Sukses

Insiden Serangan Penusukan di Jerman Lukai 8 Orang, Teror?

Liputan6.com, Munich - Seorang pria bersenjata pisau menyerang delapan orang secara acak di Munich, Jerman pada Sabtu 21 Oktober 2017.

Menurut polisi, pelaku adalah warga Jerman setempat yang terkenal dengan pencurian dan pelanggaran lainnya. Ia berhasil dibekuk dan ditahan beberapa jam setelah melakukan aksi nekatnya

Mengutip The Telegraph pada Minggu (22/10/2017), tidak ada yang terluka parah dalam serangan pisau yang dimulai sekitar pukul 8.30 pagi di daerah Haidhausen, sebelah timur pusat kota Munich. Polisi mengatakan, mereka percaya itu bukan serangan teror. Pihak keamanan menduga bahwa penyerang tersebut memiliki masalah psikologis karena memiliki riwayat kriminal ringan.

Penyerang itu menyerang orang yang lewat tanpa pandang bulu dengan pisau, kata polisi. Dia menyerang delapan orang, termasuk anak berusia 12 tahun, di lokasi yang berbeda. Korban menderita luka tusukan dan setidaknya satu kasus rupanya dipukul pelaku.

Kira-kira tiga jam kemudian, polisi menahan seorang pria berdasarkan laporan saksi. Para saksi mengatakan bilang pelaku bertubuh tambun, tidak bercukur dengan rambut pirang pendek dan punya sepeda hitam dan ransel.

Tersangka berusia 33 tahun. Ia membawa pisau saat ditangkap. Polisi mengenalnya sebagai penjahat kelas teri dengan terlibat pelanggaran narkoba dan pencurian, kata kepala polisi kota, Hubertus Andrae kepada wartawan.

Tersangka tidak segera memberikan informasi kepada polisi tentang motifnya.

"Sama sekali tidak ada indikasi saat ini tentang latar belakang teroris, politik atau agama, walaupun kita hanya bisa mendapat jawaban saat semua pertanyaan selesai," kata Andrae. "Selain itu, kami percaya bahwa pelaku memiliki masalah psikologis."

Andrae memastikan, serangan penusukan kali ini bukan terorisme dan kondisi di Munich telah kondusif.

 

1 dari 2 halaman

Munich dan Serangan Penembakan

Setahun lalu, 22 Juli 2016, Munich pernah digemparkan dengan penembakan di pusat perbelanjaan Olympia-Einkaufszentrum (OEZ). Kala itu, sembilan orang tewas. Sebanyak 27 orang juga menjadi korban dalam serangan tersebut, 10 di antaranya mengalami luka berat. 

Pelaku David Ali Sonboly, pemuda 18 tahun yang memiliki dua kewarganegaraan, Jerman dan Iran. Tak jelas apa motif di balik tindakan kejamnya itu. Jasad pelaku ditemukan di tepi jalan, sekitar 1 kilometer dari lokasi kejadian. Ia diduga kuat bunuh diri.

Polisi menemukan pistol Glock 17 kaliber 9 mm dan 300 peluru di dalam tas ranselnya.

Robert Heimberger, kepala kepolisian kriminal Bavaria mengatakan, pelaku telah merencanakan serangan tersebut sejak tahun lalu.

Pada 2015, ia diketahui mengunjungi Kota Winnenden -- yang menjadi lokasi penembakan di sekolah pada 2009 -- dan mengambil sejumlah foto.

Juru bicara Kantor Kejaksaan Munich, juga dalam konferensi pers yang sama, mengatakan, pelaku pernah menjalani perawatan sebagai pasien rawat inap di fasilitas kesehatan jiwa pada 2015 --setelah itu ia menjalani rawat jalan.

"Tersangka takut untuk melakukan kontak dengan orang lain, juga mengalami depresi," kata Thomas Steinkraus-Koch.

Sejauh ini belum ditemukan adanya motif politik atau keterkaitan tindakan pelaku dengan organisasi teroris manapun.

Pasca-kejadian, sejumlah politisi Jerman menyerukan aturan yang lebih ketat terkait penjualan senjata api.

Sementara itu, Kepolisian Munich meminta media untuk menghormati privasi mereka yang terdampak, terutama saat sekolah kembali dimulai pada hari Senin.

Penembakan di Munich kembali membuat Eropa gempar. Sejumlah penyerangan sebelumnya terjadi di wilayah Benua Biru, termasuk penikaman di kereta Jerman oleh seorang pemuda simpatisan ISIS, juga teror truk di Nice, Prancis yang menewaskan 84 orang.

 

Artikel Selanjutnya
Polisi Belanda Bekuk Terduga Kasus Ancaman Teror di Konser Musik