Sukses

Kehidupan Makhluk Laut Terancam Akibat Pengasaman Samudra

Liputan6.com, Kiel - Sebuah laporan terbaru mengungkap, seluruh kehidupan makhluk laut akan terdampak pengasaman laut. Kondisi itu disebabkan oleh emisi yang dihasilkan oleh manusia modern.

Studi itu dilakukan selama delapan tahun oleh 250 ilmuwan di bawah Biological Impacts of Ocean Acidification (BIOACID). Dari laporan tersebut, mereka yang paling terdampak dari kondisi semakin asamnya air adalah makhluk laut yang masih muda -- salah satunya adalah ikan kod.

Menurut para peneliti, pengasaman air laut membuat bayi ikan kod yang tumbuh dewasa jumlahnya akan menurun hingga seperempat atau seperduabelas dari jumlah sekarang.

Dikutip dari BBC, Senin (23/10/2017), pengasaman laut terjadi karena karbon dioksida (CO2) dari bahan bakar fosil, larut dalam air laut sehingga menghasilkan asam karbonat dan menurunkan tingkat keasaman atau pH air. Hal itu diperparah oleh perubahan iklim, polusi, pembangunan daerah pesisir, penangkapan ikan dalam jumlah besar, dan penggunaan pupuk kimia yang terbawa hingga ke laut.

Sejak awal Revolusi Industri, pH rata-rata permukaan air laut di seluruh dunia telah menurun dari 8,2 ke 8,1 -- semakin rendah nilai pH, maka semakin asam. Angka tersebut menunjukkan bahwa tingkat keasaman air laut telah meningkat sebesar 26 persen.

"Pengasaman berdampak pada kehidupan laut, meski tingkatnya berbeda-beda," ujar pemimpin studi, Profesor Ulf Riebesell, dari GEOMAR Helmholtz Centre for Ocean Research di Kiel.

"Karang air hangat biasanya lebih sensitif dibanding karang air dingin. Kerang dan keong lebih sensitif dibanding krustasea. Makhluk yang berumur muda lebih terdampak dibanding organisme dewasa."

"Bahkan jika organisme tak terdampak oleh pengasaman, mereka akan mengalami dampak tak langsung melalui perubahan di habitat atau di rantai makanan."

"Pada akhirnya, perubahan itu akan mempengaruhi sumber daya laut yang diberikan kepada kita," jelas Riebesell.

 

1 dari 2 halaman

Pentingnya Penelitian Pengasaman Air Laut

Sejak 2009, para ilmuwan yang bekerja di bawah progrma BIOACID memperlajari bagaimana makhluk laut terdampak pengasaman dalam tingkat kehidupan berbeda, pengaruhnya terhadap rantai makanan, dan apakah dampak berkurang oleh adaptasi.

Beberapa penelitian dilakukan di laboratorium dan penelitian lainnya dilakukan di Laut Utara, Baltik, Arltik, dan Papua Nugini.

Sebuah sintesis lebih dari 350 publikasi mengenai efek pengasaman laut, mengungkap bahwa hampir setengah spesies hewan laut yang diuji bereaksi negatif terhadap peningkatan konsenrasi karbon dioksida air alut.

Meski kondisi tersebut berdampak negatif terhadap beberapa makhluk hidup, sejumlah makhluk lain diuntungkan oleh kondisi itu. Misalnya, alga yang membutuhkan CO2 untuk fotosintesis.

Seorang ahli pengasaman laut dari Plymouth Marine Labs di Inggris, Dr Carol Turley, mendeskripskan bahwa penelitian BIOACID merupakan hal yang sangat penting.

"Itu berkontribusi banyak atas wawasan baru terhadap dampak pengasaman dalam skala besar organisme, mulai dari mikroba hingga ikan," ujar Turley.

"Penelitian itu juga mengeksplorasi bagaimana pemanasan air laut dan hal penyebab stres lainnya bermain di tingkat ekosistem dan mempengaruhi kehidupan manusia."

"(Laporan yang keluar) menjelang negosiasi perubahan iklim PBB di Bonn pada November ini, merupakan hal yang jelas bahwa samudra dan ekosistemnya tak boleh diabaikan," jelas dia.

Konferensi PBB tentang perubahan iklim akan digelar di Bonn, Jerman. Negara ketua konferensi tersebut, Fiji, menginginkan para delegasi sadar akan efek CO2 di lautan.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Selanjutnya
6 Banjir Paling Mematikan Sepanjang Sejarah
Artikel Selanjutnya
Bangkai Raksasa Diduga Paus Membusuk di Pantai Yeh Kuning