Sukses

15.000 Ilmuwan Prediksi Kerusakan Alam Pemicu Kiamat...

Liputan6.com, Oregon - Sekitar 15.000 ilmuwan memprediksi tentang masa depan manusia. Mereka membuat sebuah kalkulasi ilmiah bahwa Bumi akan mengalami berbagai bencana yang mampu berdampak buruk secara signifikan bagi penduduk planet biru.

Berbagai bencana itu meliputi, perubahan iklim, penggundulan hutan, hilangnya akses terhadap air tawar, kepunahan spesies dan pertumbuhan populasi manusia yang tidak terkendali. Semua itu, menurut para ilmuwan, akan mengancam manusia dan masa depan Bumi.

Kalkulasi itu tersebut, yang ditulis dalam bentuk artikel pada tahun 1992 dan ditandatangani oleh 1.500 ilmuwan, berpendapat bahwa dampak manusia terhadap alam tampaknya mengarah pada 'kesengsaraan yang luas' dan kerusakan planet yang 'tidak dapat dipulihkan'. Demikian seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa (14/11/2017).

Namun, beberapa abad setelah itu, pandangan komunitas ilmiah internasional tentang masa depan Bumi, jauh lebih suram ketimbang yang terkandung dalam artikel pada 1992 itu.

Artikel berjudul 'Warning from the Union of Concerned Scientists' itu kini telah diperbaharui dan mencatat sejumlah kerusakan di bumi yang jauh lebih parah.

Dalam surat peringatan edisi kedua yang berjudul "World Scientists' Warning to Humanity: A Second Notice" lebih dari 15.000 ilmuwan dari 184 negara mengatakan, manusia telah menjadi penyebab berbagai peristiwa kepunahan massal atau yang keenam dalam kira-kira 540 juta tahun terakhir.

Segala hipotesis dan simpulan dalam artikel itu merupakan hasil analisis dari data pemerintah serta lembaga pemerhati lingkungan dari beberapa negara.

Artikel tersebut juga menyebut bahwa di akhir abad ini, akan semakin banyak bentuk kehidupan yang mengalami atau dekat dengan kepunahan.

Sumber daya konsumsi yang semakin menipis akibat ledakan populasi juga menjadi salah satu penyebab utama kehancuran alam semesta.

Oleh karena itu artikel itu mengimbau agar, "Setiap orang harus makan lebih sedikit daging, memiliki lebih sedikit anak, dan menggunakan energi hijau untuk menyelamatkan planet ini."

Artikel itu juga menyebut bahwa manusia telah mengalami kegagalan dalam membatasi pertumbuhan populasi secara memadai, mengatur kebijakan ekonomi, mengurangi efek gas rumah kaca, serta ketidakmampuan memberikan insentif energi terbarukan.

"World Scientists' Warning to Humanity: A Second Notice" itu juga mencatat beberapa tren negatif lain yang terjadi saat ini dan mampu menyebabkan kehancuran dunia.

Seperti di antaranya, pengurangan jumlah air tawar per kapita sebesar 26 persen, turunnya panen ikan tangkapan liar, hilangnya 300 juta hektar hutan, penurunan jumlah kolektif hewan mamalia sekitar 29 persen,

Juga peningkatan signifikan dalam emisi karbon global, kenaikan suhu rata-rata, dan kenaikan 35 persen populasi manusia.

Tapi jika ada kemauan, umat manusia bisa mengubah Bumi menuju kehidupan yang berkelanjutan.

 

1 dari 2 halaman

Beberapa Capaian Positif

Akan tetapi, dari segala hal negatif yang ada, surat itu juga menyebut beberapa hal positif, seperti, berkurangnya lubang ozon, bertambahnya energi terbarukan serta sumber daya alternatif, meningkatnya tingkat pendidikan, dan melambatnya tingkat deforestasi di beberapa daerah.

Tapi sekarang publik perlu harus semakin menekan pemimpin politik mereka untuk mengambil tindakan yang lebih menentukan.

Hal itu bisa dilakukan dengan menyimpan lebih banyak cadangan alam dan laut, undang- undang yang lebih ketat untuk membasmi perburuan liar dan perdagangan satwa liar, program keluarga berencana dan pendidikan yang lebih baik, pola konsumsi vegetarisme, dan secara besar-besaran mengadopsi energi terbarukan dan teknologi 'hijau' lainnya.

Salah satu penulis artikel itu, Profesor William Ripple dari Oregon State University mengatakan, "Beberapa orang mungkin berusaha untuk mengabaikan bukti ini. Padahal, kita sedang melihat konsekuensi jangka panjangnya."

Ilmuwan itu melanjutkan, "Mereka yang menandatangani peringatan kedua ini tak hanya sekedar memperingatkan alarm palsu. Mereka menyorot sebuah tanda-tanda tentang kehidupan yang tak berkelanjutan."

Terakhir, Ripple dan kawan-kawan, dalam artikel mereka mengatakan, "Untuk mencegah kesengsaraan dan hilangnya keanekaragaman hayati yang meluas, umat manusia harus mempraktikkan hidup alternatif yang lebih ramah lingkungan."

"Kita harus menyadari akan pentingnya lingkungan, dalam kehidupan sehari-hari dan pemerintahan seluruh negara, bahwa Bumi adalah salah satu rumah kita."

Artikel Selanjutnya
Ilmuwan Ungkap Hubungan Badai Matahari dan Terdamparnya 29 Paus
Artikel Selanjutnya
Astronom: 3 dari 7 Planet Mirip Bumi Punya Kandungan Air