Sukses

Lawan Rudal Korut, Korsel Ciptakan 'Frankenmissile'

Liputan6.com, Seoul - Militer Korea Selatan berencana mengembangkan Frankenmissile untuk melawan kemampuan rudal dan nuklir Korea Utara yang kian meningkat. Langkah tersebut dilakukan  untuk menguasai keadaan dalam fase awal sebuah perang.

Dalam laporannya ke audit parlemen tahunan oleh Komite Pertahanan Majelis Nasional, seperti diberitakan Straits Times pada Sabtu (21/10/2017), militer Korsel mengatakan akan mengembangkan rudal surface-to-surface atau dari permukaan ke permukaan, Hyunmoo IV. Unit itu diyakini cukup kuat untuk menghancurkan fasilitas dan komando militer Korut.

"Dikombinasikan dengan rudal surface-to-surface taktis dan Hyunmoo si rudal balistik jarak menengah, kemampuan serangan pre-emptive yang meningkat akan menimbulkan efek unbearable cost atau luar biasa di Korea Utara -- dengan menetralisasi situs nuklir dan rudalnya, serta unit artileri jarak jauh," jelas pihak militer Korsel.

"Kami akan menggunakan ketiga jenis rudal tersebut sebagai serangan misil pertama dari rudal tersebut dan memusatkan mereka pada tahap awal perang, untuk menghancurkan unit artileri jarak jauh dan rudal Korut yang terletak di wilayah operasi rudal balistik," kata pihak militer.

Korea Selatan dicurigai tengah meningkatkan kemampuan rudal balistiknya dengan membuat kesepakatan ke AS untuk menghapuskan batas muatan rudal bulan lalu. (Sebelumnya, Seoul dilarang memasang hulu ledak yang beratnya lebih dari 500 kg pada rudal balistiknya dengan jarak tempuh lebih dari 800 km).

"Perkembangan rudal balistik canggih tersebut merupakan bagian dari upaya militer Korsel untuk melakukan 'perubahan permainan' dalam konsep operasional, yang dirancang untuk meminimalkan korban sipil dan mengakhiri perang sesegera mungkin," jelas pihak militer.

Selain itu, mereka juga memiliki konsep "lima pilar" yang menyerukan agar militer mengembangkan rudal kuat presisi tinggi, membentuk korps manuver yang tangkas, membangun unit dengan menggunakan pesawat tak berawak dan robot, mengembangkan sistem pertarungan maju, dan menciptakan brigade perang khusus untuk "deception strikes" terhadap pemimpin Korut Kim Jong-un.

1 dari 2 halaman

Komando untuk Perlindungan Pulau

Korps Marinir Korea Selatan juga mengumumkan sebuah rencana untuk membentuk sebuah komando baru yang didedikasikan untuk melindungi pulau-pulau perbatasan. Mereka berjanji untuk mempertahankan perbatasan laut melawan serangan potensial dan usaha pendudukan dari Korea Utara.

Selama audit parlementer, Korps Marinir Korsel mengatakan bahwa komando baru akan dibangun sekitar tahun 2020 dan berdasarkan North-western Island Defence Command saat ini. Komando itu dibentuk pada 2011, setelah serangan artileri Korut terhadap Yeongpyeong --salah satu pulau di Korsel.

"Korps Marinir akan berusaha untuk memperluas aksinya ke dalam sebuah komando pertahanan baru untuk pulau-pulau strategis," kata komandan Korps Marinir Jun Jin Goo.

"Kami akan berusaha untuk membangun sebuah struktur komando terpadu untuk pulau-pulau strategis di laut Barat, Timur, dan Selatan."

Korps Marinir Korsel mengatakan akan membentuk sebuah unit untuk mempertahankan Dokdo, satu set pulau kecil di Laut Timur atau Laut Jepang yang menjadi subjek perselisihan teritorial dengan Jepang. Hal ini bertujuan untuk membangun unit pada 2020.

Pengumuman tersebut diumumkan di tengah meningkatnya ancaman Korut terhadap wilayah perbatasan Korsel. Pada Agustus, Pyongyang mengungkapkan pelatihan militernya yang dirancang untuk merebut Pulau Yeongpyeong dan pulau terdekatnya di Baengnyeong.

Beberapa anggota parlemen kemudian menyuarakan keprihatinan terkait keyakinan Korut tentang keunggulan nuklir dan rudalnya terhadap Korsel. Lalu, kemungkinan akan mencoba paksa menduduki pulau-pulau yang berada dekat perbatasan.

Pekan lalu, Menteri Pertahanan Korea Selatan, Song Young Moo mengakui bahwa kekhawatiran tersebut adalah skenario yang masuk akal.

Ditanya tentang kemungkinan tersebut, kepala angkatan laut Korsel, Um Hyung Sung, pada hari Kamis merespons Korut seperti situasi perang.

"Jika terjadi provokasi musuh, unit garis depan tidak dapat menilai apakah ini adalah pertempuran biasa atau perang habis-habisan. Kami akan membalas seolah-olah itu adalah perang sesungguhnya," kata Um Hyung Sung kepada anggota parlemen.

Artikel Selanjutnya
AS dan Rusia Beda Pendapat Soal Sanksi Kepada Korea Utara
Artikel Selanjutnya
Putin: Krisis Rudal Korut Mampu Sebabkan Kehancuran Planet