Sukses

Mengerikan... 5 Peradaban Kuno Ini Hancur Akibat Bencana

Liputan6.com, Roma - Bencana alam, dulu dan kini, merupakan salah satu peristiwa yang tak pernah lekang dari kehidupan manusia. Catatan sejarah menunjukkan, telah banyak peradaban manusia yang binasa atau porak-poranda akibat nestapa bencana alamiah.

Apalagi dulu, jauh sebelum teknologi sistem peringatan dini dan mekanisme bantuan cepat tanggap dibuat oleh manusia, terjadinya sebuah bencana di sebuah tempat berarti 'kiamat' bagi kawasan tersebut.

Sekarang, ilmuwan dan komunitas akademik berusaha memahami segala hal seputar bencana yang terjadi pada masa lalu demi pembelajaran masa kini.

Karena, seperti pepatah bilang, 'sejarah adalah guru kehidupan'.

Bagi ilmuwan, kerangka dan artefak masa lalu yang terkubur jauh di dalam tanah, mampu memberi petunjuk bagaimana masyarakat pada saat itu bereaksi atas berbagai bencana alam, mulai dari endemi penyakit, cuaca ekstrem, hingga lindu yang membelah tanah.

Informasi yang diperoleh dari bencana masa lalu dapat dimanfaatkan oleh peradaban masa kini untuk mempersiapkan diri, jika sewaktu-waktu kejadian serupa terulang kembali.

Dari berbagai contoh, berikut 5 peradaban kuno yang hancur akibat bencana, seperti yang Liputan6.com rangkum dari Listverse.com, Kamis (16/11/2017).

 

1 dari 6 halaman

1. Erupsi Gunung Api di Mesir Kuno

Orang-orang Mesir Kuno saat melemparkan seorang perawan ke Sungai Nil. (Public Domain)

Di situs peradaban Mesir Kuno dinasti Ptolemeus (305 - 30 SM), para ilmuwan menemukan potensi eksistensi erupsi gunung berapi dahsyat yang melanda kawasan pada periode tersebut.

Tidak jelas di mana tepatnya letusan terjadi, tapi rentang periode peristiwa itu bisa ditelusuri dalam sejumlah catatan tertulis Mesir.

Laporan sejarah juga menyebut bahwa erupsi itu maha dahsyat hingga abu vulkanisnya mampu menghalangi Matahari dan menghentikan musim hujan. Peristiwa itu semakin memperparah kondisi dinasti Ptolemeus yang merasakan keringnya Sungai Nil.

Setelah berbagai analisis, ilmuwan menduga bahwa erupsi gunung itu memiliki sejumlah kecocokan pola dan data seperti ledakan Gunung Pinatubo pada 1991. Peneliti juga memperkirakan, erupsi -- serupa Gunung Pinatubo 1991 -- yang terjadi pada masa dinasti Ptolemeus itu mungkin terjadi sebanyak tiga kali, yang dianggap sebegai penyebab semakin parahnya bencana kekeringan dan kelaparan di kawasan.

 

2 dari 6 halaman

2. Badai Pasir di Sebuah Desa Skandinavia

Sekitar 5.500 tahun yang lalu, sebuah desa di kawasan Skandinavia di Norwegia, mendadak ditinggalkan oleh penduduknya pada masa itu. Alasan mereka meninggalkan desa tersebut menjadi misteri selama ratusan abad.

Pada 2010, firma konstruksi yang tengah membangun kawasan resort tepat di lokasi desa itu berada, menemukan reruntuhan dari pemukiman bekas penduduk kuno tersebut.

Ketika para arkeolog memeriksa lokasi desa tersebut, mereka begitu terpesona bahwa penemuan tersebut dianggap berada di antara yang paling penting di Eropa.

Setelah berbagai pemeriksaan, kini jelaslah bahwa desa prasejarah itu tampak dilanda badai pasir dan terkubur hanya dalam hitungan jam.

Situs itu juga patut dianggap penting mengingat banyak artefak peninggalan kebudayaan keramik pra-sejarah yang ditemukan dalam desa tersebut. Berkat badai pasir yang menerjang desa, artefak -- berupa dinding, senjata, dan kerajinan kayu -- tetap lestari selama ribuan tahun.

Dari situs itu, para ilmuwan mulai mempertimbangkan mengenai kemungkinan bahwa ada sejumlah badai pasir yang turut melanda kawasan lain di Eropa dalam rentang periode tersebut. Dan benar saja, tim arkeolog berhasil menyimpulkan, badai pasir tersebut telah berkali-kali melanda wilayah Hamresanden di Norwegia selama beberapa kali

 

3 dari 6 halaman

3. Tsunami di Papua Nugini

Ilustrasi (iStock)

Pada 1929, sebuah tengkorak ditemukan di Papua Nugini utara. Berdasarkan pemeriksaan awal, tengkorak itu diduga sebagai manusia kuno Homo erectus.

