Sukses

Uni Eropa Berikan Dana Bantuan Untuk Pengungsi Gunung Agung

Liputan6.com, Bali - Sejak beberapa hari terakhir, aktivitas Gunung Agung terus menggeliat. Meski masih dalam skala kecil, gunung setinggi 3.142 mdpl (meter di atas permukaan laut) itu terus erupsi hingga hari ini.

Menanggapi peristiwa alam itu, Uni Eropa (European Union) memberikan dana bantuan sebesar EUR 100.000 -- atau sekitar Rp 1,6 miliar -- kepada pengungsi di sekitar Gunung Agung.

Bantuan dibagikan untuk 11.000 orang di beberapa kabupaten yang terkena dampak erupsi terparah seperti di Bangli, Bulenleng, Gianyar, dan Karangasem, melalui Palang Merah Indonesia (Red Cross Society).

Menurut keterangan Uni Eropa, Rabu 13 Desember 2017, selain dana, jenis bantuan lain yang diberikan yakni penyediaan tempat pengungsian, air minum, perlengkapan bayi, fasilitas MCK (mandi-cuci-kakus), masker, dan layanan kesehatan.

Untuk memastikan evakuasi warga aman, Uni Eropa juga mengeluarkan pesan peringatan dini dan peningkatan kesadaran akan bahaya erupsi. Inisiatif ini diharapkan mampu memulihkan kondisi para pengungsi pasca bencana.

Pihak Uni Eropa menambahkan, pendanaan tersebut merupakan bagian dari kontribusi Uni Eropa untuk Disaster Relief Emergency Fund (DREF) of the International Federation of Red Cross dan juga Red Crescent Societies (IFRC).

1 dari 3 halaman

Jumlah Pengungsi Bertambah

Jumlah pengungsi akibat erupsi Gunung Agung, mencapai 10.950 jiwa. Jumlah itu bertambah 3.131 jiwa dari sebelumnya 7.819 jiwa.

"Para pengungsi asal Kabupaten Karangasem ini kami terima karena kediamannya berada di zona rawan bencana dan Pemkab Klungkung siap menerima kedatangan mereka," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klungkung, Bali, Putu Widiada di Posko GOR Swecapura, Kota Semarapura, Minggu (10/12/2107).

Dari data terakhir pada Sabtu 9 Desember malam, jumlah pengungsi akibat Gunung Agung meletus ini tercatat berada di Kecamatan Klungkung sebanyak 7.238 orang jiwa yang tersebar di 18 desa/kelurahan, Kecamatan Banjarangakan (1.433 orang yang tersebar di 13 desa), Posko GOR Swecapura (1,254 jiwa) dan Kecamatan Dawan (1.025 orang tersebar di 11 desa).

Dari total 10.950 pengungsi, ungkap Putu, tercatat sebanyak 521 jiwa yang bersekolah di Kabupaten Klungkung yang terbagi atas siswa TK/PAUD sebanyak 43 jiwa, sekolah dasar (283 jiwa), sekolah menengah pertama (186 jiwa) dan sekolah menengah atas (sembilan jiwa).

Putu Widiada menambahkan, petugas di Klungkung juga telah mendata pelayanan kesehatan yang telah diberikan tim kesehatan kepada pengungsi. Tercatat, petugas telah melayani pengobatan 380 bayi, balita (1.910 orang), ibu hamil (119 jiwa), lansia (4.321 jiwa), dewasa/umum (9.048 jiwa), dilakukan rujukan (91 jiwa).

"Secara keseluruhan ada 17.167 jiwa yang sudah diberikan penanganan kesehatan dari berbagai usia diseluruh pelayanan kesehatan di Klungkung," ujarnya seperti dilansir Antara.

Ia mengatakan, jumlah pasien yang telah ditangani di RSUD Klungkung tercatat mencapai 2.078 jiwa dengan tota klaim pelayanan pasien dari pengungsi Gunung Agung sebesar Rp1,7 milar, dengan rincian klaim layanan pasien umum Rp 1,23 miliar lebih dan pasien menggunakan jaminan kesehatan nasional (JKN) Rp 454 juta.

2 dari 3 halaman

Pengungsi Meninggal Dunia

Untuk data pengungsi yang meninggal dunia tercatat mencapai 32 jiwa dengan rincian usia lansia sebanyak 29 jiwa dan dewasa/umum sebanyak tiga jiwa.

"Untuk penggunan air di GOR dan pos-pos pengungsian yang ada di masing-masing balai banjar, untuk tagihan atas penggunaan air tersebut tidak dikenakan biaya oleh PDAM," kata Putu Widiada.

Sedangkan, PLN juga memberikan bantuan untuk layanan instalasi dan lampu penerangan dibeberapa posko pengungsian mencapai Rp 27,53 juta.

Artikel Selanjutnya
Swedia Segera Terbitkan Selebaran Peringatan Bahaya Perang
Artikel Selanjutnya
Konflik Tak Berkesudahan, 22 Juta Warga Yaman Butuh Bantuan