Sukses

China Kirim Utusan ke Korea Utara, Buat Apa?

Liputan6.com, Beijing - China mengirimkan seorang diplomat senior ke Korea Utara sebagai utusan Presiden Xi Jinping.

Seperti dilansir The Washington Post, Rabu (15/11/2017), pengumuman tersebut disampaikan sepekan setelah Donald Trump mengunjungi China dan mendesak Beijing untuk bekerja lebih keras menangani isu nuklir Korut.

Kantor berita Xinhua melaporkan, Song Tao, yang memimpin Departemen Urusan Luar Negeri Partai Komunis China berkunjung ke Korut pada Jumat 17 November untuk menginformasikan pada Pyongyang tentang hasil yang dicapai Kongres Partai Komunis beberapa waktu lalu.

Beijing, memang secara rutin melakukan perjalanan serupa ke negara-negara komunis lainnya setelah menyelenggarakan Kongres partai. Song juga telah mengunjungi Vietnam dan Laos dalam misi serupa.

Xinhua tidak menerangkan apakah dalam kunjungannya, Song akan membahas isu nuklir Korut atau bertemu dengan Kim Jong-un. Meski demikian, para ahli menilai bahwa lawatan ini merupakan kesempatan yang penting bagi Beijing untuk membuka kembali saluran dialog dengan Korut menyusul memburuknya hubungan kedua negara selama beberapa tahun terakhir.

China memiliki utusan khusus resmi ke Korut, yakni Kong Xuanyou. Namun, ia diyakini sudah tidak pernah mengunjungi Korut sejak Agustus lalu. Pendahulunya, Wu Dawei, terakhir kali menyambangi Korut pada Februari 2016.

Melalui kunjungannya, Song akan menjadi pejabat setingkat menteri pertama yang berkunjung ke Korut sejak kedatangan anggota Komite Tetap Politbiro, Liu Yunshan, pada Oktober 2015. Dalam kesempatan itu, Liu diketahui bertatap muka dengan Kim Jong-un.

Presiden Xi Jinping dipercaya sangat kecewa dengan keagresifan Korut berikut uji coba rudal dan nuklirnya. Berdasarkan tekanan AS dan sejalan dengan resolusi DK PBB, Beijing sendiri telah menjatuhkan sanksi yang relatif ketat terhadap Pyongyang.

Meski demikian, bagaimanapun, China masih mendominasi perdagangan dengan Korut dan enggan memangkas jalur ekonomi antarkeduanya. Pipa yang memasok minyak mentah dari China ke Korut masih beroperasi sehingga memungkinkan industri dan militer Korut tetap "berdenyut".

Sementara itu, ketika berada di Beijing, Trump mentwit bahwa China dapat menangani Korut "secara cepat dan mudah". Dengan catatan, Trump mendesak Presiden Xi Jinping berupaya lebih keras.

Setelah meninggalkan China, Trump percaya diri bahwa Beijing akan berbuat lebih banyak dalam menangani krisis nuklir Korut.

"Presiden China Xi Jinping telah menyatakan bahwa ia akan menaikkan sanksi terhadap #NoKo. Ia ingin denuklirisasi. Kemajuan sedang dibuat," twit Trump pada 11 November.

Artikel Selanjutnya
Terkuak, Ini Daftar Negara yang Jadi Mitra Dagang Korea Utara
Artikel Selanjutnya
AS dan Rusia Beda Pendapat Soal Sanksi Kepada Korea Utara