Sukses

Kisah Pemuka Agama dan Doa Terakhir Sebelum Titanic Karam...

Liputan6.com, Cape Race - Tenggelamnya kapal pesiar Titanic menceritakan sebuah kisah abadi yang masih terus diingat hingga kini. Hal itu diperkuat dengan diangkatnya insiden tersebut menjadi sebuah film oleh James Cameron, dengan dibintangi oleh Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet yang memerankan tokoh fiktif Jack dan Rose.

Cameron dan tim dapat memvisualkan peristiwa kapal tenggelam dengan sangat mengerikan. Terdapat satu scene, di mana tampak seorang pastor yang berdoa dan menenangkan penumpang lain di sekelilingnya ketika satu bagian kapal sudah miring ke bawah. Sosok tersebut nyata, dan bernama Thomas Byles.

Kisah aslinya sama seperti dalam film, sang pastor hanyut bersama banyak penumpang lainnya. Meskipun dirinya hilang ditelan lautan, tetapi tindakannya tetap diingat banyak orang.

Dikutip dari The Vintage News, Rabu (06/12/2017), Thomas Byles lahir di Leeds, Inggris pada 26 Februari 1870. Dia adalah anak sulung dari tujuh bersaudara dalam keluarga Pendeta Alfred Holden Byles, seorang Menteri Kongregasionalis yang terkenal.

Dia terlahir sebagai seorang Protestan, dengan nama lahir Roussel Davids Byles. Byles memulai pendidikannya di Leamington College dan Rossall School, lalu lanjut mengambil studi matematika - sejarah modern - teologi di Balliol College, Oxford, pada 1889.

Di sana, dia mengikuti jejak saudara laki-lakinya William untuk menjadi seorang Katolik. Byles lalu dibaptis pada 23 Mei 1894 di Gereja St. Aloysius Oxford, dan berganti nama menjadi Thomas Byles.

Setelah lulus, Byles meninggalkan Oxford dan bergabung bersama William di Jerman untuk melanjutkan studi. Setelahnya, dia kembali ke Inggris dan menjadi seorang pengajar di St. Edmund College, Ware, Hertfordshire.

Merasa tidak mendapat tantangan dalam mengajar, pada 1899 dia pergi ke Roma untuk belajar kepastoran. Byles ditasbihkan sebagai pastor pada 15 Juni 1902, dan menjadi pemuka agama di Roma selama beberapa bulan.

Pastor Byles kembali ke Inggris pada 1903 dan mengabdikan diri untuk keyakinannya. Dua tahun berselang, dia ditugaskan di Gereja St. Helen di Ongar, Essex.

Pada saat itu, William pindah ke New York untuk menikah dengan sang belahan jiwa. William ingin saudaranya menjadi penghulu pernikahan, membuat Byles lalu diundang ke Amerika Serikat. 

Pastor Byles menyetujuinya, lalu berangkat ke Negeri Paman Sam dari Southampton untuk berlayar bersama kapal Titanic.

Dia mendapat tiket kelas dua di kapal pesiar supermegah tersebut, seraya membuat janji dengan Kapten Edward Smith untuk mendapatkan ruang demi mengadakan misa. Byles juga turut membawa batu altar portabel beserta seragam pastornya, untuk melaksanakan apa yang telah ia janjikan bersama kapten kapal.

Misa terakhir yang Pastor Byles adakan di kapal bersama para penumpang kelas dua dan tiga terjadi pada 14 April 1912. Pada tanggal yang sama, pukul 23.40, Titanic berhenti bergerak setelah menabrak gunung es.

Pada saat insiden terjadi, Byles sedang berada di dek atas, berpakaian lengkap dengan jubah kepastorannya. Mendengar kabar kecelakaan tersebut, ia segera turun ke bawah untuk menyelamatkan penumpang seperti ibu dan anak-anak, menggendong mereka ke atas sekoci penyelamat.

Ketika Titanic semakin tenggelam, Pastor Byles tetap berada di kapal dengan banyak penumpang lainnya yang gagal menyelamatkan diri, sembari menenangkan dan mendoakan mereka.

Setelah sekoci penyelamat terakhir pergi, Pastor Byles naik ke atas dek untuk memulai doa Rosario. Orang-orang langsung berkumpul mengelilinginya, berdoa untuk keselamatan mereka. Byles terus berdiri di tempat itu hingga akhir menjemputnya.

Pada 15 April pukul 02.20, pastor itu tewas di lautan dingin Samudra Atlantik, bersama sekitar 1.500 orang lainnya.

Banyak orang yang kemudian mengapresiasi keberanian Pastor Byles, termasuk saudaranya William. Dia yang harus menjalani pernikahan tanpa Pastor Byles kemudian menggelar sesi duka pasca-pernikahan, dengan menghadiri misa yang ditujukan untuk Thomas Byles. Beberapa hari setelahnya, William dan sang istri menyempatkan diri untuk mengunjungi Kota Roma untuk menemui Paus Pius X, seseorang yang mengangkat Byles menjadi martir Gereja.

Sementara itu, keluarganya di Inggris membuatkan sebuah pintu, prasasti, dan foto yang tertempel di dinding Gereja St. Halen, untuk mengenang wafatnya Pastor Byles bersama Titanic.

1 dari 2 halaman

Pemuka Agama Titanic Lainnya

Selain Pastor Thomas Byles, tokoh agama lain yang menonjol dalam tragedi Titanic adalah Pendeta Hind. Ia memimpin pemakaman massal korban bahtera karam itu di atas Kapal Mackay Bennett.

Jasad-jasad beku itu dikumpulkan 9 hari setelah Titanic menabrak gunung es. Dibungkus kantung mayat dan ditumpuk di pinggiran dek. Lalu, dua kru kapal menggunakan tandu, menjatuhkan mereka satu per satu ke laut, dari sisi kapal.

Kebanyakan korban yang dijatuhkan ke laut diduga adalah mereka yang tak diketahui identitasnya, atau penumpang kelas 3, kelas geladak, yang tak mampu membayar biaya pemakaman.

Mackay Bennet adalah kapal berbendera Kanada yang dikontrak pihak pemilik Titanic, White Star Line, seharga 300 Poundsterling per hari untuk mengangkat jasad para korban. Sementara Kapal Carpathia berhasil menyelamatkan lebih dari 700 korban selamat dari sekoci-sekoci.

Dalam penjelasannya soal pemakaman, Pendeta Hind menulis, siapapun yang menghadiri pemakaman di laut pasti akan merasakan kesan berbeda dari pemakaman di darat. Namun, "Atlantik mungkin ganas, tapi mereka yang dimakamkan di dalamnya akan beristirahat dalam damai."