Sukses

Bikin Merinding... 3 Ramalan Tragedi Titanic Ini Jadi Kenyataan

Liputan6.com, Jakarta - Tenggelamnya kapal penumpang Inggris, Royal Mail Ship (RMS) Titanic pada tanggal 15 April 1912, menjadi sejarah kelam dunia maritim.

Dalam pelayaran perdananya dari Southampton, Inggris, ke New York City, Amerika Serikat, kapal tersebut menabrak gunung es di lautan Atlantik Utara.

Titanic pun secara tragis mengakhiri perjalanan pertama dan satu-satunya, tenggelam ke dasar lautan sejauh 3.787 meter.

Dari sekitar 2.224 penumpang yang dibawa di kapal megah itu, hanya 710 orang yang mampu bertahan hidup. Mereka lalu diantar ke New York oleh RMS Carpathia, sebuah kapal yang merespons sinyal darurat Titanic.

Jurnalis investigasi Inggris, William Thomas Stead, menulis cerita fiktif tentang tenggelamnya kapal penumpang raksasa, 26 tahun sebelum Titanic memulai pelayarannya. (The Vintage)

Sebelum berangkat dari Southampton, sang perancang kapal Thomas Andrews, sesumbar bahwa mahakaryanya tak akan dan tak bisa tenggelam.

Ia mengakui Titanic sebagai kapal terhebat karena dilengkapi dengan peralatan keselamatan mutakhir, seperti pintu kedap air dan ruangan kedap air lainnya yang dirancang agar kapal tetap bisa mengapung bila terjadi kecelakaan.

Toh pada akhirnya, kapal laut raksasa itu tidak bisa diselamatkan oleh sistem keamanannya sendiri. Akibatnya, saat menabrak gunung es di tengah laut, Titanic mengalami kebocoran parah di lambung kapal. Dengan cepat, kapal buatan Harland and Wolff itu terisi air laut, terbelah dua, dan tenggelam.

Satu hal yang digaris bawahi oleh sejarawan dari kecelakaan Titanic adalah kurangnya sekoci penyelamat yang disediakan pabrik pembuatnya.

Titanic mengangkut 20 sekoci secara keseluruhan: 14 sekoci kayu standar Harland and Wolff dengan kapasitas masing-masing 65 orang dan empat sekoci lipat Englehardt (diberi tanda A sampai D) dengan kapasitas masing-masing 47 orang.

Kapal ini juga memiliki dua perahu dayung dengan kapasitas masing-masing 40 orang. Dengan demikian, semua sekoci Titanic hanya bisa menampung sekitar 50 persen penumpang atau 1.178 orang.

Dikutip dari The Vintage News, Selasa (16/1/2018), 26 tahun sebelum Titanic memulai pelayaran perdananya, seorang jurnalis investigasi Inggris bernama William Thomas Stead menuliskan sebuah cerita pendek (cerpen) aneh, yang mana alur cerita dari cerpen itu dikaitkan dengan tragedi Titanic.

William Thomas Stead (Freebase/Public domain)

Dan ternyata, itu bukan satu-satunya 'ramalan' terkait tragedi Titanic, berikut 3 di antaranya:

1 dari 4 halaman

1. Kisah Thomas Sang Kelasi

Cerpen berjudul "How the Mail Steamer Went Down in Mid Atlantic, by a Survivor" diterbitkan oleh surat kabar London, The Pall Mall Gazette, pada bulan Maret 1886.

Kisah itu ditulis William Thomas Stead, seorang wartawan sekaligus penulis. 

Dikisahkan, ada seorang pelaut Inggris bernama Thomas yang berlayar menggunakan kapal penumpang baru. Kapal tersebut memulai debut perjalanannya dari Inggris ke Amerika Serikat.

Setelah keberangkatan, Thomas menyadari bahwa jumlah sekoci di kapal terlalu sedikit dan tidak akan cukup untuk menyelamatkan semua penumpang dan awak kapal apabila terjadi kecelakaan di tengah laut.

Namun, tak satupun orang yang menanggapi ucapannya dengan serius.

Beberapa hari perjalanan, lautan yang dilewati kapal Thomas mendadak berkabut tebal. Saat itulah, sebuah kapal asing melintas di hadapan kapal Thomas. Kedua kapal bertabrakan dan sedikit demi sedikit mulai tenggelam.

Seluruh penumpang kapal yang dinaiki Thomas berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri. Ada yang melompat ke air, ada yang membobol ruangan kapal, ada pula yang berlarian karena kebingungan.

Sesaat setelah tabrakan, mereka langsung menyadari bahwa jumlah sekoci yang disediakan memang tak sepadan dengan jumlah penumpang.

