Sukses

Ini 4 Ramalan Kiamat Gagal Sepanjang 2017

Liputan6.com, Jakarta - Tahun 2017 tinggal hitungan hari. Beragam peristiwa kelam pun menghiasi tahun ini, mulai dari teror, bencana, kelaparan, perdagangan manusia, hingga dugaan pembersihan etnis Rohingya. Selain itu, sejumlah hal-hal yang tidak terbukti kebenarannya juga sempat menggegerkan masyarakat dunia, yakni ramalan kiamat.

Meski ramalan kiamat berulang kali tak terbukti, masih ada orang yang mempercayainya dan bahkan dibuat panik karenanya. Lalu, apa yang mendasari hal tersebut?

Dr Michelle Arnold dari Flinders University School of Psychology mengemukakan alasan di balik hal tersebut.

"Salah satu faktor kunci yang diajukan adalah ketidakpastian. Artinya, mempercayai jenis nubuat semacam ini akan memberi orang rasa yakin akan dunia yang tak pasti," ujar Arnold.

Seringkali ramalan terlihat meyakinkan karena hal itu dapat memicu 'rule of thumb'.

Tak seperti alogaritma atau formula yang menghasilkan jawaban yang benar dengan pasti, Arnold mengatakan bahwa 'rule of thumbs' tak menjamin kebenaran suatu jawaban karena terbuka terhadap bias.

Dihimpun dari berbagai sumber, berikut 4 ramalan kiamat yang sempat menghebohkan masyarakat sepanjang 2017.

1 dari 5 halaman

1. Malaikat Jibril dan Dibukanya Gerbang Neraka

Pengikut Sword of God Brotherhood mengatakan bahwa 1 Januari adalah awal dari sebuah kehancuran manusia. Mereka mengklaim bahwa Malaikat Jibril telah mengungkap secara khusus kepada mereka bahwa gerbang neraka telah dibuka pada tanggal tersebut.

Mereka pun menyebut bahwa hanya ada beberapa orang, termasuk mereka, yang akan selamat dari peristiwa itu.

Dimuat News.com.au, kelompok kematian itu mendapat dukungan dalam kultus lain yang menamakan dirinya "Daniel's Timeline". Mereka meramalkan kiamat dengan mengutip dari Perjanjian Lama.

"Menurut hukum Perjanjian Lama, tahun Yobel terjadi setiap tahun kelima puluh dan sekarang saatnya semua utang dilepaskan dan semua harta dikembalikan ke pemiliknya yang sah."

"Tahun Yobel seharusnya menjadi tahun perayaan, tapi juga bisa menjadi terjadi perubahan penting. Sebagai tambahan, nubuat Alkitab menunjukkan bahwa tahun ke 120 Yobel, yang akan jatuh pada 2017, akan membahwa perubahan yang dahsyat."

Namun, ramalan mereka sama sekali tak terbukti.

Sword of God Brotherhood merupakan cabang dari kelompok supremasi kulit putih. Kelompok itu didirikan pada 1971 di Michigan.

Namun pada 1985, Sword of Brotherhood dibubarkan setelah markasnya digerebek oleh pihak berwenang. Meski demikian, ramalan kelompok itu masih bergulir hingga sekarang.

 

2 dari 5 halaman

2. Gerhana Matahari Total 21 Agustus dan Kiamat

Pada 21 Agustus 2017, sebuah peristiwa alam langka dan menakjubkan  terjadi: gerhana matahari total. Peristiwa tersebut hanya bisa disaksikan warga di Amerika Serikat

Pakar sains sejak awal memperkirakan, gerhana matahari total yang terjadi nanti tak hanya mengakibatkan kegelapan sesaat, namun juga penurunan temperatur yang tak biasa.

Namun, tak hanya komunitas sains, gerhana matahari total memancing kelompok pegiat pseudoscience (ilmu semu), ahli ramal dan nujum, serta pakar supranatural di sejumlah negara untuk bersuara.

Komunitas pseudoscience menyebut bahwa gerhana matahari 21 Agustus nanti akan menjadi pertanda kemunculan mengejutkan planet raksasa bernama Nibiru yang mendadak berada dekat dengan Bumi.

David Meade, pegiat religi, pakar angka, pengamat amatir antariksa, dan penulis buku 'Planet X - The 2017 Arrival', memprediksi bahwa Nibiru alias Planet X akan mendadak muncul pada 23 Agustus atau dua hari pasca-gerhana matahari total AS.

Ramalan pria itu merujuk pada Kitab Yesaya, salah satu bagian dalam Perjanjian Lama, Bab 13 ayat 9 - 10, yang menyebut, "Lihatlah hari ketika Tuhan datang, akan menjadi hari kehancuran bagi para pendosa. Bintang dan langit akan redup. Matahari akan menggelap dan Bulan tak akan bercahaya."

Meade juga menyebut nubuat gerhana Matahari total dengan kehancuran Bumi yang dihubungkan dengan konsep '33 Convergence' atau Konvergensi Angka 33.

