Sukses

28-11-1520: Pelaut Portugis Temukan Rute Singkat Pasifik-Atlantik

Liputan6.com, Madrid - Hari ini, 493 tahun yang lalu, selat yang menjadi rute singkat dari Samudera Pasifik ke Atlantik muncul untuk pertama kalinya dalam catatan sejarah pelayaran dan ekspedisi bangsa Eropa.

Sejumlah kapal yang dipimpin oleh navigator Portugis, Ferdinand Magellan menjadi armada asal Eropa pertama yang melintasi perairan sempit nan berbahaya itu pada 28 November 1520. Demikian seperti dikutip dari History.com, Selasa (28/11/2017).

Awal mula Magellan menemukan selat itu bermula pada 20 September 1519, ketika dirinya memimpin pelayaran dari Spanyol menuju Nusantara demi mencari rempah-rempah. Ia mengepalai armada lima kapal dengan total awak 270 orang yang berasal dari Spanyol dan Portugis.

Dari Spanyol, Magellan berlayar ke Afrika Barat dan menyeberangi Samudera Atlantik untuk menuju Amerika Selatan.

Setibanya di Amerika Selatan, Magellan menyusuri pesisir timur kawasan itu untuk mencari celah perairan yang mampu mengantarkannya langsung ke laut barat benua tersebut, alias kawasan Samudera Pasifik.

Pertama-tama, Magellan tiba di Rio de la Plata, celah perairan besar di Brazil selatan. Saat mengarungi rute itu, sang navigator Portugis menaruh harapan besar, berangan bahwa jalur tersebut akan mengantarkannya menuju Samudera Pasifik.

Namun tak disangka, Rio de la Plata hanya sebuah muara sungai, bukan selat yang dimaksud oleh sang pelaut.

Magellan pun lanjut menyusuri kawasan timur Amerika Selatan dan tiba di Pantai Patagonia, Argentina. Lagi-lagi, pelaut itu mengalami kegagalan.

Pada Maret 1520, Magellan berhasil tiba di Puerto San Julian, Patagonia, Argentina. Apa daya, San Julian hanya sebuah muara dengan ujung yang berupa daratan.

Sebagai bentuk kekecewaan atas sejumlah kebuntuan tersebut, beberapa perwira yang berasal dari Spanyol melakukan pemberontakan kepada Magellan pada Agustus 1520. Namun, navigator asal Portugis itu berhasil meredam kecamuk anak buahnya, dengan membunuh beberapa perwira Spanyol dan meninggalkan sejumlah lainnya di Puerto San Juan.

Usai meninggalkan Puerto San Juan, Magellan Cs berhasil menemukan celah perairan yang ia cari-cari.

Pada 21 Oktober, Magellan menemukan selat itu di ujung Amerika Selatan, memisahkan gugus kepulauan Tierra del Fuego dengan daratan utama Argentina.

Jalur yang berbahaya menyebabkan sejumlah permasalahan bagi armada yang dipimpin Magellan. Satu kapal hancur di tengah perjalanan dan satu lainnya melakukan desertir.

Akhirnya, hanya tiga kapal yang melanjutkan perjalanan di perairan yang sempit nan berbahaya itu.

Butuh waktu 38 hari bagi tiga kapal tersebut untuk menavigasi selat itu. Dan, ketika hamparan laut luas terlihat di ufuk, Magellan menitikkan air mata tanda suka cita.

Mereka tiba di laut luas nan bersahabat, sehingga diberi nama Pasifik yang berasal dari Bahasa Latin 'pacificus' yang berarti 'tenang'.

Pada 6 Maret 1521, armada Magellan tiba di Guam. Sepuluh hari kemudian, mereka menjatuhkan jangkar di Pulau Cebu, Filipina.

Setelah sepakat memeluk agama kristen, suku lokal di Cebu meminta Magellan Cs membantu mereka untuk berperang menaklukkan suku saingan di Pulau Macan.

Dalam pertempuran pada 27 April 1521, navigator Portugis itu terkena panah beracun lawan dan dibiarkan mati oleh rekan-rekannya yang mundur, menjadi akhir tragis sang penemu Selat Magellan.

Setelah kematian Magellan, korban selamat dari dua kapal yang tersisa, berlayar ke Maluku dan memenuhi lambung kapal dengan rempah-rempah Nusantara.

Usai 'memanen' rempah dari Nusantara, kedua kapal kembali ke Eropa. Namun, satu kapal kandas di tengah jalan.

Satu kapal yang tersisa, Vittoria yang dipimpin oleh Basque Juan Sebastian de Elcano, memutuskan berlayar ke barat menyusuri Samudera Hinda dan mengelilingi Tanjung Harapan dan sampai di pelabuhan Sanlucar de Barrameda Spanyol pada 6 September 1522. Usai itu, sejarah baru tercipta, karena Vittoria akhirnya menjadi kapal pertama yang mengelilingi dunia.

Dalam peristiwa terpisah, tepatnya pada 28 November 2014 seorang pria bersenjata meledakkan tiga bom di sebuah masjid di utara Kota Kano, Nigeria. Setidaknya, 120 orang tewas dalam tragedi itu. Saling tuduh antara penguasa dan kelompok Boko Haram pun terjadi. Hingga kini tak diketahui pasti dalang dibalik pengeboman tersebut.

Dan pada 29 November 2002, bom bunuh diri meledak di hotel milik Israel di Mombasa, Kenya.

Artikel Selanjutnya
Wonderful Sail 2 Indonesia Berlayar Menuju Eksotisme Pulau Riung
Artikel Selanjutnya
1-9-1983: AS Tuduh Uni Soviet Dalang Jatuhnya Korean Airlines