Sukses

Gincu dan Tarian Warnai Pesta Pernikahan di Raqqa Usai ISIS Kabur

Liputan6.com, Raqqa - Suara teriakan anak-anak yang berlarian ke sana-kemari memekakkan gendang telinga. Goyangan pinggul para penari membius puluhan tamu dan orang tua yang duduk dengan saksama sambil melihat rekan-rekan sebaya berdansa.

Hampir semua kejadian ini adalah bentuk kebahagiaan yang kini tengah dirasakan oleh warga yang tinggal di Raqqa, Suriah. Padahal, wilayah yang sebelumnya diduduki oleh kelompok pemberontak ISIS jauh dari kata bahagia.

Kelompok teroris tersebut melarang musik dan tarian. Tak hanya itu, pemakaian konde pada wanita, berpakaian ketat, dan penggunaan makeup juga dilarang saat ISIS menduduki Raqqa.

Mereka tinggal di bawah ancaman dan bayang-bayang senjata. Berani melawan, maka peluru bedil akan menembus kepala.

Namun, kesan itu sudah tak lagi dirasa oleh warganya, setelah ISIS berhasil diusir dan kalah di Raqqa.

Dikutip dari laman Straits Times, Senin (30/10/2017), salah satu bukti bahwa masyarakat Raqqa sudah hidup secara bahagia ialah pesta pernikahaan pertama yang berlangsung di sana. Adapun pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahannya adalah Ahmad dan Heba.

Sejoli ini mengikat janji suci pada Jumat 27 Oktober 2017. Acara itu berlangsung di desa Jazra dan dihadiri oleh warga satu kampung.

Jazra adalah distrik pertama yang terbebas dari belenggu ISIS. Keluarga mempelai pria sendiri berasal dari Jazra dan tak punya niatan untuk mengungsi meski gempuran ISIS kian dirasa.

"Kami sangat senang. Sebab ini adalah pernikahan pertama yang berlangsung di Raqqa sejak ISIS menduduki wilayah kami," ujar Ahmed Uthman Ibrahim.

"Tak hanya pesta pernikahan, ISIS juga melarang tradisi dakbe. Sebuah ritual yang berisi nyanyian. Bahkan ia melarang semua perayaan apa pun," tambahnya.

Seorang wanita menaruh uang di kepala pengantin wanita, Heba saat prosesi pernikahan di Raqqa, Suriah (27/10). Heba dan Ahmed merupakan pasangan pertama yang menikah usai Kota Raqqa jatuh dari tangan ISIS. (AFP Photo/Delil Souleiman)

Di hari berbahagia tersebut, Ahmad sang mempelai pria tampak mengenakan jubah cokelat tradisional. Pria berusia 18 tahun itu terlihat gagah di hari bahagianya.

Sementara itu, mempelai wanita yang mengenakan gaun putih dengan lapisan tulle pada bagian rok tampak sedikit gugup.

Sebuah penutup kepala berhias bunga putih yang bertumpu pada rambut membuat kecantikannya seolah terpampang nyata. Sebuah sirkam emas yang menggantung di kepala dan dipadukan dengan makeup sederhana membuat dirinya semakin jadi primadona di hari bahagia.

Di sekitar pasangan tersebut, ramai tamu undangan yang mencoba mengabadikan momen bahagianya lewat jepretan sebuah foto.

"Sudah lama sekali saya tidak merasakan pesta pernikahan," kata Umm Ahmed, sepupu mempelai pria.

"Kami merayakan pesta pernikahan dengan suka cita setelah berakhirnya perang terhadap ISIS," tambahnya sambil tersenyum lebar.

Ungkapan rasa bahagia juga dilontarkan oleh sepupu mempelai pria lainnya.

"Sudah bertahun-tahun saya tak menari dan merasakan momen dakbe. Ini seperti kehidupan yang sesungguhnya," ujar Khalaf Al-Mohammed.

 

1 dari 2 halaman

Puing-Puing Kesedihan

Meski rasa bahagia sedikit demi sedikit dapat dirasakan oleh warga, keterbatasan masih mereka alami. Saat ini, hampir semua bangunan di Raqqa tak dapat dihuni.

Pasalnya, banyak bangunan yang hancur akibat serangan yang sempat terjadi di wilayah tersebut.

Ratusan warga sipil terbunuh dalam pertempuran. Banyak pula dari mereka yang masih berkutat dalam kesedihan karena kehilangan anggota keluarga.

Namun, berlangsungnya sebuah pesta pernikahan menandakan adanya secercah harapan di masa depan.

"Raqqa akan bahagia selamanya," kata Khaldiya, bibi dari mempelai pria.

"Tak ada yang ada yang akan mencegah kami untuk bernyanyi dan menari. Kami akan terus berpesta," tambahnya.