Sukses

3-11-2004: George W Bush Kembali Terpilih Menjadi Presiden AS

Liputan6.com, Washington D.C - Tepat hari ini pada tahun 2004, George W Bush memenangkan pemilu presiden untuk yang kedua kalinya. Kursi orang nomor satu di Negeri Paman Sam itu kembali ia raih setelah mengalahkan rivalnya dari Partai Demokrat, John Kerry.

Dikutip dari laman BBC, Jumat (3/11/2017), Bush menang dengan selisih suara yang bisa dibilang ketat. Bush memperoleh 274 suara (51 persen) dan John Kerry 252 suara (48 persen).

Merasa bahwa perolehan suara yang ia kantongi tak akan mengungguli rivalnya, John Kerry langsung menghubungi Bush via telepon.

Dalam percakapan empat menit, Kerry mengucapkan selamat kepada sang presiden. Sementara Bush menyebut Partai Demokrat sebagai lawan yang pantas dan layak.

Pada pidato kemenangannya, Bush mengatakan, "Saya bangga dapat kembali memimpin sebuah negara yang menakjubkan ini."

Selama masa kampanye, Bush berjanji untuk menjalankan program unggulannya selama empat tahun ke depan. Seperti reformasi pajak, jaminan sosial dan pendidikan.

Untuk permasalahan internasional, Bush berjanji akan membantu negara-negara demokrasi baru seperti Afghanistan dan Irak agar tumbuh dalam kekuatan dan kebebasan.

Atas kemenangannya Bush menerima ucapan selamat dari para pemimpin dunia.

Perdana Menteri Inggris Tony Blair misalnya. Ia berharap Amerika Serikat akan selalu menjadi partner kerja yang luar biasa.

Pada tahun 2008, ada kejadian yang menimpa Bush ketika melakukan kunjungan ke Irak. Kala itu, Bush diterima dengan baik oleh Perdana Menteri Irak Nuri Kamal al-Maliki. Keduanya melakukan pertemuan untuk membicarakan stabilitas keamanan di Irak. Juga termasuk rencana penarikan seluruh tentara AS dari Irak pada akhir 2011.

Usai berdialog, Bush dan al-Maliki menggelar konferensi pers di Kantor Perdana Menteri di Baghdad. Keduanya mengungkapkan hasil perbincangan mereka ke publik.

Namun tak disangka, tiba-tiba sebuah sepatu meluncur ke arah Bush. Adalah wartawan Irak, Muntader al-Zaidi yang secara cepat berdiri dan melemparkan sepatu tersebut sambil mengucapkan sumpah serapah.

"Ini hadiah dari Irak. Ini ciuman perpisahan dari kami untuk Anda. Teriak koresponden al-Baghdadia tersebut, yang langsung melemparkan sepatunya ke Bush.

Seperti dimuat New York Times, untung Bush sigap menggeser badan untuk menghindari sepatu yang hampir menyosor ke wajahnya.

Belum puas sampai di situ, meski pengawal kepala negara sudah bersiap menangkapnya, jurnalis berusia 28 tahun tersebut mengulangi aksinya. Sambil mengucap kecaman. "Ini dari janda dan anak yatim tak berdosa yang tewas di Irak," ujar dia. Pelaku pun kembali melemparkan sepatu ke Bush.

Lemparan kedua juga meleset. PM al-Maliki mencoba menghadang sepatu. Bush juga berusaha menghindar.

Saat itu juga, al-Zaidi langsung dibekuk, ditendang dan dipukuli aparat keamanan. Jurnalis itu menangis. "Dia meraung sejadi-jadinya seperti wanita," kata Mohammed Taher, reporter media Afaq yang juga berada di lokasi.

PM Irak al-Maliki langsung mencoba menghangatkan kembali suasana dengan guyonan terkait sepatu tersebut. "Ukuran sepatu itu kira-kira 10 ya," ujar dia, yang direspons dengan gelak tawa oleh orang-orang di sekitar.

Al-Zaidi si pelaku rupanya geram dengan Amerika Serikat yang melakukan invasi ke Irak atas dalih untuk melindungi warga dari kelompok militan terkait penggulingan Saddam Hussein. Bagi dia, langkah militer AS di negaranya, malah membuat korban semakin banyak.

Wartawan pelempar sepatu itu divonis hukum penjara satu tahun karena dianggap melakukan tindakan tak pantas terhadap pemimpin negara. Namun kemudian ia bebas lebih cepat setelah mendapat pengampunan.

Sejarah lain mencatat, pada tanggal 3 November 1507, Leonardo Da Vinci memulai proyek besarnya yaitu melukis Lisa Gherardini atau lebih dikenal di masa depan sebagai Mona Lisa.

Tidak hanya lukisan Mona Lisa, sejarah juga mencatat bahwa pada tanggal 3 November, Michael Dukakis politisi AS yang menjadi gubernur terlama dalam sejarah AS lahir ke dunia pada 1933.

Artikel Selanjutnya
Bahas Terorisme, Donald Trump Undang PM Najib ke AS
Artikel Selanjutnya
17 dari 18 Menteri Iran Dijabat Pria, Mana Janji Hassan Rouhani?