Namun, setelah uji radio-karbon, tengkorak itu ternyata adalah manusia modern alias Homo sapiens yang hidup pada 6.000 tahun yang lalu.

Tengkorak itu merupakan contoh langka dari sedikitnya sisa-sisa manusia modern di Papua Nugini. Namun, yang membuat peneliti penasaran adalah, mengapa tengkorak itu -- bersama dengan kemungkinan manusia modern lain -- binasa?

Dan mengapa hanya ada sedikit tulang belulang Homo sapiens dari periode tersebut yang dapat ditemukan di kawasan?

Setelah melakukan berbagai analisis, peneliti menduga bahwa tengkorak itu merupakan korban tsunami. Analisis menunjukkan, ada kesamaan pola pada tengkorak tersebut dengan korban tsunami Papua Nugini pada 1998 -- yang turut menyapu lokasi serupa.

Tsunami itu juga mungkin menjadi penyebab sedikitnya tulang belulang Homo sapiens dari periode tersebut yang dapat ditemukan di kawasan. Karena mungkin, tulang belulang tersebut tersampu oleh gelombang tsunami.

 

4 dari 6 halaman

4. Endemi Ebola di Athena

Tengkorak seorang anak terlihat dalam sebuah guci tanah liat, di pemakaman Falyron Delta kuno di Athena, Yunani, 27 Juli 2016. Diduga ini merupakan bukti tradisi Yunani Kuno dalam menguburkan anak-anak dan bayi laki-laki. (REUTERS/Alkis Konstantinidis)

Kemunculan virus Ebola yang mewabah di Republik Kongo pada 1976 dianggap sebagai debut pertama dari penyakit mematikan tersebut di dunia.

Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa Ebola mungkin bisa menjadi virus prasejarah. Menurut studi, ada fragmen DNA Ebola yang ditemukan dalam spesies hewan pengerat di Athena kuno, mengisyaratkan adanya endemi di kota tersebut pada hampir 20 juta tahun yang lalu.

Peneliti menduga, epidemi Ebola mungkin menghancurkan peradaban Athena kuno pada 430 SM. Virus itu mungkin berasal dari Aethiopia, nama Yunani untuk Sub-Sahara Afrika.

Selain telah mengidentifikasi bagaimana penyakit tersebut bisa sampai di Athena, peneliti juga menemukan bagaima Ebola kuno menyerupai versi gejala endemi modern.

Seperti demam, kelelahan, muntah, sakit kepala dan perut ekstrem. Beberapa berdarah dari mulut dan menderita ruam kulit, haus, dan kejang. Sebagian besar meninggal setelah seminggu.

 

5 dari 6 halaman

5. Tsunami yang Menenggelamkan Tunisia

Kota Romawi Neapolis pernah berdiri di Tunisia modern. Catatan sejarah Neapolis sangat langka, namun sejarawan Ammien Marcellin berkesempatan mencatat akhir dari kawasan.

Menurut catatan Marcellin, pada 21 Juli 365, sebuah gempa yang memicu tsunami menjadi penyebab tenggelamnya kota tersebut. Dan kota itu tetap hilang selama 1.700 tahun terakhir.

Pada 2017, reruntuhan yang luas ditemukan di laut dalam di lepas pantai timur laut Tunisia. Pemandangannya sungguh dramatis, meliputi 20 hektar kota yang berisi sejumlah jalan dan monumen.

Menariknya, mereka juga menemukan tong 'garum'. Garum adalah saus ikan yang menjadi komoditas dan konsumsi utama bagi orang Romawi dan Yunani.

Dengan jumlah sekitar 100 buah, tong-tong tersebut memberikan informasi penting mengenai ekonomi Neapolis yang menunjukkan bahwa kota itu mungkin merupakan penghasil utama garum pada zaman Romawi.

Gempa tersebut diperkirakan melepaskan dua getaran -- yang paling kuat sekitar 8,0 SR. Lindu itu melanda beberapa tempat, menyebabkan banjir di Kreta sedalam 10 meter dan diyakini membawa kerusakan di Alexandria, Mesir.

Artikel Selanjutnya
6 Banjir Paling Mematikan Sepanjang Sejarah
Artikel Selanjutnya
Pohon Ek Berusia 1.000 Tahun Selamat dari Terjangan Badai Harvey