Sukses

Rwanda Siap Tampung 10.000 Pencari Suaka yang Disingkirkan Israel

Liputan6.com, Kigali - Menteri Luar Negeri Rwanda, Louise Mushikiwabo mengonfirmasi, negaranya saat ini tengah bernegosiasi dengan Israel, untuk mengambil alih sekitar 10 ribu pencari suaka asal Afrika yang ada di negeri zionis.

Pada sebuah wawancara bersama The New Times, Mushikiwabo mengatakan, kedua negara telah mencapai kesepakatan perihal seberapa banyak pengungsi dari Israel yang dapat diberangkatkan ke Rwanda.

Sang Menlu menjelaskan, "Kami (Rwanda) telah berdiskusi dengan Israel bahwa negara kami siap untuk menerima sejumlah imigran dan pencari suaka dari Afrika." Demikian seperti dikutip dari Al Jazeera pada Jumat (24/11/2017).

"Jika mereka merasa siap untuk datang ke sini, kami akan mengakomodasi mereka. Bagaimana itu nantinya akan dilakukan, kami masih belum dapat menjelaskannya lebih lanjut," tambahnya.

Dikutip dari media Haaretz, Israel akan memberikan uang senilai US$ 5.000, atau lebih dari Rp 67 juta rupiah, untuk para pencari suaka yang akan diberangkatkan ke Rwanda.

Pemerintah Rwanda nantinya akan mengelola uang pemberian itu, dengan diberikan pada para pengungsi sebesar US$ 3.500 (sekitar Rp 47 juta) per orang, sudah termasuk potongan untuk membayar ongkos pesawat.

Sementara itu, PBB menaruh perhatian seputar kemungkinan terjadinya kesepakatan deportasi pencari suaka ke negara ketiga seperti Rwanda.

"Sebagai pihak yang terlibat dalam Konvensi Pengungsi 1951, Israel memiliki kewajiban hukum untuk menjaga pengungsi atau pihak lainnya yang membutuhkan perlindungan internasional," ujar Volker Turk, asisten komisaris tinggi Badan Pengungsi PBB (UNHCR), menyikapi kesepakatan yang dibuat oleh Israel-Rwanda itu.

 

 

1 dari 2 halaman

40.000 Pencari Suaka

Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan, pemerintahnya akan menyingkirkan 40 ribu pencari suaka tanpa izin dari negara mereka.

"Hal penting ini sedang menjadi perhatian kami (Israel)," tukas Netanyahu pada Senin 19 November lalu.

Pada hari yang sama, Kabinet Israel memutuskan untuk menutup pusat penampungan Holot di Gurun Negev, yang menjadi rumah sementara bagi lebih dari seribu pencari suaka.

Menurut data pemerintah setempat, Israel saat ini menampung sekitar 40 ribu pencari suaka. Itu termasuk 27.500 orang asal Sudan dan 7.800 orang asal Eritrea, seperti yang dilaporkan oleh UNHCR.

Israel juga secara resmi berniat untuk menutup pusat penampungan Holot dalam waktu empat bulan ke depan. Mereka juga memberikan para pencari suaka asal Afrika dua pilihan: masa penahanan tanpa batas di Israel, atau deportasi ke negara ketiga seperti Rwanda.