Sukses

Kiamat... Ini 3 Teori Konspirasi Paling Mengguncang Dunia di 2017

Liputan6.com, Jakarta - Tahun 2018 tinggal 15 hari lagi. Warga dunia bersiap menanti sebuah awal baru, yang penuh pengharapan dan keberuntungan.

Di sisi lain, tahun 2017 diwarnai banyak hal. Pelantikan miliarder nyentrik Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, bencana banjir di Asia Selatan yang menewaskan lebih dari 1.200 jiwa dan memaksa 41 juta orang jadi pengungsi, serta gempa 7,1 skala Richter yang menewaskan 225 orang di Mexico City. Erupsi Gunung Agung di Pulau Bali juga menarik perhatian dunia.

Sepanjang tahun ini, warga dunia juga dibuat ketar-ketir dengan provokasi Korea Utara yang menggelar uji coba rudal dan senjata nuklir. Ulah rezim Kim Jong-un sempat dikhawatirkan memicu Perang Dunia III.

Dan, meski ISIS telah melemah, serangan teror masih terjadi di sejumlah penjuru dunia.

Kematian massal juga terjadi bukan sebagai akibat teror. Setidaknya 50 orang tewas dan lebih dari 200 lainnya terluka kala rentetan peluru dimuntahkan Stephen Paddock di las Vegas. Insiden mematikan itu terjadi saat konser musik Route 91 digelar.

Sementara, kian dekat di penghujung tahun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara sepihak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Hal tersebut memicu gelombang protes, yang akibatnya juga bakal dirasakan tahun depan.

Selain kejadian-kejadian nyata, sejumlah teori konspirasi pun mewarnai 2017. Dari yang mustahil hingga menguji nalar dan logika.

Berikut 3 teori konspirasi paling mengguncang dunia yang terjadi pada 2017, seperti Liputan6.com kutip sebagian dari situs International Business Time:

 

 

 

1 dari 4 halaman

1. Kiamat Nibiru

Ramalan soal kiamat berseliweran sepanjang tahun 2017, terutama yang konon disebabkan planet liar bernama Nibiru yang konon akan menabrak Bumi.

Seorang numerolog bernama David Meade meramalkan, pada 23 September 2017, Bumi akan hancur.

Dikutip dari Washington Post sebuah video prediksi kiamat viral di dunia maya.

Dengan musik penuh efek dramatis dan grafik tentang kiamat, rekaman yang diunggah di situs berbagi video itu berjudul, September 23, 2017: You Need to See This.

Prediksi David Meade soal kiamat akibat Nibiru sempat membuat sejumlah orang khawatir. Namun, NASA tak tinggal diam. Badan Antariksa Amerika Serikat itu mementahkan ramalan Meade.

"Tak ada bukti sahih tentang keberadaan Nibiru. Tak ada foto, tak ada jejak, tak ada penglihatan astronomi," kata Morrison dalam video yang diunggah NASA, seperti dikutip dari Express.co.uk.

Belakangan, ketika ramalannya tak terbukti, Meade menyiapkan dalih.

Ia mengatakan, tanggal 23 September 2017 hanya akan ditandai dengan serangkaian peristiwa bencana yang akan terjadi selama beberapa minggu ke depan.

"Dunia tidak berakhir, tetapi sebagian besar dunia tak akan sama persis bentuknya pada awal Oktober mendatang," ujar Meade.

Masih soal Nibiru, sejumlah pencetus teori konspirasi mengklaim bahwa Planet Nibiru pembawa maut akan muncul pada hari Minggu 19 November 2017. Menurut mereka, Nibiru akan memicu gempa yang menghancurkan sehingga memusnahkan seluruh kehidupan di Planet Biru ini.

Para pencetus teori konspirasi pun berkoar, kiamat akan terjadi 19 November 2017. Demikian seperti dikutip dari Daily Mail.

Nibiru adalah sebuah planet yang belum dikonfirmasi keberadaannya. Namun, sejumlah orang meyakini bahwa planet tersebut berada di ujung tata surya dan mengorbit Matahari setiap 3.600 tahun sekali.

Ramalan soal Nibiru penyebab kiamat 19 November 2017, disebar oleh Planetxnews.com. Mereka menyebut bahwa meningkatnya gempa bumi dan erupsi gunung berapi disebabkan oleh gravitasi Nibiru, karena planet itu kian mendekat.

"Aktivitas seismik mencapai puncaknya pada minggu kedua November hingga Desember 2017," klaim salah satu penulis website tersebut, Terral Croft.

"Prediski gempa akibat penyelarasan Bumi melewati Matahari terhadap Bintang Hitam (Nibiru) dijadwalkan terjadi pada 19 November 2017," ujar Croft kepada Express.

2 dari 4 halaman

2. Rekayasa Pendaratan Manusia di Bulan

Ini sejatinya isu lama. Namun, dugaan bahwa pendaratan manusia di Bulan adalah rekayasa belaka mengemuka pada tahun 2017.

