Sukses

Obama Sindir Kekosongan Kepemimpinan AS dalam Isu Iklim

Liputan6.com, Paris - Sudah menjadi pengetahuan bahwa Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump tak percaya dengan perubahan iklim dan pemanasan global.

Semenjak menghuni Gedung Putih, Donald Trump merombak hal-hal terkait energi terbarukan, pemanasan global serta perubahan iklim. Orang Nomor Satu AS itu pun membuat Perintah Eksekutif yang mengembalikan 'kejayaan' batu bara.

Puncaknya, Donald Trump menarik diri dari Perjanjian Iklim Paris warisan pemerintahan Presiden Barack Obama. Langkah itu dikecam tak hanya oleh para pemerhati lingkungan tapi oleh seluruh dunia.

Baru-baru ini, mantan Presiden Obama menggelar makan siang tertutup dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan mantan orang nomor satu Negeri Fashion, Francois Hollande.

Dikutip dari VOA Indonesia pada Senin (4/12/2017), pertemuan itu diadakan tertutup. Namun, Presiden Macron mengatakan pertemuan itu akan mencakup presentasi mengenai Yayasan Obama. Wartawan tidak diperbolehkan meliput acara itu.

Dalam Twitter-nya, mantan Presiden Hollande menyinggung pertemuan itu juga membahas perubahan iklim dan pemanasan global, termasuk isu-isu yang mereka bahas hampir dua tahun setelah mereka berdua menandatangani perjanjian Paris.

"Kami yakin perjanjian Paris akan diimplementasikan," kata Hollande melalui cuitan di Twitter.

Menurut Hollande, Obama menyinggung soal perubahan iklim dalam pidatonya. Merujuk pada ancaman Trump yang menarik diri dari kesepakatan Paris, suami dari Michelle itu menyindir adanya "kekosongan kepemimpinan AS mengenai isu itu," yang disambut gelak tawa hadirin.

"Meskipun demikian, kita melihat perusahaan-perusahaan dan negara-negara bagian dan kota-kota di Amerika terus bekerja untuk menolak mundur dari Perjanjian Paris isu ini," kata Obama.

Obama berada di Paris selama lima hari. Selain bertemu Presiden Macron dan membahas isu iklim serta pemanasan global, ia juga berpidato di hadapan para pemimpin bisnis.

Artikel Selanjutnya
Dubes RI Minum Teh Bersama PM Australia, Ini yang Dibahas
Artikel Selanjutnya
Wapres AS: Venezuela Berisiko Jadi Negara Gagal