Sukses

27-11-1895: Kisah Tragis di Balik Munculnya Penghargaan Nobel

Liputan6.com, Stockholm - Setiap tahun, setiap orang yang dianggap memberikan kontribusi terhadap perdamaian dunia akan mendapat penghargaan Nobel Perdamaian. Tahukah Anda, apa yang mendasari bisa adanya penghargaan ini?

Tepat 122 tahun lalu, atau 27 November 1895, Alfred Nobel menandatangani surat wasiat di Paris, dengan pesan agar kekayaannya dihibahkan untuk memberikan penghargaan kepada orang-orang terpilih.

Nobel merasa perlu melakukan ini karena ia sangat sadar bahwa alat peledak yang ditemukannya mungkin bisa disalahgunakan untuk keperluan perang, alih-alih menjaga perdamaian. TNT berhasil ditemukan Alfred Nobel setelah mengalami kegagalan yang mengakibatkan orang tewas. Dan ini kisah di balik penemuan tersebut.

Sejak 1863, Alfred Nobel mulai menciptakan alat peledak dasar. Dan pada 1865, Nobel membuat alat peledak yang lebih canggih, disebut "a blasting cap", yang memiliki daya ledak yang besar.

Namun apa yang ia temukan itu membawa petaka. Pabrik yang memproduksi nitrogliserin dan menyimpan bahan peledak itu meledak, membunuh adik bungsu Nobel bernama Emil. Nobel begitu prihatin karena penemuannya telah membuatnya adiknya tewas.

Kemudian, Nobel mencari tahu bagaimana caranya alat peledak yang ia ciptakan bisa lebih aman dan diatur peledakannya. Pada akhirnya, tahun 1867, Nobel menemukan dinamit. Temuan dinamit ini menghebohkan dunia.

Awalnya, dinamit digunakan untuk membantu para kontraktor membangun terowongan, jalur kereta bawah tanah dan jalan dengan langkah meledakkan dasar bagian tanah. Namun dinamit, memasuki Abad 20, dijadikan senjata perang, menewaskan banyak manusia.

Pada 1887, Nobel memperkenalkan temuannya ballistite, salah satu bubuk tanpa asap. Pada 1993, ia membeli pabrik besi di Bogors, Varmland dan mengembankan temuan-temuannya. Total ia telah mempatenkan 350 temuannya di berbagai negara.

Nobel meninggal dunia karena pendarahan di otak pada tahun 1896 di San Remo, Italia. Setahun sebelum kematiannya, ia menuliskan wasiatnya: sebagian besar hartanya diserahkan untuk menyelenggarakan penghargaan Nobel, bagi mereka yang berjasa bagi dunia dan kemanusiaan dalam 5 kategori: fisika, kimia, fisiologi atau kedokteran, sastra, dan perdamaian.

Penghargaan terakhir terinspirasi dari seorang perempuan. Namanya Bertha von Suttner, yang menjadi penerima pertama Nobel Perdamaian pertama pada 1905. Ia perempuan kedua penerima penghargaan bergengsi itu setelah Marie Curie (1903).