Teori konspirasi itu disebarkan lewat video di situs berbagi video oleh 'Streetcap1'

Mereka mengklaim mendapatkan bukti-bukti kepalsuan dari foto yang diambil dari permukaan Bulan pada misi Apollo 17, misi ekspedisi Bulan keenam sekaligus yang terakhir.

Mereka mengatakan, pelindung yang dipakai salah satu astronot merefleksikan bayangan seorang pria yang berdiri di permukaan Bulan tanpa mengenakan pakaian antariksawan.

Mereka mengklaim, gambar tersebut diambil dari lokasi pengambilan gambar film Hollywood. NASA dituduh membodohi publik.

Tak hanya misi Apollo 17, pendaratan manusia pertama di Bulan pada 21 Juli 1969 juga dituding sebagai sebuah dusta besar.

Pada tahun 1974, 2 tahun setelah misi Apollo 17, seorang penulis soal hal teknis bernama Bill Kaysing menerbitkan buku berjudul, 'We Never Went to the Moon' -- 'Kita Tak Pernah ke Bulan'. Dan tahun lalu Channel 5 menyiarkan dokumenter Fox berjudul, 'Did We Land On The Moon?'.

Ada sejumlah hal yang dianggap ganjil. Termasuk, bintang-bintang yang absen di langit Bulan, bendera yang ditanam Buzz Aldrin bisa berkibar padahal tak ada di sana, juga bayangan yang jatuh ke arah yang berbeda.

Kini, 45 tahun berlalu, tak ada salahnya kita kembali mengingat salah satu pencapaian terbesar manusia. Sekaligus meluruskan mitos yang mengecilkan arti pentingnya.

3 dari 4 halaman

3. Teori Bumi Datar

Perdebatan soal bentuk Bumi mengemuka sepanjang tahun 2017. Tidak sedikit orang atau kelompok di dalam masyarakat yang meyakini teori Bumi datar. Mereka tidak memercayai bukti yang disajikan citra satelit, yang menguatkan bahwa planet manusia sejatinya bulat.

Ragam teori ilmiah perihal bentuk Bumi sendiri terus mereka bantah dan mengatakan itu semua adalah tipuan atau hoax. Entah apa yang mendasari mereka mengatakan itu. Padahal di era teknologi canggih seperti saat ini, semua hal yang ditolaknya sudah jelas terpapar dan mudah digapai via internet.

Tapi tetap, meskipun banyak orang berkali-kali menertawakan apa yang mereka yakini, yang telah terbukti salah oleh berbagai teori ilmiah selama ribuan tahun, sebagian orang tetap memegang kuat anggapan Bumi datar itu.

Seorang pria bahkan membuat sebuah roket untuk membuktikan bahwa Bumi memang tidak bulat.

Ia adalah 'Mad' Mike Hughes, seorang pria berusia 61 tahun asal California, Amerika Serikat, yang sehari-hari berprofesi sebagai sopir limosin.

Hughes berencana untuk meluncurkan roketnya menuju angkasa luar pada akhir pekan ini.

Dimuat laman Independent, sang kakek membangun roket bertenaga uap itu dengan bahan dasar berupa logam bekas. Diperkirakan, ongkos pembuatan roket tersebut sekitar US$ 20 ribu atau Rp 270 juta, hanya untuk membuktikan bahwa Bumi datar.

Dia berencana untuk meluncurkan roketnya dengan kecepatan sekitar 804 km/jam di atas Gurun Mojave.

Alasan yang tidak ilmiah mendasari Hughes untuk melakukan misinya ini. Sebuah komunitas yang bernama Research Flat Earth, turut mensponsori dirinya untuk terbang membelah angkasa.

"Saya tidak percaya pada sains," ujar Hughes pada Associated Press.

"Saya tidak paham mengenai aerodinamika dan dinamika fluida, atau bagaimana sesuatu bergerak melalui udara. Tapi itu semua bukanlah sains, itu hanya rumusan. Tidak ada perbedaan antara sains dan fiksi ilmiah," tambahnya.

Dia menambahkan, penerbangan ini akan membawanya sejauh puluhan mil ke angkasa luar, demi membuktikan bahwa Bumi datar itu nyata adanya.

"Hal itu akan meruntuhkan anggapan bahwa Bumi berbentuk bundar. Pernyataan itu adalah tipuan besar. Saya akan membuktikannya," katanya. Kakek itu juga berharap, idenya ini dapat menguak rahasia tersembunyi lainnya.

Namun, upayanya itu gagal total. Ia dilarang oleh pihak berwenang. (Ein)

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Selanjutnya
Teori Konspirasi, 3 Orang Terkenal Ini Dibunuh oleh Illuminati?
Artikel Selanjutnya
Lukisan Lawas Ini Ramalkan Kejadian Mengerikan di Dunia?