Sukses

Berkunjung ke Korea Utara, Ini yang Dibahas Pejabat Senior PBB

Liputan6.com, Pyongyang - Pejabat senior PBB mengatakan kepada sejumlah tokoh senior Korea Utara bahwa ada kebutuhan mendesak untuk menjaga terbukanya saluran komunikasi demi menghindari risiko perang.

Pernyataan tersebut menyusul dilakukannya kunjungan Kepala Departemen Urusan Politik PBB, Jeffrey David Feltman, ke Korut. Itu merupakan kunjungan yang dilakukan pejabat senior PBB ke negara pimpinan Kim Jong-un dalam enam tahun terakhir.

Dikutip dari BBC, Senin (11/12/2017), Korut mengatakan, pihaknya sepakat untuk melakukan komunikasi reguler dengan PBB.

Kekhawatiran yang dipicu perkembangan program senjata nuklir Korut makin meningkat setelah negara di Semenanjung Korea itu melakukan uji coba rudal balistik pada pekan lalu.

Korea Utara mengklaim, itu adalah rudal tercanggih yang mampu mencapai daratan Amerika Serikat.

Merespons uji coba tersebut, pada 10 Desember 2017, Korea Selatan mengatakan bahwa pihaknya bergabung dengan AS untuk memberlakukan sanksi baru terhadap Korut.

Dalam sanksi tersebut, 20 perusahaan dan 12 warga Korut dilaporkan telah dimasukkan ke dalam daftar hitam Korsel, yang mana daftar itu mulai berlaku per 11 Desember 2017.

Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Korsel mengatakan, langkah yang dilakukan oleh Seoul itu dirancang untuk memotong sumber pendanaan internasional bagi program rudal nuklir Korea Utara.

Selain Korsel dan AS, Dewan Keamanan PBB juga telah memberlakukan sejumlah sanksi terhadap Korea Utara.

 

1 dari 2 halaman

Pejabat PBB: Dunia Berkomitmen terhadap Pencapaian Solusi Damai

Setelah Feltman bertemu dengan pejabat senior Korea Utara, kedua belah pihak sepakat bahwa situasi saat ini merupakan yang paling menegangkan dan mengancam perdamaian di dunia.

"Feltman menggarisbawahi bahwa masyarakat internasional, yang khawatir dengan meningkatnya ketegangan, berkomitmen terhadap pencapaian solusi damai," demikian pernyataan yang memuat hasil pertemuan antara pejabat senior PBB itu dan pejabat Korea Utara.

Sebelum meninggalkan Pyonguang, Feltman mengadakan pembicaraan di China, negara yang menjadi sekutu Korea Utara dan mitra dagang utama.

Meski ada seruan dari para pemimpin dunia agar berbagai pihak menahan diri, Presiden AS Donald Trump dan Kim Jong-un beberapa kali menyerang satu sama lain melalui ucapan.

Meski demikian, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengatakan bahwa jalur komunikasi antara kedua belah pihak masih terbuka.

Selama ini, Korea Utara berpendapat bahwa kemampuan nuklir adalah satu-satunya penghalang terhadap pihak yang berusaha menghancurkan negaranya.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Selanjutnya
Korea Utara dan Selatan Gunakan Satu Bendera di Pawai Olimpiade
Artikel Selanjutnya
Korea Utara Akan Kirim Girlband Favorit Kim Jong-un ke Korsel?