Sukses

Rudal Tercanggih Milik Korea Utara Masih 'Bermasalah', Apa Itu?

Liputan6.com, Washington, DC - Rudal balistik antarbenua termutakhir Korea Utara, yang menurut analisis berbagai pihak mampu menjangkau daratan Amerika Serikat, dinilai masih memiliki sejumlah masalah krusial. Demikian menurut sejumlah pejabat dari AS dan Korea Selatan.

Pejabat kedua negara itu menyimpulkan, rudal Korea Utara masih memiliki kekurangan, di antaranya dalam proses masuk kembali ke atmosfer Bumi (re-entry) lalu menuju sasaran, demikian seperti dikutip dari Independent, Selasa (5/12/2017).

Meski tes rudal teranyar Korea Utara -- diketahui bernama Hwasong-15 -- mampu membuat Washington DC masuk dalam jangkauannya, Pyongyang masih perlu menguasai teknologi yang penting, kata deputi urusan kebijakan pertahanan untuk Kementerian Pertahanan Korea Selatan, Yeo Suk-joo.

"Yakni terkait proses re-entry; sistem pemandu yang aktif dalam tahap terakhir roket, sesaat sebelum senjata menghantam target (terminal stage guidance); dan proses aktivasi hulu ledak (warhead activation)," tambahnya.

Sementara itu, pejabat Amerika Serikat turut memiliki pendapat yang serupa, khususnya terkait masalah dalam proses 're-entry'.

Pejabat yang anonim itu juga memprediksi, masih perlu 2 - 3 kali tes lagi agar rudal tersebut mampu membawa hulu ledak nuklir. 

Kendati demikian, kemampuan rudal teranyar Hwasong-15 untuk dapat terbang lebih tinggi dan lebih lama dari misil sebelumnya, menunjukkan kesungguhan niat Korea Utara untuk menyerang AS, demikian kata sang pejabat.

1 dari 2 halaman

Diklaim Mampu Menjangkau Washington DC

Rudal balistik antarbenua (ICBM) teranyar yang diluncurkan Korea Utara pada 29 November, diperkirakan oleh para pakar memiliki kapabilitas untuk menjangkau ibu kota Amerika Serikat, Washington DC.

Pakar menambahkan, misil itu juga diprediksi dapat menjangkau hampir sebagian besar wilayah AS.

Seperti dikutip dari CNBC 29 November 2017, Korea Utara menembakkan rudal melambung ke atas langit hingga setinggi 4.500 km dan kemudian mendarat di Laut Jepang, atau sekitar 1.000 km dari titik peluncuran awal.

"Selama 50 menit, rudal terbang semakin tinggi. Bahkan, lebih tinggi dari rudal-rudal yang sebelumnya sudah mereka lakukan," kata Menteri Pertahanan Amerika Serikat James Mattis.

David Wright, direktur program keamanan global untuk firma analis nonprofit Union of Concerned Scientist menyebut, ICBM Korea Utara teranyar itu mampu menempuh jarak yang lebih jauh jika meluncur dalam jalur lintasan semi-horizontal.

Dalam uji coba peluncuran Rabu dini hari, rudal tersebut ditembakkan dalam posisi nyaris vertikal, bukan dalam lintasan biasa. 

"Rudal semacam itu akan memiliki jarak yang lebih dari cukup untuk mencapai Washington DC. Bahkan, sebenarnya mampu mencapai sebagian besar daratan Amerika Serikat," kata Wright.

Sementara itu, Scott Seaman, direktur biro Asia untuk firma konsultan Eurasia Group, sependapat dengan pernyataan Wright.

"Jika diluncurkan pada lintasan rata, misil itu bisa menempuh perjalanan hingga mencapai jarak sejauh 13.000 km. Jarak itu cukup untuk mencapai Washington DC," tambah Seaman.

Kendati demikian, rudal teranyar Korea Utara yang diluncurkan pada 29 November itu belum tentu mampu dipersenjatai dengan hulu ledak nuklir.

"Kita tidak tahu muatan apa yang dibawanya, sehingga tidak jelas apakah rudal itu mampu menjangkau jarak yang sama jika membawa hulu ledak nuklir. Ditambah lagi, kita juga belum tahu pasti, apakah hulu ledak nuklir Korut telah benar-benar dibuat dan bisa dipasang pada rudal mereka," tambah Wright.

Sementara itu, Michael Elleman, analis senior di International Institute for Strategic Studies dan kelompok observator 38 North memberikan pandangan yang berbeda.

"Perlu ada pemeriksaan mendalam sebelum mencapai kesimpulan mengenai performa dan reliabilitas misil tersebut. Kita juga perlu mengetahui isi muatan secara presisi untuk menganalisis jangkauan rudal tersebut," kata Elleman.

Pada kesempatan yang berbeda, Menteri Pertahanan AS Jim Mattis mengatakan, rudal teranyar Korea Utara "dapat mengancam lokasi di mana pun di dunia".

Ia menambahkan, "Korea Utara terus melakukan pengembangan dan pembangunan rudal yang membahayakan perdamaian dunia, regional, dan Amerika Serikat."

Artikel Selanjutnya
AS dan Rusia Beda Pendapat Soal Sanksi Kepada Korea Utara
Artikel Selanjutnya
3 Alasan Mengapa AS Sulit Menyerang Korea Utara