Sukses

Burung Paling Kesepian di Dunia Mati di Tengah Patung Tiruannya

Liputan6.com, Mana Island - Burung Gannet yang sangat terkenal, satu-satunya dari jenisnya yang tinggal di sebuah pulau di lepas pantai Selandia Baru, telah ditemukan mati dikelilingi oleh replika burung yang hewan itu kira adalah teman dan keluarganya.

Nigel "no mates" atau "si jomblo" -- demikian dia dijuluki-- menjalani hidup sendirian di tepi tebing yang sepi di Pulau Mana yang hampir tak berpenghuni. Burung itu tinggal bersama dengan 80 replika tiruannya.

Dikutip dari The Independent pada Minggu (4/2/2018), tubuh Nigel ditemukan bersama replika patung burung gannet. Seorang ahli konservasi memperkirakan, cara dia meringkuk mati, patung itu ia anggap sebagai kekasihnya.

Nigel pernah mencoba merayu replika itu pada tahun 2013. Ia membangun sarang dari rumput laut, lumpur dan ranting untuk burung itu.

Nigel si jomblo dipancing ke pulau lima tahun yang lalu oleh petugas satwa liar, yang pertama kali menempatkan replika beton di sisi tebing pada bulan Desember 1997, menyiarkan panggilan mereka melalui pengeras suara dengan harapan bisa membangun koloni baru.

Dia adalah burung gannet pertama yang tinggal di Pulau Mana dalam 40 tahun terakhir, dan para pemerhati lingkungan berharap akan ada banyak lagi gannet. Namun tidak ada yang mengikuti si Nigel dan dia pun diberi julukan oleh para fansnya sebagai burung paling kesepian di dunia.

Dalam sebuah putaran nasib yang kejam, tiga gannet baru terlihat di pulau itu tahun lalu pada malam Natal, menandai 20 tahun sejak koloni beton itu pertama kali didirikan. Diperkirakan Nigel akhirnya memiliki teman sejati.

Namun, ternyata nasib berkata lain Nigel harus mati dalam kesendirian, ditemani patung burung gennet. Bahkan, ia belum berkenalan dengan burung baru itu.

"Beberapa berita menyedihkan dari pulau ini ... Nigel gannet pertama kami telah mati tiba-tiba," tulis sebuah akun Facebook, the Friends of Mana Island. Akun itu kerap mem-posting kisah Nigel di dunia maya.

"Nigel memenangkan hati anggota Friends of Mana Island dan pengunjung ke pulau itu, ia menetap di sana sendirian."

"Padahal, ada harapan baru ketika ada tiga pendatang baru tiba untuk tinggal dan bereproduksi. Tapi ternyata tidak."

Pulau itu sendiri merupakan lokasi ilmiah dan proyek restorasi, dengan burung-burung laut, termasuk burung gannet, memainkan peran penting dalam ekosistem. Kotoran mereka menyediakan nutrisi yang kaya dan liang mereka menciptakan rumah bagi satwa liar lainnya.

 

 

1 dari 2 halaman

Akhir yang Menyedihkan... 

Jasad Nigel ditemukan oleh Chris Bell, seorang ranger dari Departemen Konservasi Selandia Baru, yang juga tinggal di pulau itu sendirian.

Dia mengatakan kepada situs berita New Zealand Stuff bahwa sangat menyedihkan kehilangan jantan gannet ketika tiga burung baru mulai bergabung dengan koloni tersebut.

"Ini sepertinya akhir cerita yang salah. Dia meninggal tepat pada awal sesuatu yang hebat, "katanya.

"Saya jelas merasa sedih. Melihatnya duduk di sana tahun demi tahun dengan pasangan betonnya. Bukan begini cerita berakhir," ucap Bell.

"Rasanya menyenangkan jika dia bisa bertahan beberapa tahun lagi untuk menemukan pasangan dan berkembang biak."

Kelompok The Friends of Mana Island mem-posting sebuah puisi untuk Nigel, dengan kalimat:

"We weeded, we painted, we sprayed guano around, we hoped you’d find the real thing.

“Three newbies arrived, a Christmas surprise, but suddenly you are gone."

Atau dengan kata lain,

"Kami telah membuat patung sepertimu, dengan harapan kamu menemukan pasangan sejati."

"Tiga pendatang baru tiba, sebuah kejutan natal, tapi tiba-tiba kamu pergi."

Tubuh Nigel kini telah dikirim ke Universitas Massey untuk menentukan penyebab kematian.

Tidak diketahui di mana dia akan diistirahatkan tapi seorang penggemar menyarankan pada kelompok Friends of Mana Island agar Nigel dikremasi dan abunya disimpan dalam sebuah patung burung gennet yang dibuat mirip seperti dia.

Artikel Selanjutnya
Demam Kuning Serang Hewan, Sao Paulo Tutup Kebun Binatang
Artikel Selanjutnya
Batu di Tepi Pantai Ini Menangis di Malam Hari, Kok Bisa?