Sukses

5 Lokasi di Alam Semesta Ini Penuh Emas hingga Berlian

Liputan6.com, Pasadena - Pada 17 Agustus lalu, para ilmuwan berhasil menangkap fenomena menakjubkan di alam semesta, yakni tabrakan dua bintang. Emas, platinum, dan uranium dalam jumlah besar pun berhamburan saat peristiwa besar dan langka itu.

Peristiwa tabrakan antara dua bintang super padat itu terjadi 130 tahun cahaya dari tata surya kita. Para ahli menyebut bahwa peristiwa itu merupakan awal baru dalam astrofisika.

Pasalnya, ombak kecil ruang-waktu yang membuktikan adanya gelombang gravitasi Einstein juga tercipta dari benturan dahsyat tersebut. Selain itu, cahaya dan radiasi juga dihasilkan dari ledakan yang disebut kilonova.

Menurut salah satu ilmuwan dari University of Warwick, Dr Joe Lyman, cahaya kilonova didukung oleh reaksi nuklir yang ekstrem.

"Ini memberi tahu kita bahwa unsur-unsur berat, seperti emas atau platinum dalam perhiasan, adalah bara api yang ditempa dalam bertabrakannya bintang neutron," ujar Lyman.

Dari peristiwa itu, terungkap pertanyaan asal semburan sinar gama atau dikenal dengan gamma ray bursts (GRB) -- yakni dari tabrakan dua bintang neutron. Semburan itu adalah ledakan paling kuat yang sejauh ini diketahui oleh ilmuwan.

"Penemuan ini telah menjawab tiga pertanyaan yang telah membingungkan astronom selama berpuluh-puluh tahun: apa yang terjadi ketika bintang neutron bertabrakan? Apa yang menyebabkan semburan sinar gama? Dari mana asal logam seperti emas?" ujar Dr Samantha Oates dari University of Warwick.

Namun, bukan kali ini saja logam mulia dan batu berharga lain terdeteksi di alam semesta. Para ilmuwan telah menemukan benda bernilai tinggi itu di beberapa planet dan asteroid yang tersebar di alam semesta.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut benda antariksa yang menyimpan batu dan logam berharga, mulai dari berlian hingga platinum.

 

 

1 dari 6 halaman

1. Hujan Berlian di Jupiter, Saturnus, Neptunus, dan Uranus

Ilustrasi hujan berlian Neptunus dan Uranus. (Greg Stewart/SLAC National Accelerator Laboratory)

Baru-baru ini, sejumlah ilmuwan menciptakan hujan berlian di laboratorium untuk kali pertama. Eksperimen mereka bertujuan untuk membuktikan fenomena yang selama ini diyakini terjadi di Neptunus dan Uranus.

Selama ini diyakini bahwa tekanan tinggi di Neptunus dan Uranus akan menekan atom karbon di atmosfer dan menciptakan hujan berlian. Namun, hingga saat ini, tak ada yang melihat langsung bagaimana fenomena itu terjadi.

Untuk menciptakan hujan berlian, para ilmuwan menggunakan selembar polistirena yang mengandung jumlah intens karbon serupa. Mereka kemudian memaparkannya dengan gelombang suara ekstrem untuk menciptakan tekanan tinggi.

Hampir setiap atom karbon berubah menjadi berlian kecil berukuran nano. Namun, para peneliti memprediksi bahwa berlian di Uranus dan Neptunus ukurannya jauh lebih besar, mungkin beratnya mencapai jutaan karat.

Selain di Uranus dan Neptunus, ilmuwan telah lama meyakini bahwa berlian juga menghujani Saturnus dan Jupiter.

Data atmosfer dari dua planet gas raksasa itu mengindikasikan bahwa ia memiliki karbon melimpah. Badai petir mengubah metana menjadi karbon yang mengeras menjadi potongan grafit dan kemudian menjadi berlian.

Seperti diungkapkan Dr Kevin Baines dari University of Wisconsin-Madison dan Jet Propulsion Laboratory NASA, ada sekitar 1.000 ton berlian diproduksi di Saturnus tiap tahunnya.

2 dari 6 halaman

2. Cancri e, Planet Berselimut Berlian dan Grafit

Ilustrasi Planet 55 Cancri-e (Foto: NASA/Caltech).

Pada 2012, ilmuwan menemukan sebuah planet penuh "harta karun". Planet yang diberi nama 55 Cancri e dikategorikan sebagai Bumi Super (super-Earth), memiliki radius dua kali lipat Bumi, delapan kali lebih berat dari planet yang dihuni manusia.

Sementara permukaan Bumi ditutupi air dan granit, Planet 55 Cancri e diduga ditutupi berlian dan grafit.

Sebuah studi menyimpulkan, setidaknya sepertiga massa planet tersebut, atau setara dengan tiga kali berat Bumi adalah berlian.

Ini adalah kali pertamanya astronom bisa mengidentifikasi apa yang diduga sebagai planet berlian, mengorbit di sekitar bintang mirip Matahari. Namun, tak seperti Bumi, ia dipenuhi unsur kimia.

"Ini adalah kali pertama kami melihat dunia berbatu yang memiliki unsur kimia yang secara fundamental berbeda dari Bumi," kata kepala peneliti, Nikku Madhusudhan.

"Permukaan planet ini ditutupi grafit dan berlian, alih-alih air dan granit."

Planet berlian itu mengorbit bintangnya dengan kecepatan super cepat, yakni 18 jam. Hal itu jauh lebih cepat dari Bumi yang mengorbit Matahari dalam waktu 365 hari.

