Sukses

Vladimir Putin Kembali Calonkan Diri dalam Pilpres Rusia 2018

Liputan6.com, Moskow - Vladimir Putin mengonfirmasi bahwa ia akan maju dalam pemilihan presiden Rusia yang digelar tahun depan. Selama ini, kabar tersebut masih menjadi tanda tanya besar.

"Ya, saya akan mencalonkan diri sebagai presiden Rusia," kata Putin saat bertemu dengan para pekerja di pabrik Gorkovsky Avtomobilny Zavod di Nizhny Novgorod, Rabu waktu setempat, seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (7/12/2017).

"Negara adalah rakyat, seperti Anda semua. Negara adalah pekerja, ilmuwan, insinyur, perancang, guru, dan doktor," tutur Putin di hadapan pekerja dan veteran pabrik tersebut seraya menambahkan bahwa dengan keterlibatan aktif rakyat, Rusia dapat menghadapi tantangan yang paling rumit sekalipun.

Pilpres Rusia mendatang yang dijadwalkan berlangsung pada 18 Maret akan menjadi yang keempat kalinya dalam karier politik Putin. Pria berusia 65 tahun tersebut sebelumnya menjabat Presiden untuk dua periode, yakni pada 2000 hingga 2008. Kemudian, ia menjadi Perdana Menteri pada 2008 hingga 2012.

Jabatan ketiga diemban Putin pada 2012 hingga hari ini. Media Rusia melaporkan bahwa Putin akan maju sebagai kandidat independen, tapi hal ini belum dikonfirmasi.

Putin dilaporkan menikmati tingkat kepercayaan yang tinggi dari rakyatnya. Menurut jajak pendapat yang dilakukan VTSIOM, Putin setidaknya mengantongi dukungan 82 persen pada akhir September.

1 dari 2 halaman

'Paris Hilton' Rusia Maju dalam Pemilihan Presiden 2018

Seorang sosialita Rusia, Ksenia Sobchak, maju dalam pemilihan presiden yang akan digelar pada Maret 2018. Meski demikian, ia mengaku bahwa langkah yang akan ditempuhnya tak mudah.

Kremlin menyambut baik pencalonannya dengan mengatakan bahwa pengajuan dirinya itu sepenuhnya bersifat konstitusional.

Dikutip dari BBC, Kamis, 19 Oktober 2017, Sobchak mengaku mendukung tokoh oposisi, Alexei Navalny, yang dilarang maju dalam pilpres 2018 karena terbukti melakukan penipuan -- yang Navalny sebut dibuat-buat. Saat ini, Navalny menjalani hukuman penjara 20 hari karena telah mengorganisasi unjuk rasa yang tak diberi izin oleh pihak berwenang.

Meski sama-sama dari pihak oposisi, Navalny telah memperingatkan Sobchak agar tak maju dalam pilpres. Beberapa pihak pun memprediksi adanya perpecahan di pihak oposisi.

Sobchak, seorang sosialita yang beralih menjadi jurnalis dan presenter TV, mengatakan, ia ingin menjadi "corong" bagi mereka yang tak bisa menjadi kandidat.

"Saya melawan revolusi, tapi saya adalah perantara dan pengorganisasi yang baik," tulis Sobchak dalam sebuah surat yang diterbitkan dalam situs bisnis Vedomosti.

Perempuan berusia 35 tahun itu adalah anak dari mantan Wali Kota Saint Petersburg, Anatoly Sobchak. Ia dikenal sebagai guru politik Putin.

Sobchak yang dijuluki sebagai "Paris Hilton Rusia", mendapat ketenaran setelah tampil dalam sebuah reality show populer berjudul Dom-2.

Seorang warga negara Rusia yang tak didukung partai politik, atau dikenal dengan calon independen, berhak mendaftar sebagai calon presiden setelah ia mengumpulkan setidaknya 300.000 tanda tangan.

Artikel Selanjutnya
Putin Akan Kembali Mengusir Diplomat AS dari Rusia?
Artikel Selanjutnya
Pertemuan Mendadak PM Israel dengan Presiden Putin, Ada Apa?