Dari 916 penumpang, hanya 200 orang yang berhasil naik ke sekoci, sementara lebih dari 700 orang meninggal karena tenggelam.

Sang tokoh utama, Thomas, berhasil menyelamatkan diri dengan terjun ke laut dan memanjat ke salah satu sekoci. Cerita bersambung.

Cerpen karangan waratwan terkenal tersebut hanya mendapat sedikit perhatian ketika dipublikasikan. Pasca tenggelamnya kapal Titanic, banyak orang menilai cerita Stead adalah nubuat atau ramalan yang menakutkan.

Plot cerita cukup menggambarkan apa yang menimpa Titanic waktu itu.

Dan, tragisnya, sang penulis William Thomas Stead tenggelam dalam pelayaran perdana Titanic.

 

2 dari 4 halaman

2. Tragedi RMS Majestic

Selanjutnya, pada tahun 1892, Stead menulis cerpen lain yang menceritakan bencana maritim yang berbeda.

Cerita keduanya diberi judul “From the Old World to the New”.

Dalam cerpen tersebut, Stead mengkisahkan awak kapal yang datang untuk membantu korban selamat dari RMS Majestic, sebuah kapal penumpang fiktif yang terbalik setelah bertabrakan dengan gunung es di Atlantik Utara.

Pasca kematian Titanic, cerita ini juga dipandang sebagai ramalan yang menakutkan.

Namun, fakta mengejutkannya adalah jurnalis William Thomas Stead meninggal dalam bencana Titanic. Dia naik kapal sebagai penumpang kelas satu dan bermaksud menghadiri konferensi perdamaian di Carnegie Hall, New York.

Menurut beberapa orang yang selamat, Stead adalah sosok penumpang yang mengagumi desain kapal.

Setelah tragedi Titanic berlalu, seorang korban selamat bernama Philip Mock mengklaim bahwa dia melihat Stead menempel pada potongan puing bersama penumpang lain, seorang kolonel, pengusaha, dan penulis Amerika bernama John Jacob Astor.

Akan tetapi, jasad Stead tidak pernah ditemukan setelahnya. Dia tenggelam di samudera Atlantik bersama dengan penumpang yang tak kebagian sekoci.

3 dari 4 halaman

3. Tenggelamnya Kapal Titan

Ketika kabar tenggelamnya RMS Titanic sampai di daratan, orang-orang dibuat kaget dan bertanya-tanya. Bagaimana bisa kapal termewah dan tercanggih pada zamannya itu bisa tenggelam di tengah pelayaran perdananya, 15 April 1912.

Insiden tragis yang menimpa Titanic menewaskan lebih dari 1.500 orang. Ini menjadi salah satu bencana pelayaran terbesar dalam sejarah.

Secara kebetulan, kejadian tersebut ternyata telah dikisahkan dalam sebuah buku berjudul Futility atau disebut Wreck of the Titan.

Futility, buku yang ditulis oleh Morgan Robertson 14 tahun sebelum peristiwa Titanic (Foto: Goodreads).

Sang penulis, Morgan Robertson menerbitkan buku tersebut pada 1898, 14 tahun sebelum peristiwa tenggelamnya Titanic terjadi.

Ngerinya, kapal di dalam cerita tersebut juga bernama Titan, hanya berbeda dua huruf dari Titanic. 

Dalam buku tersebut dikisahkan bahwa bagian depan Kapal Titan menabrak gunung es pada malam hari di bulan April. Hal itu sama persis dengan waktu dan penyebab tenggelamnya Titanic, seperti yang dilansir oleh News.com.au.

Kesamaan tersebut juga semakin mencengangkan. Di buku tersebut diceritakan bahwa Titan tenggelam 400 mil atau sekitar 643,7 kilometer dari Newfoundland, lokasi yang sama ketika Titanic karam.

Kedua kapal tersebut juga kekurangan sekoci dan tidak bisa menyelamatkan ke lebih dari separuh penumpang dan awak kapal.

Ketika peristiwa Titanic terjadi 14 tahun setelah Futility terbit, orang langsung mengaitkan cerita dalam buku tersebut dengan kejadian tenggelamnya kapal itu.

Beberapa orang mengira bahwa penulis buku Futility itu merupakan peramal.

Namun Robertson mengaku bahwa cerita yang dibuatnya murni dibuat dengan pengetahuannya di bidang kemaritiman dan perkapalan.

Walaupun Robertson terheran-heran atas kaitan cerita yang dibuatnya dengan kejadian tenggelamnya Titanic, ia berkata bahwa kemiripan tersebut murni kebetulan.

Artikel Selanjutnya
Michelle Ziudith Jadi Dewasa karena London Love Story 3
Artikel Selanjutnya
Simak 4 Cerita Menarik di Balik Layar Film Dilan 1990