Sukses

Video Bola Api Misterius yang Picu Gempa 2,0 SR di AS

Liputan6.com, Detroit - Seorang pria di Michigan, Amerika Serikat, merasakan sebuah fenomena langka tak biasa di lingkungan sekitar rumahnya pada Selasa malam,16 Januari 2018 waktu setempat.

"Tiba-tiba, pekarangan rumah saya mendadak terang disinari cahaya, lalu mendadak gelap. Tampak ada sesuatu yang besar di langit saat peristiwa itu terjadi," kata Mike Tarkowski, penduduk di Milford, Michigan.

Bagi mereka yang percaya dengan teori konspirasi, fenomena semacam itu kerap diasosiasikan dengan sejumlah hal terkait Alien, UFO, atau sejenisnya.

Namun, seorang ilmuwan menyebut bahwa peristiwa yang terjadi di Michigan itu tak ada hubungannya dengan ekstraterestrial juga "piring terbang".

Seperti dikutip dari NBC News, Jumat (18/1/2018), fenomena yang dialami Tarkowski lazim terjadi ketika sebuah meteor jatuh ke Bumi.

American Meteor Society (AMS) menyebut bahwa mereka menerima ratusan laporan soal "bola api" yang melintas di langit malam beberapa kota di Negara Bagian Michigan, seperti Kota Detroit.

Bahkan, laporan serupa juga datang dari Kota Ontario, Kanada.

Berbagai lokasi yang melaporkan melihat cahaya aneh yang diduga kuat sebagai meteor di AS (16/1/2018) (American Meteor Society)

Negara bagian lain di Amerika Serikat yang turut melaporkan telah melihat bola api itu meliputi Illinois, Pennsylvania, Ohio, Indiana dan Missouri. Namun, laporan di negara bagian tersebut tak seramai seperti di Michigan.

AMS mengatakan, bola api itu diduga kuat merupakan sebuah meteor atau batu antariksa yang menembus jatuh ke atmosfer Bumi sebelum akhirnya pecah.

Saat menyentuh Bumi, meteor itu juga diduga kuat menyebabkan gempa 2,0 skala Richter (SR) di kawasan Michigan, kata lembaga pemerintah US Geological Survey.

Berikut video detik-detik meteor yang melintas di Detroit, Michigan, Amerika Serikat seperti yang tertangkap oleh mata kamera CCTV setempat.

1 dari 3 halaman

Pasti Sebuah Meteroid?

Sementara itu, Bill Cooke dari Office of Meteoroid Environment NASA juga mengatakan bahwa bola api yang dimaksud ratusan laporan tersebut "pasti sebuah meteorid".

Cooke memperkirakan, meteor tersebur berukuran sekitar 1 - 2 meter, dengan berat sekitar 1 metrik ton, dan jatuh ke Bumi setelah menempuh jarak sekitar 64.000 - 80.000 km dari angkasa luar.

"Di Michigan, meteoroid seperti itu jarang," katanya.

Ia menambahkan, "Namun, di tempat lain di planet ini, mereka terjadi beberapa kali setiap bulan."

Sementara itu, Paul Gross, ahli meteorologi yang berafiliasi dengan media NBC WDIV, mengatakan bahwa suara terang dan nyaring mungkin disebabkan oleh bolide -- sejenis meteor yang pecah di atmosfer.

"Pertanyaan lain yang ditanyakan adalah apakah ada bagian dari meteor yang menghantam Bumi," kata Gross lewat akun Twitter-nya.

"Sangat tidak mungkin ... mungkin terbakar seluruhnya. Sebagian besar meteor mungkin jatuh mendarat berukuran sebesar butir sereal," ucap Gross lagi.

2 dari 3 halaman

Bola Api di Langit Jepang Disangka Rudal Korut

Bola api yang menyala-nyala sebelumnya juga dilaporkan melesat dan menerangi langit malam di Jepang. Peristiwa yang terjadi pada 21 November malam waktu setempat itu dikabarkan memicu kekhawatiran warga lokal akan serangan rudal nuklir Korea Utara.

Rasa cemas yang dirasakan oleh sejumlah warga Jepang memang cukup beralasan, mengingat pemimpin Korea Utara Kim Jong-un kerap menebar ancaman menjadikan Jepang sebagai sasaran tes rudal atau hulu ledak nuklirnya.

Maka, ketika peristiwa bola api yang menyala-nyala itu terjadi kemarin malam di Jepang, sejumlah warga lokal yang cemas dan panik dikabarkan sempat menelepon polisi. Demikian seperti dikutip News.com.au, pada Kamis, 23 November 2017.

Menurut laporan otoritas setempat, mereka menerima beberapa sambungan telepon hotline darurat dari sejumlah orang yang mengaku melihat bola cahaya api biru di langit malam sekitar pukul 21.30 waktu setempat di utara Tokyo.

Selain itu, bola cahaya api biru di langit malam itu turut memicu perhatian warganet.

Seorang pria berusia 22 tahun yang merekam kejadian itu lewat kamera telepon genggam dan mengunggahnya ke internet saat mengemudi di Namegawa, Saitama. Ia mengatakan, "Saya melihat sebuah cahaya yang sangat terang, namun hilang dalam sekejap."

"Saya tidak mendengar suara sebelumnya (dari kilat cahaya bola api itu). Saya pikir, apa yang saya saksikan adalah sesuatu yang lain dan langka," ucap pria yang sempat mengira cahaya itu adalah rudal Korut.

Ternyata...

Ilustrasi meteor. (iStock)

Seorang pakar di Jepang, yang sadar akan adanya riuh cemas beberapa warga -- yang mengira bahwa kilat cahaya bola api itu sebagai rudal Korut-- lantas mengklarifikasi peristiwa tersebut.

Seperti dikutip dari News.com.au, profesor Observatorium Astronomi Jepang, Hitoshi Yamaoka, menyatakan, bola api itu merupakan serpihan benda langit yang masuk ke Bumi.

Benda langit itu dapat berupa meteor, asteroid, berukuran cukup besar yang terbakar saat memasuki atmosfer Bumi dan kebetulan terlihat di langit Negeri Sakura. Sementara hasil pembakaran itu memicu kilat cahaya api yang dimaksud.

Seorang peneliti astronomi yang berbasis di Prefektur Wakayama juga sependapat dengan penjelasan profesor Yamaoka.

"Bola api itu adalah sebuah meteor berukuran cukup besar," kata Chisato Yamauchi, peneliti Misato Astronomical Observatory, seperti dikutip dari Asahi Shinbun.

"Fragmentasi pasir dan batu yang menyelubungi meteor itu, bergesekkan dengan atmosfer Bumi dan menyebabkan pembakaran yang menghasilkan cahaya.

Sementara itu, Yasuo Shiba dari Nippon Meteor Society mengatakan bahwa kejadian seperti itu merupakan peristiwa alam langka.

"Mungkin hanya bisa diamati beberapa kali dalam satu tahun tertentu," kata Shiba yang sebelumnya turut mengonfirmasi bahwa bola api itu merupakan sebuah meteor.

Shiba menambahkan, peristiwa itu kemungkinan besar merupakan bagian dari Taurids Meteor Shower, hujan meteor tahunan yang dapat diamati dari Oktober hingga November 2017.

Artikel Selanjutnya
Hujan Es Turun di Daerah Tropis, Kok Bisa?
Artikel Selanjutnya
Selandia Baru Tempatkan 'Bola Disko' di Antariksa, untuk Apa?