemu PM India, Jokowi Bahas Bea Masuk CPO Hingga Kemaritiman