Sukses

Ini 4 Bencana Dahsyat yang Dikaitkan dengan Supermoon

Liputan6.com, Jakarta - Seorang yang mengaku peneliti asal Belanda, Frank Hoogerbeets mengeluarkan ramalan yang mengaitkan fenomena supermoon yang terjadi pada 31 Januari 2018 dengan potensi gempa.

Ia memperingatkan bahwa antara tanggal 30 Januari hingga 2 Februari 2018, fenomena supermoon, akan diikuti oleh fenomena alam yang disebutnya sebagai 'amplifikasi' berupa gerak seismik.

"Fenomena Bulan bulat sempurna tidak hanya memicu peningkatan aktivitas seismik, namun juga memicu 'amplifikasi' yang berisiko terhadap peningkatan gerak seismik berkali-kali lipat dari biasanya. Hitung-hitungan saya memperkirakan, akan terjadi gempa berkekuatan antara 6 hingga 7 skala Richter, antara tanggal 30 Januari hingga 2 Februari," ujar Hoogerbeets seperti dikutip dari situs Inggris, Express, Senin (29/1/2017).

Kaitan supermoon dengan gempa sudah lama ditepis para ilmuwan, termasuk dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

"Supermoon adalah situasi di mana Bulan mengorbit sedikit lebih dekat ke Bumi daripada biasanya. Efeknya paling terlihat saat terjadi bersamaan dengan Bulan purnama," kata ilmuwan Goddard Space Flight Center NASA seperti dikutip dari situs sains Space.com.

Ia menambahkan, efek supermoon terhadap Bumi relatif kecil. Dan, menurut hasil penelitian rinci oleh ahli kegempaan dan ahli vulkanologi, supermoon tak memengaruhi keseimbangan energi di dalam Bumi.

Garvin menyebut, kekuatan internal Bumi lebih dahsyat daripada yang dipicu faktor luar.

"Bumi menyimpan sejumlah besar energi internal di dalam kulit terluar atau keraknya. Perbedaan kecil pada kekuatan pasang surut yang dipicu Bulan (atau Matahari) tak bisa mengatasi kekuatan jauh lebih besar di dalam planet ini."

Meski demikian, data menyebutkan, waktu kejadian sejumlah bencana alam dahsyat, khususnya gempa, kebetulan berdekatan dengan supermoon.

Seperti dikutip dari sejumlah sumber, berikut 4 gempa dahsyat yang kejadiannya berdekatan dengan supermoon:

1 dari 5 halaman

1. Gempa dan Tsunami Aceh

Gempa 9,1 skala Richter melanda Aceh pada 26 Desember 2004. Setelahnya, gelombang tsunami menerjang.

Dari Aceh, gelombang gergasi lantas memantul ke 12 pantai di pesisir Samudera Hindia. Korban-korban berjatuhan di Indonesia, Thailand, Sri Lanka, India, Maladewa, Thailand, Myanmar, Malaysia, Somalia, Tanzania, Seychelles, Bangladesh, dan Kenya. Total 230 ribu nyawa terenggut.

Sejumlah pihak mengaitkan Tsunami Aceh dengan supermoon yang terjadi 2 pekan setelahnya, pada 10 Januari 2005.

Namun, sejumlah ilmuwan meragukan klaim tersebut. Seperti dikutip dari situs PRI, ahli geologi dari Middlebury College, Dr Ray Coish mengatakanm efek Bulan yang hanya hitungan menit tak ada apa-apanya dibandingkan energi yang diperlukan untuk mengerakkan lempeng Bumi.

Gempa dan tsunami Aceh dipicu pergerakan lempeng Hindia yang disubduksi oleh lempeng Burma pada kedalaman 30 kilometer.

Efek pasang surut yang disebabkan Bulan tak mungkin memicu gelompang gergasi dan menggerakkan Bumi dengan sebegitu dahsyatnya.

2 dari 5 halaman

2. Tsunami Jepang 2011

Gempa 9 SR yang mengguncang Jepang, yang disusul terjangan gelombang raksasa, terjadi pada 11 Maret 2011 atau 8 hari sebelum supermoon 19 Maret 2011.

Namun, seperti dikutip dari situs sains LiveScience, ilmuwan Badan Survei Geologi Amerika Serikat atau USGS, John Bellini mengatakan, itu hanya kebetulan belaka.