Dengan suhunya yang luar biasa panas, 3.900 Fahrenheit atau 2.148 derajat Celcius, planet itu tak mungkin ditinggali manusia.

3 dari 6 halaman

3. Planet Harta Karun yang Mengelilingi CEMP

Ilustrasi planet yang terbentuk dari karbon (NASA/SDO)

Kehidupan awal di alam semesta kemungkinan besar telah membentuk planet-planet karbon yang mengorbit bintang dengan kandungan logam rendah, demikian menurut sebuah penelitian yang dipublikasi di Monthly Notices of The Royal Astronomical Society.

Seorang mahasiswa pascasarjana di Harvard University dan penulis utama studi tersebut, Natalie Mashian, serta pembimbingnya Avi Loeb dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, mempelajari bintang karbon miskin logam (CEMP).

Dilansir The Space Respoter, bintang purba tersebut terbentuk sebelum elemen berat terlepas dalam ledakan supernova.

"CEMP adalah fosil dari alam semesta muda. Dengan mempelajari mereka, kita bisa melihat bagaimana planet dan kemungkinan dimulainya kehidupan di alam semesta," ujar Loeb.

CEMP memiliki ratusan ribu level besi seperti Matahari kita. Namun, mereka juga mengandung jumlah karbon yang sangat banyak, di mana butiran debunya dapat menciptakan planet-planet yang terbentuk dari grafit, karbit, dan berlian.

Kebalikannya, Bumi memiliki inti dari besi dan terdiri dari batu silikat yang di atasnya terdapat air, di mana kehidupan dimulai.

Planet karbon kemungkinan memiliki bentuk fisik dan massa yang sama dengan planet-planet mirip Bumi. Hal tersebut membuatnya sulit dibedakan dari kejauhan.

Sifat mereka dapat dideteksi hanya dengan mempelajari atmosfernya, yang kemungkinan besar terdiri dari karbon monoksida dan metana.

 

 

4 dari 6 halaman

4. Lucy, Bintang Berlian Raksasa Seukuran Bumi

BPM 37093 menjelma menjadi katai putih dan bongkahan berlian (Wikipedia)

Sebuah bintang di konstelasi Centaurus, Lucy, diselimuti oleh berlian yang diperkirakan kadarnya 10 miliar-triliun-triliun karat (satu angka diikuti 34 nol).

Tim riset Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics di Massachusetts yang sudah lama menemukan keberadaannya, menyebutnya sebagai massa karbon yang terkristalisasi.

Ia sejatinya adalah katai putih (white dwarf) dari bintang bernama BPM 37093 -- yang ukurannya sebesar Matahari yang kemudian mati karena kehabisan bahan bakar untuk mempertahankan reaksi nuklirnya.

Katai putih dianggap sebagai titik akhir dari evolusi suatu bintang dan merupakan inti bintang di mana reaksi fusi berlangsung. Atau dengan kata lain, bentuk akhir bintang setelah terbakar habis alias mati. White dwarf mayoritas terdiri dari karbon.

Katai putih masih panas dan berdenyut tapi seiring dengan waktu karbonnya mengkristal menjadi berlian.

Yang luar biasa, katai putih juga "berdering" seperti gong raksasa -- yang memungkinkan tim ilmuwan mengukur dan menyelidikinya.

Pada masa depan, Matahari diperkirakan akan seukuran katai putih BPM 37093, setelah sang surya mati sekitar 5 miliar tahun dari sekarang.

Sekitar dua miliar tahun setelahnya, inti Matahari juga akan terkristalisasi, membuatnya menjadi berlian raksasa di pusat tata surya.

"Matahari akan menjadi berlian -- yang abadi," kata Metcalfe.

5 dari 6 halaman

5. Menambang Mineral Berharga di Asteroid

Ilustrasi kegiatan penambangan asteroid (Deep Space Industries)

Luksemburg, sebuah negara kecil di Eropa yang berbatasan langsung dengan Belgia, Jerman, dan Prancis, bergabung dengan perusahaan asal California, Deep Space Industries (DSI).

DSI merupakan perusahaan yang bertujuan untuk menemukan, menambang, dan menyediakan sumber daya asteroid.

Kerja sama tersebut bermaksud menghasilkan pesawat angkasa luar dengan ukuran 30 sentimeter yang dijuluki Prospector-X. Benda canggih itu dirancang untuk menguji teknologi pertambangan asteroid.

Video promosi yang diproduksi tahun lalu oleh Deep Space Industries mempromosikan perluasan pencarian mineral berharga di sistem tata surya kita.

Apa gerangan yang ditambang dari asteroid?

Salah satu perusahaan tambang angkasa, Planetary Resources, mengincar dua hal: platinum dan air.

Platinum adalah kelompok logam yang terdiri dari rutenium, rodium, paladium, osmium, iridium, dan platinum, yang hanya ditemukan dalam konsentrasi rendah di Bumi. Sulit untuk mendapatkannya, itu mengapa harganya luar biasa mahal.

Logam-logam itu tak terbentuk secara kebetulan di kerak Bumi, tetapi ada akibat dampak tubrukan asteroid.

Cadangannya pun luar biasa. Satu batu angkasa kaya platinum dengan lebar 500 meter misalnya, mengandung logam-logam platinum setara dengan yang pernah ditambang dalam sejarah manusia.

Artikel Selanjutnya
Mitos Rambut Buddha di Golden Rock Myanmar
Artikel Selanjutnya
Top 3: Kisah Letusan Dahsyat Gunung Krakatau