Sukses

Menlu Rusia: Korea Utara Terbuka Berdialog dengan AS

Liputan6.com, Vienna - Korea Utara terbuka untuk melakukan pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat terkait krisis nuklir yang memicu permusuhan antara keduanya. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

Lavrov menyatakan bahwa ia telah menyampaikan perihal tersebut kepada mitranya, Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson saat keduanya bertemua di Wina, Austria, pada Kamis 7 Desember kemarin.

Pihak Tillerson belum memberikan tanggapan, namun posisi resmi Kementerian Luar Negeri AS adalah Korea Utara harus menunjukkan keseriusan untuk meninggalkan program nuklir. Itu merupakan bagian dari kesepakatan komprehensif sebelum dialog dapat dimulai.

Pernyataan Lavrov ini bertepatan dengan kunjungan seorang pejabat tinggi PBB, Jeffrey Feltman ke Korea Utara di mana ia bertemu dengan Menteri Luar Negeri Ri Yong-ho. Itu merupakan kunjungan pejabat tinggi pertama ke Korea Utara dalam enam tahun terakhir.

Feltman adalah warga negara dan mantan diplomat AS. Namun Kemlu AS menekankan bahwa ia tidak menyambangi Korea Utara dalam kapasitasnya sebagai utusan AS.

"Kami tahu bahwa Korea Utara sangat ingin berdialog dengan AS tentang jaminan keamanannya. Kami siap mendukungnya, kami siap ambil bagian dalam memfasilitasi negosiasi semacam itu. Mitra AS kami (termasuk) Rex Tillerson, telah mendengar kabar ini," tutur Tillerson seperti dilansir kantor berita Interfax dan dikutip dari The Guardian pada Jumat (8/12/2017).

Opsi diplomatik menggeliat di tengah meningkatnya desakan untuk menemukan cara baru meredakan ketegangan terkait uji coba nuklir dan rudal Korea Utara yang dinilai semakin ambisius.

Kebuntuan krisis nuklir Korea Utara mencapai puncak baru pada 29 November, ketika negara itu melakukan uji coba rudal antarbenua (ICBM) baru, Hwasong-15, yang disebut mampu mencapai Washington, New York dan seluruh wilayah AS. Sebelumnya, pada September 2017, Korea Utara juga telah melakukan uji coba bom hidrogen.

1 dari 2 halaman

Latihan Gabungan AS-Korsel Bikin Korut Berang

Pyongyang mengatakan bahwa latihan gabungan AS-Korea Selatan yang melibatkan ratusan pesawat tempur dan berbagai retorika keras Washington telah menjadikan pecahnya perang di Semenanjung Korea sebagai "fakta yang tak bisa dihindari".

"Pertanyaannya sekarang adalah: kapan perang akan meletus?," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara pada Rabu waktu setempat.

Pejabat Korea Utara dalam pertemuan informal belum lama ini mengatakan mereka sangat prihatin dengan ancaman "pemenggalan", yang ditujukan untuk menghabisi nyawa Kim Jong-un dan melumpuhkan sistem komando serta kontrol militer sebelum Pyongyang meluncurkan rudalnya.

Ketegangan yang meningkat dan retorika mengancam telah memicu keresahan di seluruh dunia hingga kedua belah pihak dikhawatikan tak mampu menahan diri untuk mendeklarasikan perang.

Pyongyang sendiri menolak setiap usulan yang berujung pada perlucutan program nuklir dan rudalnya. Rezim tersebut bersikeras ingin dipandang sebagai kekuatan nuklir dunia.

Sementara, AS menolak usulan "freeze for freeze" yang diajukan Rusia dan China. Usulan tersebut berbunyi, Washington harus mmebatasi latihan militernya di kawasan dan Pyongyang menangguhkan uji coba nuklirnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Heather Nauert mengatakan bahwa pembicaraan langsung dengan Korea Utara "tidak ada di atas meja sampai mereka bersedia melakukan denuklirisasi".

Meski demikian, Korea Utara dan AS dikabarkan menjalin kontak informal tahun ini yang melibatkan Joseph Yun, perwakilan khusus AS untuk kebijakan Korea Utara. Namun kontak yang dikenal dengan sebutan "New York channel" itu diputus oleh Korea Utara setelah Trump melontarkan ancaman saat berpidato di hadapan Sidang Majelis Umum PBB pada September 2017.

Kabar lain menyebut terdapat indikasi yang menunjukkan bahwa Pyonyang mungkin tertarik untuk memulihkan saluran komunikasi tersebut.

Artikel Selanjutnya
Terkuak, Ini Daftar Negara yang Jadi Mitra Dagang Korea Utara
Artikel Selanjutnya
Pasca-Uji Coba Nuklir Korut, Trump Setuju Jual Senjata ke Korsel