Ia menegaskan, gempa dan tsunami yang terjadi di Jepang tak ada kaitannya dengan supermoon.

Korelasi tak signifikan antara bulan purnama atau bulan baru dengan aktivitas seismik terjadi pada saat Matahari dan Bulan berada dalam posisi sejajar (alignment).

Kekuatan pasang surut yang lebih kuat dari biasanya menambah tekanan pada lempeng tektonik. Namun tak sebegitu besarnya hingga bisa memicu gempa.

"Menyalahkan supermoon atas terjadinya gempa sama saja dengan menyalahkan kejadian terbakarnya sebuah rumah pada tersangka yang sedang di luar kota pada saat kejadian," kata dia.

Apalagi, adalah seorang astrolog yang meramalkan bahwa supermoon bisa jadi ancaman yang membangkitkan gempa. Dan, itu sama sekali tak didasari penjelasan ilmiah.

"Mayoritas kejadian gempa, tsunami, erupsi gunung berapi, dan bencana lain tak mengikuti siklus atau pasang surut Bulan. "Melainkan sesuatu yang berkembang selama ratusan tahun," kata Bellini kepada Life's Little Mysteries.

3 dari 5 halaman

3. Gempa Christchurch 2011

Gempa yang meluluhlantakkan Kota Chrischurch, Selandia Baru terjadi pada 22 Februari 2011, tak terlalu jauh dari supermoon 19 Maret 2011.

Lindu 6,5 SR mengguncang saat warga Christchurch bersiap melanjutkan rutinitas usai jam istirahat.

Akibatnya mengerikan; bangunan-bangunan rubuh, puing-puingnya jatuh menimpa kendaraan dan orang-orang yang panik. Listrik dan saluran telepon mati, pipa air meledak dan airnya membanjiri jalanan. Christchurch dinyatakan dalam kondisi darurat.

Peristiwa serupa ternyata berulang.

Gempa bumi berkekuatan 7,4 skala Richter mengguncang South Island di Selandia Baru pada 13 November 2016, termasuk kota Christchurch. Sesaat setelah lindu terjadi, tsunami menerjang wilayah tersebut meskipun tidak dalam skala besar.

Lindu yang diikuti dengan tsunami itu disebut-sebut telah diramalkan dan berkaitan dengan supermoon. Banyak orang menunjuk ke postingan Facebook seorang pria yang mengaku telah memprediksi kejadian itu.

"Peringatan: pada 14 November dan beberapa hari setelahnya akan terjadi gempa bumi besar, dan kemungkinan terjadi di Pasifik Selatan," tulis pria bernama Nigel Antony Gray pada 6 November 2016.

Gray menyebut bahwa meningkatnya tarikan gravitasi dari supermoon menjadi penyebab gempa bumi. Seperti yang saat ini tengah ramai diperbincangkan, pada 14 November 2016 terjadi supermoon yang paling besar dan terang dalam kurun 70 tahun.

Namun, klaim itu dibantah para ilmuwan.

4 dari 5 halaman

4. Gempa Haiti

Gempa berkekuatan 7 SR yang mengguncang Haiti pada 12 Januari 2010, bertanggung jawab atas kematian lebih dari 200 ribu jiwa. Peristiwa itu terjadi tak lama sebelum supermoon 30 Januari 2010.

Guncangan hebat yang berlangsung pukul 04.30 itu, berpusat di 15 mil dari Ibukota Port-au-Prince -- kota dengan populasi paling padat di Haiti. Sekitar 70 persen bangunan rata dengan tanah, nyaris tak ada yang bisa dijadikan tempat mengungsi. Bahkan istana Presiden ikut rubuh.

Belakangan, para ilmuwan menemukan sesuatu yang tak disangka-sangka. Gempa Haiti ternyata disebabkan oleh patahan (fault) yang belum pernah dipetakan. Bukan patahan Enriquillo -- seperti yang dikira sebelumnya.

Tak hanya di bidang geologi, gempa Haiti menjadi pelajaran berharga tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana, termasuk kekuatan struktur bangunan.

Artikel Selanjutnya
Top 3 News Hari Ini: Fakta di Balik Isu Gempa terkait Gerhana
Artikel Selanjutnya
Guncangan di Banten dan Aceh, Gempa Susulan Kemarin?