Sukses

6 Astronot Rusia Dikunci di 'Pesawat' Selama 17 Hari, Buat Apa?

Liputan6.com, Moskow - Tiga pria dan tiga perempuan dikunci dalam sebuah pesawat antariksa artifisial di Moskow, Rusia, selama 17 hari. Rupanya, mereka adalah para astronot yang tengah melakukan simulasi penerbangan ke Bulan. Sebuah persiapan untuk misi jangka panjang.

Percobaan ini adalah pertama kalinya dari sekian persiapan yang digelar oleh Program Sirius (Scientific International Research In a Unique terrestrial Station). Rencananya, program lima tahun ini secara bertahap akan meningkatkan percobaan isolasi menjadi 365 hari.

Institute for Biomedical Problems Rusia telah bermitra dengan NASA untuk proyek yang menciptakan kembali kondisi penerbangan ke Bulan, satu lingkaran di sekitarnya dan perjalanan kembali ke Bumi.

Oleg Orlov, kepala proyek tersebut, mengatakan percobaan ini akan berjalan paralel dengan pengembangan pesawat ruang angkasa dalam (deep space).

"Pada pertengahan 2020-an kami mungkin akan siap untuk penerbangan yang sebenarnya," katan Orlov kepada AFP seperti dikutip dari The Guardian pada Rabu (8/11/2017).

Di antara tujuan eksperimen ini adalah mencari tahu rasio gender apa yang optimal untuk misi ruang angkasa jangka panjang, katanya.

"Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Rusia atau Soviet ketika seorang kru antariksa memasukkan lebih dari satu wanita," ujar psikolog proyek Vadim Gushchin.

Sebagian besar kru adalah peneliti atau kosmonot dari Rusia. Hanya ada satu orang asing: dari Jerman.

Tim tersebut dikunci dalam ruangan sebesar 250 meter kubik setelah sebelumnya mereka berjanji untuk melakukan apapun untuk menyelesaikan misi itu. Percobaan itu juga akan memeriksa efek fisik dan psikologis dari isolasi.

"Saya yakin bahwa kita bisa menyelesaikan semua tugas kita," kata komandan Mark Serov, sebelum masuk ke dalam unit tersebut.

Rusia telah menyelesaikan sejumlah eksperimen isolasi di darat, termasuk mengunci tiga pria dalam kotak logam 24 meter kubik selama setahun di tahun 1967.

 

1 dari 2 halaman

Misi Isolasi di Bumi untuk Simulasi ke Angkasa Luar

Misi di Bumi untuk jangka panjang terlama adalah penerbangan simulasi ke Mars yang mengunci enam awak internasional dalam sebuah modul selama 520 hari, yang berakhir pada bulan November 2011.

Adapun misi terbaru, adalah mengisolasi enam kru studi NASA yang dijadikan subyek penelitian dengan hidup di habitat mirip Mars. Mereka bebas setelah delapan bulan 'terisolasi'. 

Sejak Januari 2017, kru tersebut ditempatkan di sebuah wilayah terpencil di Hawaii. Di sana, mereka hanya makan-makanan yang telah dikeringkan dan mengonsumsi sayuran yang mereka tanam sendiri selama menjalankan misinya.

Selama delapan bulan, mereka ditempatkan di dataran luas di bawah puncak Mauna Loa, gunung berapi aktif terbesar di dunia. Di sana mereka mengenakan baju astronot dan melakukan perjalanan berkelompok setiap kali meninggalkan struktur kubah kecil.

Spesialis misi biologi, Joshua Ehrlich, menanam beragam sayuran segar selama menjalankan misinya.

"Wortel, paprika, pak choy, kol, sawi, lobak, tomat, kentang, peterseli dan oregano, itu adalah hal yang fenomenal, rasanya segar dan enak," ujar Ehrlich seperti dikutip dari Washington Post, September lalu. 

Seluruh komunikasi dengan dunia luar pun diprogram mengalami penundaan selama 20 menit -- waktu yang dibutuhkan untuk mengirim sinyal dari Mars ke Bumi.

Para kru di sana bertugas melakukan survei geologi, memetakan wilayah dan memelihara habitat mereka seolah-olah sedang berada di Mars.

Spesialis misi teknologi informasi, Laura Lark, menilai bahwa misi berawak ke Mars adalah tujuan yang masuk akal untuk NASA.

Proyek tersebut merupakan yang kelima dalam rangkaian enam studi yang didanai NASA di fasilitas University of Hawaii yang disebut Hawaii Space Exploration Analog and Simulation (Hi-SEAS).

Studi tersebut juga menguji cara untuk membantu kru mengatasi stres. Ketika telah kewalahan, mereka dapat menggunakan perangkat virtual reality untuk merasakan sensasi berada di pantai atau tempat familiar lainnya.

Data yang dihasilkan dari studi tersebut akan membantu NASA memilih individu dan kelompok dengan campuran sifat yang tepat. Hal itu dilakukan untuk mengatasi stres, isolasi dan bahaya perjalanan ke Mars yang membutuhkan dua sampai tiga tahun.

NASA berharap dapat mengirim manusia untuk menjejakkan kaki di sana sekitar tahun 2030-an.

 

Artikel Selanjutnya
Diduga Mabuk, Wanita Ini Buat Onar di Pesawat Ryanair
Artikel Selanjutnya
665 Hari di Luar Angkasa, Astronot 57 Tahun Ini Kembali ke Bumi