Sukses

21-10-1959: NASA Rekrut Ahli Roket Eks Ilmuwan Nazi

Liputan6.com, Huntsville - Presiden Amerika Serikat Dwight D Eisenhower menandatangani perintah eksekutif untuk mentransfer perancang roket ternama, Wernher von Braun, dan timnya dari Angkatan Darat AS ke NASA pada 21 Oktober 1959.

Wernher von Braun lahir di keluarga aristokrat Jerman pada 1912. Ia terpesona dengan roket setelah membaca The Rocket into Interplanetary Space (1923) karya Hermann Oberth, saat dirinya masih remaja.

Ia kemudian belajar teknik mesin dan fisika di Berlin. Untuk mengisi waktu senggang, Von Braun membantu Oberth dalam menguji roket berbahan bakar likuid.

Pada 1932, karya Von Braun di bidang roket menarik tentara Jerman dan ia diberikan hibah untuk terus melanjutkan pengembangannya. Ia kemudian direkrut untuk memimpin unit roket artileri dan pada 1937 ia menjadi direktur teknis di fasilitas pengembangan di Peenemünde di Laut Baltik.

Dilansir History, uji coba roket Von Braun membuat Nazi terkesan, sehingga ia kembali mendapat pendanaan untuk mengembangkan program roketnya.

Roket tercanggih yang diproduksi di Peenemünde adalah rudal balistik jarak jauh A-4 dan rudal anti-pesawat Wasserfall. Rudal A-4 diproduksi jauh sebelum negara-negara lain mulai mengembangkan senjata tersebut.

Pada 1944, Nazi mengubah nama A-4 menjadi V-2 dan mulai meluncurkan roket ke London, Inggris, dan Antwerp, Belgia. Meski menimbulkan banyak korban, rudal tersebut datang terlalu terlambat untuk mempengaruhi hasil perang.

Menjelang akhir Perang Dunia II, Von Braun dan 400 anggota timnya melarikan diri sebelum Uni Soviet menginvasi. Tentara AS pun dengan cepat menyita lebih dari 300 gerbong kereta yang mengangkut suku cadang V-2.

Para ilmuwan Jerman kemudian dibawa ke Amerika Serikat dan menetap di Fort Bliss, Texas, di mana mereka melanjutkan pengembangan roket.

Awalnya mereka diawasi dengan ketat karena pernah bekerja untuk Nazi. Namun setelah menjadi jelas bahwa mereka sepenuhnya mengalihkan kesetiaan ke AS, peluang eksplorasi ilmiah lebih besar pun diberikan kepada mereka.

Pada 1950, Von Braun dan timnya, yang saat itu telah termasuk warga Amerika, ditransfer ke Huntcille, Alabama, untuk mengepalai program senjata balistik Angkatan Darat AS.

Selama tahun 1950-an, Von Braun dengan antusias mempromosikan kemungkinan dilakukannya penerbangan angkasa luar dalam sejumlah buku dan majalah. Pada 1955, ia menjadi warga negara AS.

Pada Okotber 1957 Uni Soviet berhasil meluncurkan satelit buatan pertama, Sputnik. Namun tiga bulan setelahnya, yakni Januari 1958, tim Von Braun meluncurkan satelit AS pertama, Explorer 1.

Pada Juli di tahun yang sama, Presiden Eisenhower menandatangani undang-undang pendirian NASA. Tak lama kemudian, Von Braun secara resmi dipindahkan ke badan antariksa baru itu.

Pada 1960, von Braun diangkat sebagai Direktur George C. Marshall Space Flight Center di Huntsville.

Di sana, von Braun mengawasi konstruksi roket Saturn. Hal itu membuat AS dapat mengejar pencapaian Uni Soviet pada awal dan pertengahan 1960-an.

Pada akhir 1960-an, kejeniusan von Braun membuat AS memenangkan perlombaan antariksa kala itu. Soviet gagal membangun roket pendorong rumit dari tipe yang membuat astronot AS dapat mengorbit Bulan pada 1968.

Roket Saturn yang dikembangkan von Braun, membuat 27 astronot Amerika dapat pergi ke Bulan, di mana 12 di antaranya berjalan di permukaannya. Von Braun pensiun dari NASA pada 1972 dan meninggal lima tahun setelahnya.

Selain direkrutnya von Braun ke NASA, di tanggal yang sama pada tahun 1941 tentara Jerman yang berada di bawah kekuasaan Nazi, mencatatkan sejarah buruk. Mereka membantai ribuan warga sipil Yugoslavia.

Di tanggal yang sama pada 1994, 32 orang tewas dalam ambruknya jembatan Seongsu Bridge di Seoul.

Jembatan itu ambruk pada dini hari setelah salah satu lempengan beton jatuh karena kegagalan struktur suspensi. Hal itu disebabkan karena tak benarnya pengelasan rangka baja struktur suspensi di bawah jalan beton.

Artikel Selanjutnya
Teknologi Rudal Korut, Bersumber dari Rusia dan Ukraina?
Artikel Selanjutnya
Astronot AS Ini Pulang Setelah Habiskan 665 Hari di Angkasa Luar