Sukses

Gara-Gara Segelas Sampanye, Pria Ini Gugat Maskapai Penerbangan

Liputan6.com, Quebec - Bagi kebanyakaan orang, tentu akan merasa kesal apabila membayar sebuah produk atau jasa yang tak sesuai dengan iklan yang ditanyangkan. Hal semacam ini, juga dialami oleh seorang pria asal Kanada.

Dikutip dari laman Telegraph.co.uk, Jumat (20/20/2017), pria tersebut diketahui bernama Daniel Macduff. Ia menggugat sebuah maskapai penerbangan bernama Sunwing Airlines karena merasa kecewa dengan iklan yang mereka tawarkan.

Pada mulanya, maskapai penerbangan tersebut dengan jelas menyampaikan dalam iklan bahwa akan menyajikan segelas sampanye ketika lepas landas.

Dengan membeli tiket penerbangan dari Quebec menuju Cayo Coco -- sebuah pulau di Kuba -- Macduff mengira jika pesawat yang akan ia tumpangi akan menyajikan sampanye.

Melihat iklan yang berbanding terbalik dengan realita, membuat pensiunan pegawai negeri tersebut mengajukan tuntutan kepada pihak Sunwing. Gelas yang semula ia kira sampanye ternyata hanya berisi segelas anggur dan soda biasa.

Sementara itu, pihak maskapai penerbangan berdalih. Penggunaan kata 'sampanye' pada iklan tersebut hanya bertujuan untuk menarik minat para pelanggan.

Pasca-kejadian, pihak penerbangan secara langsung mengambil langkah dengan mengubah iklan yang sebelumnya telah terpasang. Kata-kata dalam iklan kemudian diubah menjadi 'segelas anggur dan soda, selamat datang dalam penerbangan kami'.

Namun, pria itu masih menegaskan bahwa iklan yang disampaikan oleh pihak maskapai sangat menyesatkan. Ia tetap menuntut ganti rugi kepada maskapai penerbangan.

"Hal yang terpenting guna menarik pelanggan adalah dengan menawarkan sesuatu hal dengan kejujuran. Ini adalah bukti yang menunjukkan bahwa banyak perusahaan yang melanggar peraturan iklan," ujar Macduff.

 

1 dari 2 halaman

3 Mahasiswi Tuntut Maskapai Israel

Jika Daniel Macduff menuntut sebuah maskapai penerbangan akibat iklan yang tak sesuai dengan kenyataan, maka beda halnya dengan tiga orang mahasiswi asal Israel.

Tiga orang pelajar tersebut menuntut dua maskapai penerbangan asal Israel atas tuduhan pelecehan seksual. Tuntutan tersebut bukan tanpa alasan, mereka bertiga mengaku telah diminta untuk menanggalkan seluruh pakaian yang digunakan saat hendak menggunakan maskapai tersebut dengan alasan prosedur keamanan.

Dikutip dari laman RT.com, tiga pelajar wanita tersebut tercatat sebagai mahasiswa S2 di Hebrew University of Jerusalem dan merupakan warga Palestina di Israel.

Tindakkan pelecehan seksual itu terjadi saat ketiganya hendak berangkat menuju Tel Aviv. Setibanya di bandara Beograd, mereka diberi tahu oleh petugas tak dapat menaiki pesawat karena dicurigai membawa benda-benda berbahaya, kecuali bersedia untuk ditelanjangi.

"Saya mendengar kepala petugas keamanan menyuruh seorang petugas wanita untuk melepaskan bra saya. Jika tak bersedia, maka saya diizinkan untuk menaiki pesawat," ujar salah satu korban.

"Pada saat itu saya tak bisa berkata-kata. Itu sungguh mengejutkan. Akhirnya, saya benar-benar menanggalkan semua pakaian yang melekat dalam tubuh saya. Itu sangat menyakitkan," tambahnya.

Bahkan, salah satu wanita diketahui pingsan saat dilakukan pemeriksaan yang berlangsung selama dua jam oleh personel keamanan Israel.

Ketiga pelajar tersebut akhirnya menuntuk maskapai yang diketahui bernama El Al dan Arkia tersebut.

Meski begitu, hanya ada satu maskapai penerbangan yang angkat suara soal insiden ini, yaitu El Al.

"Semua tindakan yang diambil oleh petugas keamanan El Al dilakukan berdasarkan pantauan dan proses pengecekkan," ujar pihak El Al.

"Maskapai kami telah melakukan yang terbaik untuk menjaga setiap prosedur keamanan," tambahnya.

Artikel Selanjutnya
Gara-Gara Kalajengking, Maskapai EasyJet Tunda Keberangkatan
Artikel Selanjutnya
Diduga Mabuk, Wanita Ini Buat Onar di Pesawat Ryanair