Sukses

Wanita AS Tewas Usai Jalani Proses Sedot Lemak Membawa Petaka

Liputan6.com, San Diego - Irma Saenz tak menyangka, upaya mempercantik diri yang ia lakukan malah membuat nyawanya melayang. Tak percaya diri dengan ukuran tubuh yang besar, wanita berusia 51 tahun itu memilih untuk melakukan tindakan sedot lemak.

Namun sayang, langkah praktis yang ia lakukan berakibat fatal, sampai merenggut nyawanya sendiri.

Dilansir dari laman New York Post, Sabtu (18/11/2017), Saenz meninggal dunia secara tragis setelah menjalani prosedur sedot lemak di Meksiko. Saat proses tengah berlangsung, tiba-tiba Saenz tak sadarkan dan koma.

Keluarga dari wanita tersebut tak mengetahui bahwa Saenz pergi ke Meksiko untuk sedot lemak. Tiba-tiba, rumah sakit San Diego menelepon keluarga dan menjelaskan seputar kematian Saenz.

"Ia mengalami kekurangan oksigen sehingga menyebabkan anoksik pada bagian otak," ujar Nora Saenz, keponakan dari korban.

Wanita asal California itu diduga bepergian dari Los Angeles menuju perbatasan Meksiko menggunakan transportasi online.

"Dokter di San Diego mengatakan, saluran oksigen yang mereka pasangkan kepada Saenz tak terpasang dengan benar. Jadi, kami tak tahu berapa lama bibiku bertahan tanpa oksigen," ujar Nora.

Pihak keluarga kemudian mengingatkan kepada siapa pun yang ingin melakukan operasi agar berhati-hati dan tak mencari biaya perawatan yang murah.

"Hal itu tak layak. Sepatutnya tak terjadi pada saudara perempuan saya," ujar Carmen Quintana yang juga saudara dari korban.

Pihak keluarga kini tengah mencari cara untuk mengambil tindakan hukum agar dokter dapat dijerat dengan undang-undang yang berlaku.

1 dari 2 halaman

Ratu Kecantikan Tewas Usai Sedot Lemak

Kejadian serupa yang mengakibatkan nyawa menghilang pernah terjadi pada 2015. Kematian tragis menimpa ratu kecantikan dari Duran, Ekuador. Gadis bernama Catherine Cando itu tewas mengenaskan usai menjalani prosedur sedot lemak (liposuction) yang merupakan hadiah dari ajang kontes tersebut.

Model glamor itu memenangi gelar Queen of Duran pada Oktober 2014. Sebagai kompensasinya, ia mendapatkan sebuah mobil baru, tablet pintar, dan pengobatan bedah kosmetik gratis.

Awalnya, remaja 19 tahun itu menunda menjalani perawatan kosmetik karena merasa tak membutuhkannya. Akan tetapi, akhirnya ia menyerah tak lama setelah memenangi gelar tersebut.

"Aku menjauhi bedah kosmetik. Saat merasa lebih gemuk, aku memilih olahraga untuk menurunkan berat badan," kata Cando saat penobatan sebagai ratu kecantikan, seperti dikutip dari News.com.au.

Namun, pendiriannya melemah, Cando akhirnya memutuskan untuk menggunakan hadiah bedah kosmetik itu. Sekitar tiga bulan setelah ia dianugerahi gelar Queen of Duran.

"Sebelum menjalani operasi, ia kerap dibujuk banyak ahli bedah. Tapi, kala itu pendiriannya keras, dan terus berkata: tidak," ujar kakak laki-laki Cando, Daniel Zavala.

"Dia bahkan berpikir untuk memberikan treatment itu sebagai hadiah untuk orang lain. Tapi akhirnya dia setuju menjalaninya, meski 'menelan ludahnya' sendiri," tutur Zavala.

Kini sang ratu kecantikan sudah tiada. Ahli bedah yang melakukan prosedur gagal itu dilaporkan telah ditangkap dengan tuduhan melakukan kelalaian yang menyebabkan pasien meninggal di meja operasi ketika selama prosedur sedot lemak.