Sukses

Detik-Detik Korut Tes Sirene Serangan Udara, Persiapan Perang?

Liputan6.com, Pyongyang - Menurut berbagai laporan, Korea Utara diketahui rutin mendorong warganya untuk melakukan latihan antisipasi serangan udara. Latihan itu dilakukan agar warga mampu mempersiapkan diri di tengah tensi tinggi dan potensi konflik bersenjata antara Korut dengan Amerika Serikat dan sekutunya.

Meski lazim bagi sebagian besar penduduk setempat, seorang pengunjung dari negara Barat yang melawat ke Korut merasa 'takjub' dengan salah satu mekanisme antisipasi serangan udara negara yang dipimpin oleh Kim Jong-un itu.

Seperti dikutip dari Mirror.co.uk (14/11/2017), seorang warga negara Barat yang berkunjung ke Korut merekam detik-detik ketika sirene antisipasi serangan udara negara itu berkumandang di sebuah kota.

Will Ripley, jurnalis media Amerika Serikat CNN merekam pemandangan pagi Kota Pyongyang dari sebuah gedung tinggi. Dan kumandang sirene antisipasi serangan udara menjadi latar belakang suara rekaman video itu.

Rekaman video itu kemudian diunggah oleh Ripley ke akun Twitter pribadinya.

Kemudian ia menambahkan keterangan tertulis pada video itu dengan menyebut, "Selalu ngeri mendengar suara sirene antisipasi serangan udara di Pyongyang, Korea Utara. Tapi jangan khawatir, hanya tes."

Berikut video detik-detik sirene antisipasi serangan udara di Pyongyang berkumandang:

 

1 dari 2 halaman

Invasi Darat Jadi Satu-Satunya Cara?

Rekaman video itu muncul beberapa saat setelah seorang pejabat Kementerian Pertahanan Amerika Serikat menyatakan, satu-satunya cara untuk menghancurkan seluruh program nuklir Korea Utara adalah melalui invasi darat.

Pernyataan itu disampaikan oleh perwira Angkatan Laut, Laksamana Michael Dumont yang mewakili jajaran Staf Gabungan Angkatan Bersenjata (Joint Chief of Staff) Kemhan AS. Ia menyatakan hal itu saat berkorespondensi dengan anggota Kongres AS perwakilan Partai Demokrat, Ted Lieu.

"Satu-satunya cara untuk mengetahui lokasi dan menghancurkan seluruh komponen program persenjataan dan nuklir Korea Utara secara akurat adalah dengan cara invasi melalui jalur darat," tulis Laksamana Dumont, seperti dikutip dari BBC, Senin 6 November 2017.

Akan tetapi, Dumont menjelaskan, proses invasi darat yang dilakukan oleh AS akan menimbulkan risiko besar.

Risiko itu berupa potensi serangan balasan dari Korut yang mungkin akan melancarkan rudal, senjata nuklir, atau senjata biologis.

"Oleh karenanya, persiapan detail secara rahasia adalah langkah yang terbaik," tulis Dumont.

Jajaran Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS telah memberi nasihat militer semacam itu kepada Presiden Donald Trump.

Meski begitu, dalam suratnya, Dumont juga menulis bahwa militer AS "Mendukung upaya untuk solusi ekonomi dan diplomatik sebagai langkah awal sebelum aksi militer."

Sementara itu, salah satu Komandan Angkatan Darat Amerika Serikat mengklaim bahwa, AS dapat kalah jika memulai peperangan dengan Korea Utara.

Letjen Jan-Marc Jouas mengatakan, tentara AS akan kewalahan menghadapi militer Korut yang berjumlah sedemikian banyak.

Pasukan AS juga mungkin akan berhadapan dengan serangan senjata kimia dan kesulitan dalam mengevakuasi warga sipil keluar dari kawasan Semenanjung Korea.

"Sekitar 28.500 tentara AS di Korea Selatan akan kewalahan menghadapi pasukan Korea Utara. Begitu pula tentara Korsel yang akan kesulitan menghadapi gempurantersebut," kata Letjen Jouas.

"Tak seperti perang terdahulu, kita (AS dan koalisi) tidak akan mampu mengumpulkan kekuatan sebelum konflik terjadi," tambahnya.

 

Artikel Selanjutnya
Korut Geser Rudal ke Pantai Barat, Bersiap Lakukan Uji Coba?
Artikel Selanjutnya
Korsel: Korut Persiapkan Lebih Banyak Uji Coba Rudal