Sukses

Ketika Budaya Mentawai 'Membius' Warga Belanda

Liputan6.com, Den Haag - Selama berabad-abad suku Mentawai telah mendiami pulau yang terletak sekitar seratus kilometer dari pantai di Sumatra Barat. Pada abad ke-17 untuk pertama kalinya VOC melaporkan adanya populasi di kepulauan tersebut.

Suku Mentawai terkenal dengan pemikiran religus semenjak dahulu kala. Namun, masih berpengaruh hingga saat ini.

Suku Mentawai percaya bahwa tidak hanya manusia dan hewan yang mempunyai jiwa, tetapi juga tumbuhan, barang barang seni maupun peralatan tradisional lainnya. Dari itulah semua harus dihargai dan diperlakukan secara baik.

Filosofi kehidupan Suku Mentawai kini dibawa ke Belanda. Dalam scara Leiden Asian Year dan Festival Europalia Indonesia Arts di Leiden pengunjung terpukau dengan kehidupan suku itu.

Dalam keterangan Kedutaan Belanda yang diterima Liputan6.com pada Senin (22/10/2017), warga Belanda mendapat kesempatan yang menarik untuk menikmati kekayaan seni yang dimiliki oleh suku Mentawai. Dari keunikan peralatan tradisional, benda benda seni dan juga sejarah yang melatarbelakanginya.

Para pengunjung dapat lebih mengenal berbagai tradisi yang telah hidup berabad-abad lamanya dan kultur kontemporer saat ini. Pameran yang berlangsung pada tanggal 21 Oktober – 28 Mei 2018 di Museum Volkenkunde, Leiden adalah berkat kerjasama dan sumbangan pemikiran dari para ahli Mentawai dan guru besar Antropologi Indonesia di Universitas Leiden, Reimar Schefold.

Museum Volkenkunde dapat memiliki koleksi khusus barang seni dan berbagai peralatan tradisional dari Mentawai.

Pada pameran ini museum Volkenkunde juga melansir sebuah situs koleksi tematis di mana seluruh koleksi Mentawai secara lengkap dijelaskan dalam Bahasa Indonesia. Acara pembukaan pameran ini dihadiri oleh Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja dan diawali dengan sambutan oleh Stijn Schoonderwoerd selaku Direktur Museum Volkenkunde.

Ketika Budaya Mentawai 'Membius' Warga Belanda (KBRI Den Haag)

Acara dilanjutkan dengan penyerahan eksemplar pertama dari publikasi ‘Toys for the Souls. Life and Art on the Mentawai island’ kepada Juniator Tulius.

Kemudian dipandu oleh Reimar Schefold, pengunjung dapat menyaksikan pameran koleksi Mentawai secara lengkap di lantai atas museum yang bernuansa modern.

Pengunjung terlihat antusias saat mengamati benda tradisional yang dipakai oleh suku Mentawai dalam kehidupan mereka sehari-hari seperti alat pertanian, alat penangkap ikan, senjata untuk berburu bahkan perhiasan.

Gambaran tentang kehidupan nyata suku Mentawai juga diperlihatkan dalam bentuk film pendek yang mengisahkan bagaimana mereka dapat bertahan hidup dalam keterbatasan yang ada.

Pameran ini berfokus pada bagaimana mempertahankan nilai-nilai tradisi Mentawai di zaman modern dan sampai sejauh mana penduduk kepulauan Mentawai ingin menjadi bagian dari dunia.

 

Artikel Selanjutnya
Peserta Wonderful Sail 2 Indonesia 2017 Enjoy di Pantai Riung
Artikel Selanjutnya
Lompatan Desa Lompat Batu Bawomataluo Nias