Sukses

Ilmuwan Temukan Gua Bawah Air Terpanjang di Dunia

Liputan6.com, Mexico City - Sekelompok ilmuwan baru-baru ini telah berhasil menemukan gua bawah air yang diyakini sebagai yang terpanjang di dunia. Menariknya, temuan yang berlokasi di timur Meksiko ini juga mengungkap adanya beberapa artefak peninggalan suku Maya kuno.

Dilansir dari laman Mirror.co.uk, penemuan tersebut merupakan hasil dari proyek penyelaman bertajuk Gran Acuifero Maya (GAM). Proyek ini didedikasikan untuk meneliti sekaligus melestarikan perairan bawah tanah di semenanjung Yucatan, Meksiko.

Selama hampir 14 bulan lamanya, rombongan penyelam mengeksplorasi sebuah labirin raksasa bawah air yang berbentuk seperti kanal.

Ketika mencapai kawasan sekitar distrik resor Pantai Tulum, peneliti terkait menemukan sebuah sistem gua yang dikenal dengan nama Sac Aktun, yang berukuran 263 kilometer, tersambung dengan sistem Dos Ojos sepanjang 83 kilometer, kata GAM dalam sebuah pernyataan. Karena hal itu, Sac Aktun sekarang menyangga Dos Ojo.

Direktur GAM yang juga merupakan ahli arkeologi bawah laut, Guillermo de Anda, mengatakan bahwa penemuan 'menakjubkan' ini akan membantu memahami perkembangan budaya kawasan terkait, yakni sebuah kebudayaan yang kaya akan peradaban suku Maya sebelum penaklukan oleh Bangsa Spanyol.

"Penemuan ini membuat kita menghargai dengan lebih jelas, bagaimana ritual-ritual dijalankan, lokasi-lokasi ziarah dan paling utama, pemukiman besar pra-Hispanik yang kita ketahui, sekarang muncul," ujar Guuillermo

Semenanjung Yucatan, lokasi penemuan terkait, telah lama dikenal sebagai salah satu ladang penemuan situs-situs kuno suku Maya.

Di kawasan ini juga ditemukan sistem tata kota bangsa Maya yang dibangun dengan menyertakan jaringan luas saluran pembuangan. Jaringan ini terhubung dengan perairan bawah air yang dikenal dengan istilah cenotes.

1 dari 2 halaman

Bangsa Maya Kuno Bangun Kota dengan SIstem Kanal Bawah Air

Sebelumnya pada 2015, tim ilmuwan yang sama berhasil menemukan cenote di bawah Piramida Kulkulcan.

"Setelah melewati osuarium, kami memasuki sebuah gua dibawah bangunan (Piramida Kulkulcan). Di dalamnya, kami menemukan jalan yang ditutup, sepertinya ditutup oleh suku Maya kuno sendiri," kata De Anda.

Sejumlah peneliti menduga, cenote di piramida peradaban Maya kerap digunakan oleh suku kuno setempat untuk melakukan upacara pengorbanan manusia.

Dugaan itu semakin kuat setelah peneliti menemukan tulang-belulang manusia di cenote lain di kawasan Chichen Itza. 

Beberapa cenote disebut memiliki nilai religius tertentu bagi Suku Maya. Kepercayaan tersebut bahkan terus diyakini hingga keturunannya yang hidup di era modern sekarang.

Artikel Selanjutnya
Wilder Penfield, Ahli Bedah Otak Brilian yang Masuk Google Doodle
Artikel Selanjutnya
NASA Deteksi Keberadaan Alien di Planet Lain dengan Teleskop?