Sukses

Belajar Konservasi Alam dari Eugene, Kota 'Hijau' di AS

Liputan6.com, Eugene - Salah satu peserta yang mengikuti program Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) dalam bidang lingkungan, Niken Prawestiti, membagikan kisahnya selama berada di Amerika Serikat. Ia adalah salah satu dari dua peserta asal Indonesia yang mendapat kesempatan untuk mengikuti program fellowship ke Negeri Paman Sam.

Sebanyak 12 peserta yang berasal dari profesional muda dari seluruh negara ASEAN itu, memulai program orientasi di Washington DC selama seminggu. Kemudian, masing-masing peserta akan ditempatkan di berbagai kota di AS sesuai dengan bidang yang digeluti dengan total waktu selama enam minggu.

Dalam rilis yang diterima dari Liputan6.com, Niken yang yang aktif dalam kegiatan sukarelawan di Komunitas Peta Hijau Jakarta dan menggerakkan komunitas 'Ayo ke Taman' ditempatkan di Eugene, sebuah kota di negara bagian Oregon. Di sana, ia menjalani magang di Divisi Perencanaan Kota (Planning and Development Department).

Oregon merupakan negara bagian yang terkenal dengan lanskap hijau yang membentang mendominasi seluruh areanya, tak terkecuali di Eugene. Kota yang berpenduduk sekitar 160.000 jiwa itu, memiliki sejarah panjang dalam penerapan pembangunan berkelanjutan.

Menurut keterangan Niken, Pemerintah Eugene serius menggarap penerapan konsep keberlanjutan di segala lini. Bahkan, bisnis di bidang konservasi lingkungan telah banyak beroperasi selama puluhan tahun di Eugene.

Di sana, Niken berkesempatan mengunjungi Rexius, perusahaaan di bidang lanskap yang memproduksi kompos dari sampah organik dan sampah makanan dari warga, gedung-gedung, maupun restoran sejak 90 tahun lalu. Dalam setahun, Rexius dapat menghasilkan kompos hingga 50.000 ton.

Selain dari ranah swasta, dari pemerintah sendiri telah menginisiasi penggantian seluruh kendaraan dinas milik pemerintah dengan mobil bertenaga listrik.

"Mobil ini pula yang sebagian besar saya tumpangi ketika ada kegiatan berkunjung selama masa penempatan di Eugene. Sebelum dan sesudah penggunaan, mobil ini harus selalu diisi ulang daya listriknya," jelas Niken.

 

1 dari 3 halaman

Melibatkan Warga

Perempuan yang sehari-hari menggeluti implementasi kota hijau di lebih dari 100 kota/kabupaten di Indonesia melalui Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) itu, juga bertemu dengan Wali Kota Eugene, Lucy Vinis.

Saat bertemu dengan Vinis, terungkap bahwa pemegang kebijakan di Eugene untuk mengkonservasi alam semaksimal mungkin.

Selain dari sektor swasta dan pemerintah, warga juga dilibatkan secara aktif oleh Pemerintah Eugene dalam menjalankan program-programnya.

"Pada hari-hari awal saya berada di Eugene, tim divisi penempatan saya, melakukan pertemuan dengan dua kelurahan (River Road dan Santa Clara) untuk melakukan perencanaan lingkungan berbasis masyarakat. Beruntung sekali saya bisa terlibat membantu pertemuan yang dihadiri oleh 400 orang tersebut," jelas Niken.

"Salah satu tujuan saya mengikuti fellowship ini, dapat mempelajari pembangunan berkelanjutan dengan pendekatan berbasis komunitas; sebuah upaya yang sedang saya jalankan di Indonesia guna memberdayakan seluruh komunitas hijau di Indonesia untuk mewujudkan kota yang layak huni," imbuh dia.

Selain itu, Niken juga berkesempatan tur keliling hutan kota untuk melihat bagaimana Eugene memelihara dan memaksimalkan ruang hijau. Ia juga sempat hiking di Spencer Butte, kegiatan yang banyak dilakukan warga Eugene selama akhir pekan.

 

2 dari 3 halaman

Atensi Tinggi Kota Eugene Terhadap Seni

Menurut Niken, selain perhatian khusus untuk sektor lingkungan hidup, Kota Eugene juga memiliki atensi yang tinggi terhadap seni. Ini terlihat dari slogan resmi Kota Eugene yaitu "Kota yang Unggul dalam Seni dan Ruang Terbuka".

Eugene memiliki gedung pertunjukan yang kerap menjadi lokasi pertunjukan seni bertaraf internasional, yaitu Hult Center for Performing Arts. Saat di sana, Niken pun berkesempatan menonton pertunjukkan ballet kelas dunia, Momix Opus, di gedung tersebut.

"Ternyata, beragam pertunjukkan seni sering diselenggarakan di pusat kesenian tersebut hingga mampu menyedot penonton dari luar kota Eugene," ujar Niken.

Selain itu, dalam perayaan Halloween jalan utama kota ditutup untuk parade kostum. Plaza utama kota juga menjadi tempat digelarnya pentas musik terbuka yang bias dinikmati siapapun.

Niken pun mengungkapkan, dirinya banyak belajar selama menjalani program fellowship di sana.

"Saya belajar banyak hal selama saya menjalani program fellowship di kota Eugene. Salah satu pembelajaran terkuat adalah bagaimana sebuah visi keberlanjutan dijalankan tidak hanya diupayakan oleh pihak pemerintah kota, tetapi juga kelompok bisnis dan pelibatan partisipasi aktif dari warganya," kata Niken.

"Kolaborasi dari semua pihak, pentingnya konservasi alam, dan mengaktifkan kota melalui kegiatan seni merupakan hal yang akan saya promosikan dalam upaya mewujudkan visi kota berkelanjutan di Indonesia," imbuh dia.

Artikel Selanjutnya
Inilah Gedung yang Punya Taman Vertikal Terbesar di Dunia!
Artikel Selanjutnya
Lampung Timur Gerakkan Pariwisata Lewat Wisata Kemah