Sukses

Bocah Rohingya Mengungsi ke Bangladesh dengan Dirigen Minyak

Liputan6.com, Shah Porir Dwip - Gelombang kekerasan yang terjadi Myanmar telah membawa dampak buruk bagi warga Rohingya . Tercatat, sejak Agustus 2017 saja ada lebih dari 600 ribu anggota etnis minoritas tersebut mengungsi ke Bangladesh.

Jumlah pengungsi terus bertambah hingga saat ini. Jalan nekat pun ditempuh demi selamat, seperti apa yang dilakukan Nabi Hussain. Bocah laki-laki berusia 13 tahun ini mengungsi ke Bangladesh dengan bertumpu nyawa pada jerigen plastik berwarna kuning yang biasa dipakai untuk menampung minyak.

Dilansir dari ABC News pada Senin (13/11/2017), Nabi bersama ribuan anak dan remaja lelaki lainnya berlayar dari mulut Sungai Naf di Myanmar menuju Shah Porir Dwip, dengan menggunakan jerigen minyak sebagai "rakitnya".

Shah Porir Dwip adalah sebuah kota nelayan dan tempat perdagangan ternak di garis batas selatan Bangladesh-Myanmar.

Nabi sendiri adalah anak keempat dari sembilan bersaudara. Orang tuanya adalah petani paan, daun sirih campuran tembakau yang biasa dikunyah oleh orang lokal di sana. Nabi juga tidak pernah bersekolah sedari kecil.

Nabi pada awalnya terpaksa melarikan diri ke arah pantai bersama keluarga, setelah desanya terbakar akibat konflik berkepanjangan antara militan Rohingya-militer Myanmar. Di lokasi pengungsi, ia bersama ribuan orang lainnya hidup tanpa berbekal harta dan hanya punya sedikit makanan.

Setelah bermukim empat hari, Nabi yang gerah dengan keadaan coba menjelaskan pada orangtuanya, bahwa ia ingin pergi ke muara sungai tempat kota Shah Porir Dwip berada.

Bapak dan ibunya pada awalnya tidak melepas si anak pergi. Alasannya, putra sulung merekahingga saat ini tak ada kabar setelah 'hijrah' ke Bangladesh.

 

 

1 dari 2 halaman

Tanpa Orangtua di Bangladesh

Orangtuanya pada akhirnya menyetujui Nabi pergi, dengan syarat ia tidak pergi sendirian. Bocah itu kemudian bergabung bersama 23 anak dan pemuda lainnya, untuk "berlayar" mengarungi sungai pada 3 November. Keluarga dan kerabat turut mengiringi keberangkatannya.

"Tolong ingat aku dalam doa-doamu," seru sang ibu melepas kepergian Nabi.

Rombongan tadi lalu pergi dengan menggunakan dirigen minyak sebagai "kendaraan" utamanya. Benda tadi mereka ikatkan di dada, yang berfungsi sebagai pelampung. 

Sebanyak 23 orang tadi lalu dibagi lagi menjadi sebuah grup kecil, yang terdiri dari tiga orang yang masing-masing saling terikat dengan tali. Nabi yang masih kecil dan tak bisa berenang kemudian ditempatkan di tengah.

Selama dalam perjalanan, Nabi beberapa kali menelan air. Terkadang ia sengaja melakukannya demi menghilangkan rasa haus. Namun sering juga si anak harus terpaksa menelannya akibat ombak yang terlalu deras.

Kaki lecet serta asinnya air laut menjadi "teman seperjalanan" Nabi. Tapi ia terus menghadap ke depan, enggan berbalik menoleh.

Tepat setelah matahari terbenam, mereka berhasil tiba di Sah Porir Dwip dalam kondisi lelah, lapar, dan kehausan.

Nabi kini sendiri. Dirinya termasuk salah satu dari 40 ribu anak Rohingya yang hidup tanpa orang tua di Bangladesh. Ia selalu menghadap ke bawah ketika berbicara, dan senantiasa menggumamkan harapan terbesarnya:

"Aku ingin orang tuaku dan kedamaian."