Sukses

Dukung Palestina, Menlu RI Kenakan Syal Buatan Para Janda Syuhada

Liputan6.com, Tangerang - Di tengah tensi tinggi usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Indonesia kembali menegaskan posisinya di mata dunia.

Tak tanggung-tanggung, penegasan itu disampaikan RI dalam perhelatan forum demokrasi internasional rutin, yakni Bali Democracy Forum ke-10 yang dilaksanakan di Banten pada 7-8 Desember 2017.

Perhelatan itu dihadiri oleh ratusan delegasi setingkat presiden, menteri, dan diplomat dari 96 negara, termasuk salah satunya perwakilan diplomatik AS di Indonesia.

Saat menyampaikan pidato pembuka BDF, Menlu Retno dengan tegas menyatakan, "Kami (Indonesia) mengecam pengakuan tersebut."

Selain menyatakan secara lisan terkait situasi tersebut, Menlu Retno juga melakukan penegasan sikap secara simbolik, yakni dengan mengenakan syal bermotif bendera Palestina.

Syal itu pun ia pamerkan dihadapan para delegasi BDF.

Retno menjelaskan latar belakang di balik keputusannya untuk mengenakan syal yang berwarna putih dengan garis hitam tipis itu.

"Saya mengenakan dan menunjukkan syal ini untuk menunjukkan komitmen Indonesia, bahwa pemerintah dan masyarakatnya selalu bersama Palestina," kata Retno.

Mantan Dubes RI untuk Belanda itu melanjutkan, "Syal ini dibuat oleh para janda yang hidup di Gaza, Palestina. Cerita di balik syal ini sangat menyentuh hati. Para janda ini para korban perang, dan korban macam-macam, ya (terkait situasi di Palestina)."

Retno menambahkan bahwa syal tersebut dibawa oleh salah satu orang Indonesia yang sudah hidup di Gaza beberapa tahun. Pria itu diketahui bernama Abdillah Onim, aktivis Indonesia untuk Palestina.

"Bapak (Onim) itu adalah mitra kita (Indonesia) untuk memimpin penyaluran bantuan kepada Palestina, yang juga menyasar kepada para janda di sana," kata Retno.

 

1 dari 2 halaman

Trump Resmi Akui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel

Presiden AS Donald Trump pada Rabu waktu Washington secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Keputusannya tersebut "bertentangan" dengan kebijakan luar negeri AS yang telah berjalan selama tujuh dekade.

Pengumuman Trump sekaligus menandai langkah awal pemindahan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

"Hari ini, akhirnya kita mengakui hal yang jelas: bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel. Ini tidak lebih dari sekadar pengakuan akan realitas. Ini juga hal yang tepat untuk dilakukan. Ini hal yang harus dilakukan," ujar Trump saat berpidato di Diplomatic Reception Room, Gedung Putih, seperti dikutip dari nytimes.com.

Selama tujuh dekade, AS bersama dengan hampir seluruh negara lainnya di dunia, menolak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel sejak negara itu mendeklarasikan pendiriannya pada 1948. Sementara, menurut Trump, kebijakan penolakan tersebut membawa seluruh pihak "tidak mendekati kesepakatan damai antara Israel-Palestina".

"Akan menjadi kebodohan untuk mengasumsikan bahwa mengulang formula yang sama persis sekarang akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda atau lebih baik," ungkap Presiden ke-45 AS tersebut.

Pengakuan terhadap Yerusalem, menurut Trump, adalah "sebuah langkah terlambat untuk memajukan proses perdamaian".

Trump sebelumnya telah bersumpah akan menjadi perantara "kesepakatan akhir" antara Israel dan Palestina. Terkait hal ini, ia menegaskan bahwa dirinya tetap berkomitmen untuk melakukan hal tersebut mengingat "itu sangat penting bagi Israel dan Palestina".

Ayah lima anak itu mengatakan keputusannya untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel tidak seharusnya ditafsirkan bahwa AS mengambil posisi tertentu atau bagaimana kota itu akan dibagi.

"Dalam pengumuman ini, saya ingin mempertegas satu hal: keputusan ini tidak dimaksudkan, dengan cara apa pun, untuk menunjukkan penarikan diri dari komitmen kuat kami untuk memfasilitasi kesepakatan perdamaian abadi. Kami menginginkan sebuah kesepakatan yang menjadi kesepakatan baik bagi Israel maupun Palestina."

"Kami tidak mengambil posisi untuk status akhir pada isu-isu tertentu, termasuk perbatasan spesifik kedaulatan Israel di Yerusalem atau resolusi perbatasan yang diperdebatkan. Itu menjadi urusan pihak-pihak yang terlibat," ujar Trump.

Sebagai gantinya, Trump menekankan dimensi politik dalam negeri atas keputusannya tersebut. Ia mengatakan bahwa dalam kampanye Pilpres 2016, ia telah berjanji untuk memindahkan Kedubes AS ke Yerusalem yang berarti mengakui kota itu sebagai ibu kota Israel.

"Presiden-Presiden sebelumnya telah menjadikan itu sebagai janji utama dalam kampanye mereka, tapi mereka gagal mewujudkannya. Hari ini, saya melakukannya," tutur suami dari Melania tersebut.

Meski tidak disinggung dalam pidatonya, Trump dilaporkan akan tetap menandatangani perintah suspensi per enam bulan untuk menunda kepindahan Kedubes AS ke Yerusalem. Pejabat Gedung Putih menjelaskan bahwa hal tersebut harus dilakukan mengingat butuh waktu beberapa tahun untuk "memboyong" misi diplomatik AS ke Yerusalem.

Trump menyadari pertentangan yang timbul atas keputusannya. "Jadi hari ini, kami serukan agar ketenangan, sikap menahan diri, suara-suara toleransi harus menang atas penebar kebencian".