Sukses

Badan HAM Dunia Minta Patung Hitler di Yogyakarta Diturunkan

Liputan6.com, Yogyakarta - Tak perlu merogoh kocek dalam-dalam, masyarakat Yogyakarta dapat berfoto selfie bersama tokoh-tokoh terkenal dunia di museum patung lilin dan efek visual (De Mata).

Ada banyak tokoh terkenal yang dipajang. Oleh karenanya, museum ini begitu menarik perhatian banyak pasang mata yang datang. Serasa di Madame Tussauds, masyarakat Yogyakarta yang didominasi remaja datang berbondong-bondong untuk selfie ria.

Namun, rasa bahagia pengunjung yang datang menimbulkan gejolak dan respons berbeda dari badan HAM dunia. Pasalnya, ada patung lilin yang begitu kontroversial, yaitu Adolf Hitler. Demikian dilansir dari laman Independent.co.uk, Senin (13/11/2017).

Kemarahan itu disampaikan oleh Simon Wiesenthal Center di Los Angeles -- sebuah badan yang berkampanye melawan penyangkalan terhadap Holocaust dan anti-semitisme. Pihaknya menuntut agar tampilan Hitler segera disingkirkan.

Gejolak itu kian memuncak karena tampilan "background" tempat berdirinya patung Hitler. Dalam foto yang diunggah banyak pengunjung, ada latar kamp Auschwitz.

Kamp Auschwitz adalah tempat yang dijadikan sebagai lokasi kekejaman Nazi Jerman dalam Perang Dunia II. Ketika mendengar Auschwitz, banyak orang mulai teringat pada peristiwa Holocaust.

"Hal yang ditampilkan begitu salah. Sulit rasanya untuk menyebut alasan penolakan, karena itu begitu hina," ujar Rabbi Abraham Cooper, Dekan Asosiasi Simon Wisenthal Center.

"Latar belakang pada patung itu begitu menjijikkan. Ini seperti mengolok-olok korban yang telah tewas di Auschwitz," tambahnya.

Selain itu, banyak pula kritikus yang mengatakan bahwa gambar-gambar yang membanjiri akun media sosial telah menghina enam juta orang Yahudi yang meninggal di kamp pemusnahan oleh Hitler.

Menanggapi kemarahan tersebut, petugas pemasaran museum bernama Warli menyebut bahwa dirinya tahu akan sosok Hitler yang begitu kontroversial. Ia juga tahu bahwa Hitler bertanggung jawab atas pembunuhan massal kaum Yahudi.

Meski begitu, Warli menyebut patung yang sudah dipajang pada 2014 itu jadi salah satu tokoh favorit bagi pengunjung.

"Tidak ada satu pun dari pengunjung kami yang mengeluhkan kehadiran Hitler," ujar Warli.

"Banyak pengunjung kami yang bersenang-senang, karena mereka tahu ini hanyalah sebuah museum," tambahnya.

Aspek "hanya hiburan" dari penggambaran serupa tentang Hitler dan rezim Nazi adalah sesuatu hal yang telah membuat beberapa sejarawan dan aktivis jengkel selama beberapa tahun belakangan.

Beberapa kekhawatiran para kritikus yang muncul adalah hilangnya unsur kekejaman yang dilakukan oleh Hitler dan hanya menjadikannya sebagai sosok yang hanya ada dalam sejarah belaka.

 

1 dari 2 halaman

Kecaman Serupa

Protes keras yang memicu kemarahan atas efek Hitler juga pernah terjadi di Tanah Air.

Sebuah kafe bertema Nazi sempat berdiri di Kota Bandung. Para pelayan yang bertugas secara lengkap menggunakan seragam replika ala tentara Hitler.

Hal ini yang kemudian memicu kemarahan di luar negeri hingga akhirnya kafe itu ditutup pada awal 2017.

Kafe tersebut bernama Soldatenkaffe. Tempat makannya anak muda tersebut begitu populer karena seragam tentara Nazi yang digunakan oleh pelayan. Potret Hitler dan bendera Nazi juga menghiasi dinding restoran tersebut.

Sang pemilik kafe bernama Henry Mulyana bersikeras bahwa ia bukan Neo-Nazi dan mengatakan konsep kafe yang ia jalankan hanya sebagai budaya pop belaka.

Bahkan, dalam kasus De Mata yang tengah ramai, sang pemilik mengatakan bahwa pihaknya tak akan menyingkirkan patung Hitler.

"Kami akan mengikuti saran terbaik dan respons masyarakat," kata Warli.

"Biarkan orang menilai apakah karakter ini baik atau buruk," tambahnya.

Artikel Selanjutnya
Aksi Kecam Pembantaian Rohingya di Borobudur Salah Alamat
Artikel Selanjutnya
Demi Rohingya, 800 Muslim di Rusia Salat di Depan Kedubes Myanmar