Sukses

Tolak Sarapan dengan Ibu Negara Filipina, The Beatles Diteror

Liputan6.com, Manila - The Beatles, band legendaris asal Inggris, dikabarkan pernah diteror dan nyaris diserang oleh sekelompok orang, usai mereka menolak jamuan sarapan dari Ibu Negara Filipina Imelda Marcos pada 1966.

Kala itu, The Beatles tengah melaksanakan tur keliling dunia dalam rangka mempromosikan album terbaru mereka, Rubber Soul yang dirilis pada pengujung 1965.

Sampailah Ringo Starr Cs di Manila, Filipina pada Juli 1966.

Mengetahui negaranya tengah disambangi oleh band ternama dunia, Ibu Negara Filipina saat itu, Imelda Marcos -- istri dari diktator Ferdinand Marcos -- mengundang The Beatles untuk menghadiri resepsi sarapan formal di Istana Kepresidenan Malacanang, Manila.

Seperti dikutip dari The Vintage News (24/12/2017), alasan Imelda Marcos mengundang The Beatles adalah demi publisitas, mengingat perempuan itu adalah sosok yang gila hormat dan pendamba puji-pujian publik.

Saat itu, Imelda yakin betul bahwa John Lennon dkk 100 persen akan menerima undangannya tanpa ragu.

Akan tetapi, saat manajer band Brian Epstein menunjukkan undangan itu kepada Paul MacCartney Cs, The Beatles menolaknya.

Pelantun lagu 'Judy' itu merupakan salah satu band yang menerapkan kebijakan untuk tak menerima undangan jamuan dari pejabat atau figur politik.

Epstein pun diminta untuk menyampaikan kebijakan itu dengan sopan kepada Imelda Marcos.

Namun, The Beatles tak menyadari harus menerima ganjaran besar usai menolak undangan tersebut.

Imelda Marcos, yang tak biasa menerima penolakan dan kata 'tidak', meradang.

Ia marah saat mengetahui bahwa The Beatles tak akan hadir sebagai undangan spesial pesta sarapan besar yang direncanakan akan dihadiri oleh 200 tamu tersebut.

Yang cukup menarik, media di Filipina -- yang kala itu dikontrol oleh rezim Marcos -- menarasikan berita tentang penolakan itu sebagai bentuk 'penghinaan The Beatles terhadap Imelda Marcos'.

Tak lama kemudian, polisi Filipina yang mengawal The Beatles mendadak menghilang. Kabarnya, mereka ditarik mundur oleh rezim Marcos sebagai respons atas penolakan jamuan sarapan tersebut.

Sadar bahwa penolakan itu menyinggung Malacanang, Epstein selaku manajer band meminta media lokal Channel 5 untuk meliput dan menyiarkan permohonan maaf secara formal dari The Beatles, langsung dari tempat mereka menginap di Hotel Manila.

Namun, saat permohonan maaf itu hendak disiarkan, Channel 5 yang turut dikontrol oleh pemerintah rezim Marcos mendadak mengalami pemutusan jaringan siar. Diduga, Malacanang dalang di balik pemutusan jaringan siar tersebut.

Kemudian, hotel tempat The Beatles menginap diserang oleh fans yang murka.

Sadar bahwa keselamatan mereka terancam, The Beatles dan kru memutuskan untuk keluar dari hotel dan Filipina.

1 dari 2 halaman

Diserang Kerumunan Massa di Bandara Internasional Manila

Saat check-out dari hotel di Manila, para staf tempat penginapan membentuk sebuah barisan dan mencerca habis-habisan The Beatles dan kru yang tengah berjalan keluar dari gedung.

Kemudian, saat The Beatles mencapai Bandara Internasional Manila untuk terbang keluar dari Filipina, sekelompok demonstran mengerumuni McCartney dkk, berusaha melayangkan bogem mentah kepada para personel band dan kru.

Asisten manajer band, Mal Evans dan sejumlah kru lain dikabarkan menderita luka fisik kala itu. Sementara Ringo Starr mengaku bahwa para demonstran meludahi dirinya.

Setelah berhasil bersembunyi di antara kerumunan biarawan dan diarawati, The Beatles berhasil masuk ke wilayah anjungan penerbangan yang steril dari amarah massa dengan selamat.

Usai peristiwa itu, The Beatles mengatakan bahwa mereka sungguh paranoid saat kejadian tersebut terjadi, khawatir jika salah satu aparat bersenjata di bandara mendadak ikut menyerang mereka.

Mengenang peristiwa itu, McCartney bahkan berkata, "Ketika sampai di pesawat, kami semua segera mencium tempat duduk kami. Sebuah ekspresi seolah-olah kami berhasil menemukan tempat perlindungan di negara asing di mana semua peraturan telah berubah."

Ringo Starr, saat diminta mengenang peristiwa di Manila 1966 mengaku bahwa dirinya takut dipenjara terkait situasi tersebut.

Manajer band, Brian Epstein mengatakan bahwa saat telah tiba di dalam pesawat, dirinya sempat diminta untuk keluar. Ia mengaku merasa sangat takut saat itu, khawatir jika sesaat setelah keluar dari pesawat otoritas Filipina akan menciduk dirinya.

Namun ternyata, Epstein hanya diminta untuk melunasi utang pajak konser di Manila senilai 6.800 pound sterling dan menandatangani sejumlah dokumen pajak.

Setelah itu, The Beatles berhasil terbang dengan aman dan selamat keluar dari Filipina.

Ketika ditanya tentang kenangannya atas peristiwa tersebut, John Lennon mengatakan, "Jika kami kembali (ke Manila), kami akan membawa bom nuklir. Aku pribadi tak ingin terbang (kembali) ke tempat itu."

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

Artikel Selanjutnya
All The Money in the World, Drama dan Penculikan Menegangkan
Artikel Selanjutnya
Kota Asal Cranberries Kenang Dolores O'Riordan dengan Cara Ini