Sukses

Korut: Sebut Kim Jong-un Gendut, Trump Pantas Dihukum Mati

Liputan6.com, Pyongyang - Media pemerintah Korea Utara, Rodong Sinmun, menyampaikan bahwa Donald Trump pantas dijatuhi hukuman mati karena menyebut Kim Jong-un pendek dan gendut.

"Kejahatan terburuk yang membuat dia (Trump) tidak dapat diampuni adalah dia berani melukai martabat pemimpin tertinggi," sebut editorial Rodong Sinmun, seperti dikutip dari News.com.au pada Rabu (15/11/2017).

"Dia harus tahu bahwa dia hanyalah penjahat mengerikan yang pantas dijatuhi hukuman mati oleh rakyat Korea," tambah editorial itu.

Trump secara tidak langsung menjuluki Kim Jong-un pendek dan gendut melalui twitnya pada 12 November. Saat itu ia sedang berada di Da Nang, Vietnam, dalam rangka menghadiri KTT APEC.

"Mengapa Kim Jong-un menghina saya dengan menyebut saya 'tua', sementara saya tidak pernah memanggilnya 'gendut' dan 'pendek'? Oh baiklah, saya terlalu berusaha jadi temannya -- dan mungkin suatu hari itu bisa kesampaian!" kicau Trump.

Kicauan Trump tersebut merupakan respons atas retorika Korut yang menjulukinya "penghasut perang". Tak hanya itu, Pyongyang juga menyebut bahwa lawatannya ke Asia didesain untuk konfrontasi.

Ketika ditanya langsung oleh wartawan tentang kemungkinannya berteman dengan Kim Jong-un, Trump menyebut bahwa hal itu mungkin terjadi.

"Hal-hal aneh terjadi dalam kehidupan. Itu mungkin salah satu hal aneh yang akan terjadi. Tapi, tentu saja itu adalah sebuah kemungkinan," ungkap Trump dalam sebuah konferensi pers di Vietnam, seperti dilansir CNN.

Ia menambahkan, "Jika terjadi, itu akan menjadi hal yang bagus bagi Korut. Juga bagus bagi banyak tempat, dan pada akhirnya bagus bagi dunia."

Menurut The Guardian, dalam editorialnya, Rodong Sinmun, juga menyebut Presiden AS itu pengecut karena membatalkan kunjungan ke Zona Demiliterisasi (DMZ).

Trump memang batal mengunjungi perbatasan dua Korea tersebut. Pemicunya adalah cuaca buruk. Helikopter Marine One yang mengangkutnya dilaporkan telah lepas landas menuju DMZ, tapi tak lama terpaksa kembali karena kondisi berkabut dan jarak pandang di bawah satu mil.

"Itu bukan karena cuacanya. Dia (Trump) terlalu takut untuk menghadapi tatapan tajam tentara kita," tulis Rodong Sinmun.