Sukses

Bangladesh: Krisis Rohingya Bikin Negara Kami Kewalahan

Liputan6.com, Jenewa - Hampir 1 juta warga Rohingya mengungsi dari Myanmar ke Bangladesh, untuk melarikan diri dari gelombang kekerasan yang terjadi di Rakhine. Menurut perwakilan Bangladesh untuk PBB, Shameem Ahsan, hal itu membuat negaranya kewalahan.

"Ribuan orang masih memasuki Bangladesh setiap harinya," ujar Ahsan saat berbicara dalam konferensi di Jenewa untuk mengumpulkan dana bagi para pengungsi, seperti dikutip dari BBC, Selasa (24/10/2017).

Sekitar US$ 340 juta telah dijanjikan untuk Bangladesh sejauh ini. Targetnya, PBB akan mengumpulkan US$ 434 juta yang disebut dapat membantu lebih dari 1 juta pengungsi selama enam bulan.

Sejumlah lembaga bantuan menggambarkan kondisi di kamp-kamp di Bangladesh sebagai sesuatu yang mengerikan.

Di sana terjadi kekurangan air bersih, tempat tinggal, dan makanan. Anak-anak di tempat pengungsian juga banyak yang mengalami trauma.

"Ini adalah situasi yang tak dapat dipertahankan," ujar Ahsan dalam konferensi tersebut.

Ia mengatakan, bantuan merupakan hal yang sangat penting hingga Myanmar menyetujui untuk memulangkan warganya secara aman dan bermartabat.

1 dari 2 halaman

Sekilas tentang Krisis Rohingya

Warga Rohingya telah tinggal di negara bagian Rakhine selama beberapa generasi. Namun, pemerintah Myanmar tak menganggap mereka sebagai warga negara dan menyebutnya imigran tak berkewarganegaraan.

"Penyangkalan identitas etnis Rohingya yang terang-terangan ini menjadi batu sandungan," kata Ahsan.

Sebanyak 600 ratus warga Rohingya telah menyeberang perbatasan Myanmar-Bangladesh sejak Agustus 2017.

PBB juga menuduh pemerintah Myanmar telah melakukan pembersihan etnis. Sementara itu, militer Myanmar mengatakan bahwa pihaknya hanya memerangi gerilyawan Rohingya dan membantah laporan telah menargetkan warga sipil.

Sebelum arus pengungsi Myanmar yang baru masuk, Bangladesh sudah menjadi rumah bagi 300 ribu orang Rohingya yang melarikan diri dari serangkaian kekerasan sebelumnya di Rakhine.

Kepala Badan Pengungsi PBB, Filippo Grandi, mengatakan bahwa kedua negara telah memulai pembicaraan mengenai pemulangan. Namun, kondisi yang diperlukan untuk pemulangan, belum memenuhi persyaratan.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: