Sukses

Ingin Ujian Ditunda, Remaja di India Nekat Bunuh Adik Kelas

Liputan6.com, New Delhi - Kepolisian India pada Rabu kemarin menahan seorang remaja lantaran diduga telah membunuh adik kelasnya.

Perbuatan nekat tersebut sengaja ia lakukan dengan harapan pihak sekolah dapat menunda pelaksanaan ujian menyusul terjadinya kasus pembunuhan.

Dilansir dari laman Japan Times, Kamis (9/11/2017), remaja berusia 16 tahun yang tak disebutkan namanya itu tercatat sebagai siswa di sekolah swasta di New Delhi.

Mulanya, tim kepolisian India menduga seorang kondektur bus yang telah membunuh korban lantaran sempat menolak untuk diajak berhubungan intim.

Namun, juru bicara kepolisian setempat mengatakan bahwa pihaknya menemukan bukti yang cukup kuat untuk menjerat pelaku yang masih remaja itu.

"Pelaku sudah mengaku saat ditanya oleh tim kepolisian. Ia ingin sekolah menunda pelaksanaan ujian dan pertemuan guru dengan wali murid," ujar Juru Bicara Biro Investigasi Pusat, RK Gaur.

Kini, pelaku yang masih di bawah umur tersebut dikirim ke pusat penahanan remaja sampai pelaksanaan sidang pengadilan berlangsung.

Sementara itu, RK Gaur menambahkan, pihaknya masih menahan kondektur bus hingga ia benar-benar terbukti tidak bersalah.

India adalah sebuah negara besar dengan total penduduk hingga 1,25 miliar jiwa. Negara ini memiliki kasus bunuh diri tertinggi di dunia.

Pada 2015, angka resmi menunjukkan hampir 9.000 pelajar dan anak di bawah umur yang melakukan tindakan tersebut.

Pakar kesehatan mengatakan, banyak kaum muda yang merasa sulit mengatasi tekanan, terutama dalam urusan ujian dan pelajaran di sekolah.

1 dari 2 halaman

Diejek Tak Pakai Deodoran, Anak Polisi Tembak 2 Teman

Kasus pembunuhan yang dilakukan anak di bawah umur juga sempat menghebohkan masyarakat Brasil.

Pada Oktober 2017, seorang anak sekolah berusia 14 tahun nekat membunuh dua teman sekelasnya. Ia diduga sakit hati gara-gara diejek karena tak memakai deodoran.

Remaja yang identitasnya dirahasiakan itu mengeluarkan pistol dan melepaskan tembakan saat jam istirahat di sekolah Colegio Goyases di Goiania, Brasil tengah.

Seperti diberitakan Daily Mail, dua siswa tewas dan empat lainnya luka-luka akibat insiden tersebut.

"Dia menembaki semua orang di kelas. Aku memegang tangan temanku, tak tahu harus berbuat apa," ujar seorang siswa yang menyaksikan penembakan kepada TV Anhanguera.

Murid lain yang berusia 15 tahun mengatakan kepada situs G1 Brasil, "Dia korban bullying, orang-orang memanggilnya bau karena tak menggunakan deodoran."

"Saat istirahat di antara jam pelajaran, dia mengeluarkan pistol dari ransel dan mulai menembak. Dia tidak memilih targetnya. Semua orang yang ada di dalam kelas kemudian berlarian ke luar".

Dua anak korban penembakan itu diidentifikasi bernama Joao Vitor Gomes dan Joao Pedro Calembo. Sementara, anak perempuan dan seorang laki-laki jadi korban luka.

Penembakan itu terjadi setelah bel istirahat antara pelajaran dan guru telah meninggalkan ruangan. Murid di sekolah daerah elite Goania ini mayoritas berasal dari keluarga kaya.

Polisi militer Anesio Barbosa da Cruz mengatakan kepada situs G1 Brasil bahwa pelaku penembakan itu adalah putra seorang polisi. Kini, ia sudah ditahan pihak kepolisian.

"Informasi awal menunjukkan bahwa dia mengalami intimidasi. Diduga tak tahan, dia mengambil senjata dari rumah dan melepaskan tembakan di sekolah," jelas Anesio Barbosa da Cruz.

Artikel Selanjutnya
Legislator NTT: Pecat Guru yang Bikin Siswa Minum Racun