Seperti Meade, sejumlah kelompok fanatik religi lain juga meyakini bahwa gerhana matahari 21 Agustus nanti merupakan satu dari 10 ramalan kiamat yang telah tercantum dalam Kitab Suci.

Selain itu, Michael Parker dari End Time Prophecies menjelaskan bahwa gerhana menjadi tanda kedatangan Yesus Kristus dan akhir zaman.

Akan tetapi, menurut Duncan Steel penulis buku Eclipse: The Celestial Phenomenon that Changed the Course of History, hal-hal prediksi dan ramalan terkait gerhana dan nasib manusia -- seperti yang disebutkan di atas-- sudah tidak relevan dengan konteks Abad ke-21.

Benar saja, ramalan kiamat itu tak terbukti. 

 

3 dari 5 halaman

3. Ramalan Kiamat 23 September

Sabtu, 23 September 2017, diklaim akan menjadi hari akhir dunia. Akan tetapi, ternyata hal itu tak terbukti.

Numerolog bernama David Meade yang mengklaim peristiwa kiamat itu, menarik ulang perkataannya dengan menunjukkan beberapa klaim baru.

Dimuat FoxNews, Maede mengatakan bahwa dunia tak akan berakhir pada hari ini. Namun, tanggal 23 September 2017 hanya akan ditandai dengan serangkaian peristiwa bencana yang akan terjadi selama beberapa minggu ke depan.

"Dunia tidak berakhir, tetapi sebagian besar dunia tak akan sama persis bentuknya pada awal Oktober mendatang," ujar Meade.

Meade meramalkan kiamat 23 September 2017 berdasarkan ayat dan kode angka di Alkitab, yang berujung pada angka 33.

Meade juga membangun teori tentang apa yang disebut sebagai Planet X, atau yang dikenal dengan Nibiru. Kala itu, ia percaya bahwa Planet tersebut akan melintasi Bumi pada 23 September 2017.

Hal ini juga diklaim oleh Meade akan menimbulkan letusan gunung berapi, tsunami, dan gempa bumi.

Namun, semua omongan Meade dimentahkan oleh ilmuwan NASA, David Morisson.

"Tak ada bukti sahih tentang keberadaan Nibiru. Tak ada foto, tak ada jejak, tak ada penglihatan astronomi," kata Morrison dalam video yang diunggah NASA, seperti dimuat Express.co.uk.

"Saya bisa bilang secara spesifik bagaimana Planet X atau Nibiru pada dasarnya tidak ada dan tidak mengancam Bumi," lanjutnya.

Meade pun kembali mengklaim bahwa kiamat baru akan dimulai pada 15 Oktober 2017. Namun lagi-lagi, ramalannya tak terbukti.

 

4 dari 5 halaman

4. Kiamat Diramalkan Terjadi pada 19 November

Setelah Meade meramalkan bahwa kiamat akan terjadi pada 23 September dan 15 Oktober -- yang keduanya tak terbukti kebenarannya -- pencetus teori konspirasi lain menyebut bahwa Planet Nibiru pembawa maut akan muncul pada hari Minggu 19 November 2017.

Menurut mereka, Nibiru akan memicu gempa yang menghancurkan sehingga memusnahkan seluruh kehidupan di Planet Biru ini.

Nibiru adalah sebuah planet yang belum dikonfirmasi keberadaannya. Namun, sejumlah orang meyakini bahwa planet tersebut berada di ujung tata surya dan mengorbit Matahari setiap 3.600 tahun sekali.

Beberapa teori konspirasi menyebut bahwa pengaruh gravitasi Nibiru pernah mengacaukan orbit planet lain pada ratusan tahun lalu. Mereka mengklaim bahwa hal itu dapat terjadi kapan pun.

Mereka menyebut, Nibiru bisa saja bertabrakan dengan Bumi atau memicu perubahan iklim luar biasa yang berdampak mengerikan.

Ramalan soal Nibiru penyebab kiamat 19 November 2017, disebar oleh Planetxnews.com. Mereka menyebut bahwa meningkatnya gempa bumi dan erupsi gunung berapi disebabkan oleh gravitasi Nibiru, karena planet itu kian mendekat.

"Aktivitas seismik mencapai puncaknya pada minggu kedua November hingga Desember 2017," klaim salah satu penulis website tersebut, Terral Croft.

"Prediski gempa akibat penyelarasan Bumi melewati Matahari terhadap Bintang Hitam (Nibiru) dijadwalkan terjadi pada 19 November 2017," ujar Croft kepada Express.

Lagi-lagi, ramalan tersebut tak terbukti.

Artikel Selanjutnya
Pertama dalam 152 Tahun, Fenomena Gerhana Blue Blood Supermoon
Artikel Selanjutnya
Ilmuwan: Astrologi Pengaruhi Hidupmu dengan Cara yang Salah