Sukses

Drone Buatan China Ini Bisa Menggendong Penumpang

Liputan6.com, Guangzhou - Impian untuk mengendarai mobil terbang tidak lagi berupa angan-angan, karena sebuah perusahaan manufaktur di China berhasil mewujudkannya dalam bentuk drone berpenumpang.

Dilansir dari laman CNN pada Jumat (9/2/2018), drone berpenumpang itu diberi nama Ehang 184, dan rencananya akan difungsikan sebagai angkutan komersial.

Uji coba menggunakan kendaraan terbang tersebut telah berhasil dilakukan belum lama ini di Kota Guangzhou, dan disebut sebagai kendaraan terbang berbasis drone pertama yang mampu mencapai kecepatan laju maksimal hingga 128 kilometer per jam.

Penumpang uji coba tersebut tidak lain adalah CEO perusahaan terkait, Hu Huazhi, yang merekamnya dalam sebuah video yang telah ditonton ribuan kali di media sosial berbasis video.

Dalam video itu, Huazhi menunjukkan cara kerja kendaraan drone yang sekilas mirip dengan helikopter.

Jika helikopter terbang dengan mengandalkan baling-baling utama di bagian atap, Ehang 184 justru mengandalkan delapan baling-baling yang terpasang di delapan kakinya.

Sumber tenaga Ehang 184 berasal dari aliran listrik, bukan dari bahan bakar minyak seperti kendaraan terbang pada umumnya. Sumber daya listriknya didapat dari pengisian daya yang kemudian disimpan di dalam baterai kering khusus.

Dengan kondisi baterai penuh, drone berpenumpang itu mampu dilajukan hingga jarak tempuh 15 kilometer, dan total waktu terbang selama 25 menit.

Menariknya, pengisian penuh daya baterai pada kendaraan terbang ini dilakukan kurang dari dua jam, sehingga dapat memobilisasi penumpang secara lebih efisien.

 

 

Simak video menarik tentang lomba menerbangkan drone menggunakan otak berikut: 

 

1 dari 2 halaman

Janji sebagai Opsi Kendaraan Masa Depan

Beberapa orang yang menyaksikan langsung uji coba Ehang 184 mengatakan bahwa kendaraan terbang tersebut masih terlihat ringkih untuk dijadikan sarana transportasi. Banyak dari para saksi meminta produsen mendesain ulang tingkat keselamatan berkendara armada terbang tersebut.

"Kendaraan (berbasis drone) itu sempat terlihat oleng oleh terpaan angin," tutur salah seorang saksi.

Huazhi menanggapi kritik tersebut dengan janji akan membuatnya lebih stabil pada pengembangan selanjutnya. Ia menyebut bahwa uji coba terbaru itu telah melalui trial and error selama ratusan kali.

"Kami bekerja keras melakukan uji coba di beragam aspek, demi menjamin keselamatan ketika mengendarainya," jeas Huazhi seraya menyebut tengah mengupayakan kesepakatan regulasi dengan aturan aviasi global.

Drone telah menjadi fenomena besar di ranah aviasi sejak satu dekade terakhir, di mana penggunaannya kian meluas bukan hanya pada kebutuhan pencitraan visual, melainkan juga pada berbagai hal strategis, termasuk transportasi.

Ehang 184 sendiri telah mendapat kontrak dengan operator transportasi udara Volocopter untuk menghadirkan kendaraan tersebut di Dubai pada 2020 mendatang.

Artikel Selanjutnya
Perkuat Amunisi, Rusia Miliki Proyektil Seberat 370 Kg
Artikel Selanjutnya
Top3: Tenaga Dalam Emak-Emak dan Aksesori Kekinian