Sukses

Ups, Melania Trump Salah Tweet soal Pearl Harbor

Liputan6.com, Washington - Tanggal 7 Desember 2017, warga Amerika Serikat memperingati hari berkabung nasional. Pada 76 tahun yang lalu, kekaisaran Jepang secara tiba-tiba menyerang markas besar Angkatan Laut AS di Pearl Harbor, Hawaii. Semua berantakan. Suara tembakan terus bergemuruh di sana. Tak sedikit pula pasukan AS yang gugur.

Ingatan tentang peristiwa penyerangan Pearl Harbor selalu dikenang oleh sebagian besar penduduk AS. Mulai dari warga sipil, veteran, pejabat pemerintahan, hingga Presiden dan Ibu Negara AS, termasuk Presiden Donald Trump dan istrinya, Melania Trump

Donald dan Melania Trump, mengunjungi pangkalan laut yang terletak di Pulau Oahu itu, Jumat, 3 November 2017. Di sana, keduanya mendatangi monumen peringatan--di mana nama-nama prajurit yang gugur terukir di sebuah dinding. Mereka kemudian menabur bunga ke laut.

Sebagai kelanjutan dari kunjungannya itu, Melania Trump lalu mengunggah status di akun Twitter resminya. Akan tetapi, ada satu keanehan yang terbaca oleh warganet.

Seketika, mereka mencemooh Melania dan menyindir twit tentang Pearl Harbor darinya. Apa yang salah?

"Hari ini kita menghormati Pahlawan Pearl Harbor. 11/7/1941 Terima kasih untuk semua pasukan atas keberanian dan pengorbananmu!" tulisnya melalui akun @FLOTUS, seperti dikutip dari The Washington Post, Kamis (7/12/2017).

Twitter FLOTUS yang salah tanggal mengenai Pearl Harbor. (Liputan6.com)

Ternyata, tanggal yang dia tulis mengenai serangan Pearl Harbor salah. Salah total. Netizen sudah telanjur membacanya dan menyimpan bukti dari twit Melania Trump.

Seharusnya, tanggal yang ditulisnya adalah 12/7/1941. Twit tersebut dengan cepat dihapus dari akun Melania. Sebagai gantinya, dia menulis kembali kalimat yang sama, dan tentu saja dengan tanggal yang berbeda.

Di bawah kicauannya itu, dia sisipkan sebuah foto dirinya, Trump, dan seorang Angkatan Laut. Ketiganya terlihat sedang "hormat" ke arah monumen. Sebuah karangan bunga berwarna putih juga tampak bersanding di depan mereka.

Kesalahan pengetikan numerik kerap terjadi di akun 'Orang Nomor Satu di AS'. 

Mungkin Melania Trump boleh sedikit lega, karena ternyata bukan cuma dirinya saja yang pernah salah tulis tanggal. Apalagi itu berkaitan dengan hari penting rakyat AS.

Pada 7 September 1988, Wakil Presiden George H.W. Bush pun pernah alpa soal Pearl Harbor. Ia mengira hari itu adalah Hari Pearl Harbor. Padahal jelas-jelas saat itu adalah bulan September.

Kesalahan ini ia utarakan dalam pidatonya di hadapan anggota Legiun Amerika (pasukan bala tentara yang terdiri atas 5.000–6.000 personel). Sontak, pidatonya membuat bingung para veteran yang juga ada di sana.

"Hari ini adalah Hari Pearl Harbor. Empat puluh tujuh tahun yang lalu sampai hari ini, kami diserang bertubi-tubi di Pearl Harbor dan kala itu kami belum siap," kata Bush.

Setelah kalimat itu terucap, ia langsung menyadari bahwa ada kekeliruan. Ia sadar ia salah dan mengkoreksi diri, ia meminta maaf kepada hadirin. Hal yang mengejutkan, yaitu Bush adalah pilot Armada Pasifik Angkatan Laut AS dalam Perang Dunia II.

 

1 dari 2 halaman

Sejarah Pearl Harbor

Pada 7 Desember 1941, armada Pasifik Angkatan Laut Amerika Serikat yang berlabuh di Pangkalan Pearl Harbor, Hawaii, nyaris tinggal puing, luluh lantak dihentak serangan mendadak pasukan Jepang.

Delapan belas kapal tenggelam atau kandas, termasuk lima kapal perang. Sekitar 188 jet tempur tak sanggup lagi mengudara. Yang paling mengenaskan adalah korban jiwa yang terenggut.

Sebanyak 2.403 warga Amerika Serikat meninggal dunia dan 1.178 lainnya luka. Saat kejadian, status mereka adalah non-kombatan. Kala itu Amerika Serikat tak sedang berperang. Belum. 

Kabar duka dari Pearl Harbor membuat warga Negeri Paman Sam sedih sekaligus murka. Presiden AS waktu itu, Franklin Delano Roosevelt (FDR), merasa perlu bertindak. 

Sehari setelah tragedi Pearl Harbor, FDR berjalan kepayahan karena polio yang dideritanya. Ia dipapah putranya, James, menuju Kongres AS. Siang itu FDR meminta persetujuan parlemen. Sang presiden berniat menabuh genderang perang melawan Jepang.

"Kemarin, 7 Desember 1941, adalah hari yang kekal dalam keburukan," kata FDR seperti dikutip dari situs History.

"AS secara tiba-tiba dan disengaja diserang oleh kekuatan laut dan udara Kekaisaran Jepang.  Tak peduli berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk mengatasi invasi yang terencana ini, orang-orang Amerika, yang berada di pihak yang benar, niscaya akan meraih kemenangan mutlak." 

Pidato Roosevelt yang berdurasi 10 menit, diakhiri dengan sebuah doa. "Maka, bantulah kami, Tuhan."

Hanya dalam satu jam, sang Presiden memperoleh restu Kongres, nyaris secara bulat. Hasil pemungutan suara di Senat adalah 82:0, sementara di Kongres 388:1.

Deklarasi perang ditandatangani pada pukul 16.10. Kala itu, kain hitam melingkar di lengannya Roosevelt, simbol dukacita untuk Pearl Harbor.

Rasa nasionalisme membuncah di seluruh Amerika Serikat, dari Pantai Timur ke Pantai Barat. 

Rakyat memobilisasi diri, bergabung dalam satuan pertahanan sipil. Di New York, Wali kota Fiorello LaGuardia memerintahkan penangkapan warga keturunan Jepang. Mereka kemudian dikirim Pulau Ellis dan ditahan tanpa batas waktu.

Di California, sistem baterai anti pesawat dipasang di Long Beach dan Hollywood Hills. Laporan tentang aktivitas mata-mata warga Amerika Serikat keturunan Jepang mengalir deras ke Washington DC, meski mereka telah menyatakan kesetiaan pada AS, bukan negeri leluhurnya. 

Serangan Jepang ke Pearl Harbor menyeret Amerika Serikat ke pusaran Perang Dunia II.

Dan, seperti sumpah Franklin Delano Roosevelt, Amerika Serikat keluar sebagai pemenang. Dua bom atom, Little Boy dan Fat Boy menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki. 

Akibatnya sungguh luar biasa, ribuan orang tewas seketika. Ironisnya, insiden bom nuklir pertama dan satu-satunya yang digunakan manusia di tengah pertempuran itu mengakhiri Perang Dunia II yang sudah menyudahi jutaan nyawa manusia. 

Artikel Selanjutnya
Diam-Diam Ivanka Trump Dijuluki 'Putri Kerajaan'
Artikel Selanjutnya
7 Fakta yang Tidak Diketahui Publik Tentang Ivanka Trump