Sukses

Meski Menggiurkan, Ada 3 Alasan Utama Menolak Penawaran Kerja

Liputan6.com, Jakarta - Mungkin kita pernah mengalami mengikuti berbagai acara-acara networking dan melewati beberapa wawancara yang melelahkan hingga akhirnya tercapailah yang dicari, yaitu penawaran kerja.

Jika orang sudah lama mencari-cari pekerjaan baru dan belum berhasil, ia mudah tergoda menerima penawaran kerja tanpa bertanya-tanya lagi. Namun, temuan platform sumber daya manusia Hibob, menyatakan sebaliknya.

Setelah Hibob menanyai sekitar 2000 pekerja Inggris dari segala lapis usia, terungkap sekitar 47 persen dari responden ternyata menolak penawaran kerja.

Mengapa menolak? Dikutip dari theladders.com pada Selasa (31/10/2017), berikut ini adalah beberapa alasan seseorang menolak penawaran yang menggiurkan sekalipun:

1 dari 4 halaman

1. Budaya Kerja

Ilustrasi pekerja bahagia. (Sumber Max Pixel)

Sebuah pekerjaan yang keren dengan fasilitas yang menggoda tidak ada artinya jika kita menderita dalam pekerjaan.

Alasan utama yang diajukan orang-orang dalam survei ketika menolak pekerjaan adalah karena mereka “tidak merasa ada kecocokan atau mereka tidak merasa ingin masuk ke dalam tim baru mereka.”

Kalau hati kecil kita memberitahu ada yang tidak baik tentang situasinya, jangan abaikan. Lakukan penelitian dan bicara dengan para pegawai di perusahaan itu untuk melihat apakah kita bisa menggambarkan diri kita bekerja berdampingan dengan mereka.

Periksa apakah calon tempat kerja baru saja muncul di pemberitaan utama. Apakah masa depan bisnis perusahaan itu ada kepastian? Apakah banyak pencarian Google tentang perusahaan itu memunculkan kisah-kisah gugatan hukum? Berhati-hatilah.

Budaya beracun di tempat kerja akan terbawa dari kantor ke rumah dan berdampak kepada mood kita. Gaji yang besar sekalipun tidak berpengaruh jika kita kita terlalu menderita untuk menikmatinya.

Budaya kerja yang buruk bahkan dapat mencemari resume sehingga kita harus pikir-pikir menjalani pekerjaan ini.

Coba tanya kepada para pegawai yang harus bersikukuh membela perusahaan berkaitan dengan reputasi agresif dan beracun di perusahaan ketika melakukan wawancara.

Seorang pembaca Ladders bernama Anne Ryan mengatakan bahwa ia menolak pekerjaan ketika ia "merasa bahwa perusahaan itu tidak cocok sekali (great fit), mereka bersikeras mengambil saya hanya untuk menaruh orang hidup di kursi."

"Atau, dalam dua kasus, saya mengetahui cara mereka menjalankan bisnis telah melanggar beberapa peraturan ketenagakerjaan."

Kadang-kadang, demi karir dan kewarasan, kita harus bilang tidak dan pergi menjauh dari penawaran yang diberikan.

 

2 dari 4 halaman

2. Pemberi Harapan Palsu

Ilustrasi pekerja bahagia. (Sumber Pixabay)

Satu dari empat peserta survei Hibob mengatakan bahwa penawaran akhir yang diterima tidak cocok dengan yang dijanjikan dalam wawancara ketika mereka melakukan kesepakatan.

Banyak pekerjaan terlihat hebat di atas kertas hingga kita belakangan membaca inti penawaran final dan melihat ada pengurangan angka penawaran atau adanya syarat-syarat kontrak yang mengekang.

Pembaca Ladders bernama Greg Grass mengatakan ia menolak suatu pekerjaan "Setelah penawaran formal diajukan tapi ternyata bukan pekerjaan yang saya sangat inginkan walaupun pembayarannya lebih banyak daripada pekerjaan sebelumnya."

Sebelum berjabat tangan dan menerima suatu penawaran, baca baik-baik kontrak pekerjaan untuk melihat apa yang sebenarnya kita dapat dan kita relakan.

 

3 dari 4 halaman

3. Pekerjaan Tak Sepadan Karir

Ilustrasi pekerja bahagia. (Sumber PxHere)

Mungkin cukup menggoda untuk menerima pekerjaan dengan jabatan kerena di suatu perusahaan dengan nama besar, tapi jangan terpesona dengan tampak luar yang berkilauan.

Suatu pekerjaan mungkin saja mengesankan, tapi bukan untuk kita. Sekitar 27 persen peserta survei mengatakan mereka menolak tawaran pekerjaan jika "mereka tidak merasa peran yang dijalani akan memajukan karir mereka."

Kita ingin memilih pekerjaan di mana kita bisa berhasil dan melakukan yang terbaik, yaitu suatu peran yang menantang dan bukan sekedar mengulangi pekerjaan yang pernah kita jalani sebelumnya.

Suatu pekerjaan baru harus mengajarkan sesuatu yang baru tentang diri kita sendiri. Itu bisa berarti kita menolak pekerjaan yang tidak selaras dengan tujuan-tujuan karir kita. Itu bisa juga berarti melakukan perubahan dramatis.

Seperti dituliskan Adam S. Poswolsky melalui Washington Post, terlalu banyak di antara kita yang diajarkan bahwa tangga karir kita adalah suatu perjuangan panjang dalam industri yang kita telah mulai masuki.

Ia memperingatkan, "Ada tekanan untuk menapaki tangga karir cemerlang, padahal bukan sesuatu yang mencerminkan siapa saya sebenarnya sehingga menyebabkan kepedihan baik fisik maupun emosional."

Berbaik-baiklah dengan diri sendiri dan hindari penderitaan-penderitaan yang tak perlu. Pilihlah pekerjaan yang memenuhi tujuan kita, bukan tujuan-tujuan yang dipaksakan oleh orang lain kepada kita.

Artikel Selanjutnya
Lepas 51 Persen, Berapa Nilai Penjualan Harga Saham Freeport?
Artikel Selanjutnya
Jika Pilih IPO, BEI Pastikan Asing Tak Bisa Beli Saham Freeport